Category: Berita

Berikut hasil pencarian Anda. Jika Anda tidak menemukan yang Anda cari, coba gunakan kata kunci lain

Bidang Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu laksanakan Advokasi, Sosialisasi dan Koordinasi Pelaksanaan Imunisasi Campak Rubella Di Provinsi Bengkulu

memberikan perlindungan kepada anak dengan pemberian imunisasi maka cakupan imunisasi harus dipertahankan tinggi dan merata. Cakupan program yang tinggi ini harus diiringi dengan pelayanan yang berkualitas, pelayanan imunisasi yang sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang meliputi kapasitas petugas yang memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang program imunisasi, sarana dan prasarana yang memadai sesuai standar, pengelolaan logistic imunisasi, safe injection, pencatatan dan pelaporan  yang valid dan penanganan KIPI yang tepat. Target Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) tahun 2019 adalah sebesar 93 %. Diharapkan pada akhir tahun target tersebut akan tercapai. Untuk mencapai target tersebut, dalam penyelenggaraan program Imunisasi diperlukan dukungan para pengambil kebijakan dan peran serta masyarakat.  Perlunya advokasi dan koordinasi, pembinaan kader, pembinaan kepada kelompok binaan balita dan anak sekolah, dan/atau pembinaan organisasi atau lembaga swadaya masyarakat terkait memahami tentang kegiatan program imunisasi khususnya tentang pentingnya kegiatan Imunisasi MR. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan cakupan dan mutu imunisasi pada pelaksanaan imunisasi rutin, lanjutan dan BIAS. Adapun tujuan dari diselenggarakannya pertemuan ini adalah memberikan informasi, Advokasi, Koordinasi serta edukasi kepada para pengambil kebijakan pada lintas sektor dan lintas program yang terkait tentang program imunisasi, khususnya tentang pentingnya imunisasi MR untuk mencapai eliminasi campak dan pengendalian rubella / CRS tahun 2020. Kegiatan pertemuan ini telah dilaksanakan pada tanggal 25 s.d 27 September 2019 yang lalu yang mengambil tempat di Hotel Nala Sea Side Jln. Pariwisata No. 13, Kota Bengkulu dengan jumlah peserta sebanyak 74 orang yang terdiri dari peserta yang berasal dari Provinsi sebanyak 14 orang dan peserta yang berasal dari Kabupaten dan Kota sebanyak 60 orang. Adapun Alokasi peserta dapat dilihat dalam daftar dibawah ini : Peserta Provinsi : No Instansi Jumlah 1 Kepala Bidang yang membawahi Kesehatan di Biro Kesra Pemerintahan Provinsi Bengkulu 1 orang 2 Kepala Bidang Dikdas (membawahi siswa/i SD) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Nasional Provinsi Bengkulu 1 orang 3 Kepala Bidang yang membawahi siswa/i Sekolah Dasar di Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu 1 orang 4 Ketua IDAI Provinsi Bengkulu 1 orang 5 Ketua PKK Provinsi Bengkulu 1 orang 6 Ketua yayasan Aisyiyah Provinsi Bengkulu 1 orang 7 Kepala Seksi Promkes  Dinas Kesehatan  Provinsi Bengkulu 1 orang 8 Kepala Seksi Farmasi  Dinas Kesehatan  Provinsi Bengkulu 1 orang 9 Kepala Seksi KIA Dinas Kesehatan  Provinsi Bengkulu 1 orang 10 Staf Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu 5 orang   JUMLAH 14 orang Peserta keseluruhan Kabupaten/Kota :   Kepala Bidang yang membawahi Kesehatan Biro Kesra Pemda Kab/Kota : 1 orang Kepala Bidang Dikdas (yang membawahi siswa/i SD) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Nasional Kab/Kota          1 orang Kepala Bidang yang membawahi siswa/i Madrasah Ibtida’yah Kemenag Kab/Kota : 1 orang Ketua PKK Kabupaten/Kota : 1 orang Kepala Bidang/Kasi yang membawahi Program Imunisasi Dinkes Kab/Kota 1 orang Pengelola Program Imunisasi Dinkes Kab/Kota : 1 orang Dalam pertemuan ini juga di dukung oleh Narasumber dari Kementrian Kesehatan RI Jakarta, ITAGI / Komite Ahli Imunisasi, Komda KIPI provinsi Bengkulu, Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu yang sudah berkompeten yang terdiri dari Kepala Bidang P2P dan Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi dan Pengelola Program imunisasi yang sudah mengikuti TOT Program Imunisasi dengan materi-materi sebagai berikut : Strategi dan Kebijakan Nasional Program Kesehatan di Provinsi Bengkulu Komitmen dan Dukungan kementerian/Lembaga untuk Imunisasi MR menuju Eliminasi Urgensi Imunisasi MR dalam mencegah Komplikasi Campak dan CSR. Evaluasi Imunisasi Rutin dan MR di Provinsi Bengkulu Manajemen Mutu Tatalaksana Program Imunisasi Provinsi Bengkulu Tahun 2019 PD3I dan Upaya Tindak Lanjut. Setelah Pelaksanaan Pertemuan Advokasi, Sosialisasi dan Koordinasi Pelaksanaan Imunisasi MR di Provinsi Bengkulu Tahun 2019, di harapkan nantinya dapat mendongkrak capaian imunisasi secara lengkap dan merata minimal 95%. Disamping itu nantinya para petugas yang berasal dari Lintas Program yang keseluruhan berjumlah 74 orang setelah menerima keseluruhan materi pertemuan dapat meningkatkan cakupan imunisasi rutin lengkap dan juga mempunyai kreatifitas dan inovasi untuk menjaring dan mengarahkan masyarakat yang memiliki anak balita untuk mendatangi fasilitas kesehatan terutama posyandu untuk mendapat pelayanan imunisasi dan pelayanan kesehatan lainnya. Seluruh Siswa/i Sekolah Dasar Sederajat dapat diberikan imunisasi MR secara keseluruhan dengan intruksi, arahan dari Peserta Lintas Sektor yang sudah mendapat penjelasan di pertemuan ini. Ibu-ibu PKK tingkat kecamatan sampai ke ibu kader bisa menggerakkan masyarakat untuk mendapat imunisasi rutin lengkap. Terjalin koordinasi dan komitmen bersama untuk melakukan upaya tindak lanjut jika ditemukan kendala dan masalah. Dengan demikian diharapkan kedepannya sudah terjadi kekebalan individu dan kekebalan kelompok. Menyebarluaskan informasi pentingnya imunisasi anak usia 0 – 24 bulan untuk mencegah terjadinya PD3I. Setelah pertemuan peningkatan mutu pelayanan imunisasi ini dilaksanakan dan cakupan imunisasi rutin lengkap lebih dari 93%, diharapkan nantinya kekebalan individu dan kekebalan kelompok sudah terbentuk sehingga tidak ada lagi anak bayi – balita menderita atau terpapar penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi diantaranya Hepatitis, Polio, Tetanus, Peneumoni, Diftteri, TBC, Campak dan Rubella.  Itu artinya dengan imunisasi adalah cost yang efesien dan efective dalam hal waktu, anggaran dan tenaga dari ancaman penyakit PD3I bagi masyarakat Bengkulu.

Admin Dinkes

Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Selenggarakan Pemutakhiran Data Tenaga Kesehatan Demi Tersusunnya Dokumen Data dan Informasi PPSDM Provinsi Bengkulu Yang Berkualitas

Berbagai upaya kegiatan penyusunan, pengumpulan, pengolahan, pemutakhiran serta analisis data PPSDM Kesehatan telah dilakukan demi menghasilkan database tenaga kesehatan yang berkualitas. Salah satu inovasi yang dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu yaitu melaksanakan Pertemuan Pemutakhiran Data Tenaga Kesehatan Se-Provinsi Bengkulu.  Setelah data telah dimutakhirkan (diup-date) dan dikumpulkan, diperlukan tahapan lebih lanjut sehingga data yang dikumpulkan dapat diolah dan dianalisis. Hasil dari kegiatan-kegiatan tersebut nantinya akan disajikan dalam bentuk Dokumen Data dan Informasi PPSDM Provinsi Bengkulu, yang merupakan kompilasi dari data pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan dari setiap kabupaten/kota se-Provinsi Bengkulu. Sebagai bentuk upaya tersebut dilakukanlah Pertemuan Pemutakhiran data Dokumen Deskripsi Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (PPSDMK) bagi penanggung jawab Data Dokumen Deskripsi PPSDM Kesehatan Provinsi Bengkulu agar diperolehnya data tenaga lebih berkualitas lagi. Adapun tujuan dari kegiatan ini secara umum adalah untuk mewujudkan suatu sistem informasi yang mampu menghasilkan informasi berkualitas, akuarat dan tepat waktu untuk menunjang Pengambilan keputusan di bidang Sumber Daya Manusia Kesehatan. Sedangkan secara spesifik kegiatan ini bertujuan untuk : Pengumpulan Data SDMK Dinas Kesehatan Kab/Kota, Puskesmas, RSUD, Rumah Sakit Swasta, Klinik dan UPTD Kesehatan. Pengumpulan  Bio Data suluruh SDMK di Dinas Kesehatan Kab/Kota, Puskesmas, RSUD, Rumah Sakit Swasta, Klinik dan UPTD Kesehatan. Sebagai bahan Dokumen Deskripsi Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Tahun 2019. Tim Pengelola Data dapat menguplood data yang terbaru serta ter-Up Date 2019. Kegiatan Pertemuan ini di ikuti oleh 32 orang dari berbagai Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang mana pesertanya adalah para pakar pengelola data tenaga kesehatan yang ada di masing-masing unit kerjanya, Adapun secara rinci alokasi peserta yang mengikuti pertemuan ini adalah sebagai berikut : No Kabupaten/Kota Asal Peserta 1. Bengkulu Tengah : 1 org staf pengelola Data SDMK Dinkes Kab.   1 org staf pengelola Data SDMK RSUD Kab. 2. Kapahiang : 1 org staf pengelola Data SDMK Dinkes Kab.   1 org staf pengelola Data SDMK RSUD Kab. 3. Rejang Lebong : 1 org staf pengelola Data SDMK Dinkes Kab.   1 org staf pengelola Data SDMK RSUD Kab. 4. Lebong : 1 org staf pengelola Data SDMK Dinkes Kab.   1 org staf pengelola Data SDMK RSUD Kab. 5. Bengkulu Utara : 1 org staf pengelola Data SDMK Dinkes Kab.   1 org staf pengelola Data SDMK RSUD Kab. 6. Muko-Muko : 1 org staf pengelola Data SDMK Dinkes   Kab.   1 org staf pengelola Data SDMK RSUD Kab. 7. Seluma : 1 org staf pengelola Data SDMK Dinkes Kab.   1 org staf pengelola Data SDMK RSUD Kab. 8. Bengkulu Selatan : 1 org staf pengelola Data SDMK Dinkes Kab.   1 org staf pengelola Data SDMK RSUD Kab. 9. Kaur : 1 org staf pengelola Data SDMK Dinkes Kab.   1 org staf pengelola Data SDMK RSUD Kab. 10. Kota Bengkulu : 1 org staf pengelola Data SDMK Dinkes Kota.   1 org staf pengelola Data SDMK RSUD Kota. 11. RSUD M Yunus : Pengelola Data SDM Kes. RSUD M Yunus 12. RSJKO Bengkulu : Pengelola Data SDM Kes. RSUD RSJKO 13. Rumkit DKT TK.IV Bengkulu : Pengelola Data SDM Kes. Rumkit  DKT TK.IV   Bengkulu 14. Rumkit Bhayangkara TK.III Bengkulu : Pengelola Data SDM Kes. Rumkit Bhayangkara   TK.III  Bengkulu 15. Tim Pengelola Data Dinkes Prov. Bkl : Pengelola Data Dokdes Dinkes Prov. Bengkulu Dalam kegiatan pertemuan ini, selain para peserta yang telah berpengalaman dalam pengelolaan data tenaganya, tak ketinggalan pula di dukung oleh Para Narasumber Ahli dalam bidangnya yang berasal dari Datin BPPSDM Kesehatan Kemenkes  RI, Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, dan Pengolah Data Dokumen Deskripsi SDM Kesehatan Provinsi. Adapun para Narasumber tersebut adalah : No. Nama Keterangan 1. H. Herwan Antoni, SKM,M.Kes.M.Si Kepala Dinas Kesehatan Prov. Bkl 2 drg. H.Edriwan Mansur, MM Kabid Pelayanan Kesehatan  Dinas Kesehatan Prov. Bengkulu 3. dr. Hj. Astri Hernasari, MM Kasie SDM Kesehatan dan Akreditasi Dinkes Prov. Bkl 4. Fathurozi Narasumber Pusat PPSDM Kesehatan Kemenkes RI 5. Markus, S.Kom, MKM Narasumber Pusat PPSDM Kesehatan Kemenkes RI 6. Nanser, SKM Staf Penanggung jawab dan pengelola kegiatan SDM Kesehatan Sedangkan materi yang disampaikan adalah : Sistem Informasi  Sumber Daya Manusia Kesehatan Dokumen Deskripsi  Data Tenaga Kesehatan Migrasi Data dan Cleaning Data Kebijakan Sistem Informasi  SDM Kesehatan Instrumen Pengelolaan Data Aplikasi Web Instrumen Data Aplikasi Dekstop Instrumen Pengelolaaan Data dan Informasi SDMK Pengolahan Instrumen SDM Kesehatan dengan menggunakan Table Pivot Formulir Tenaga Kesehatan dan Rencana Tindak Lanjut.

Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Selenggarakan Pertemuan Peningkatan Kapasitas Pengelola Sistem Informasi Kesehatan Guna Mempertajam dan Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Pengelola SIK

Sistem Informasi Kesehatan yang ada di Provinsi Bengkulu diantaranya adalah berupa media cetak (buku) dan media elektronik yang dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi yang secara umum banyak dijumpai di Kabupaten maupun Kota. Pertemuan ini mempunyai tujuan antara lain : Terbangunnya suatu sistem informasi kesehatan dengan menggunakan prinsip Efisiensi dan Efektifitas semaksimal mungkin dari segi perangkat keras maupun dari segi sumber daya manusia yang akan menggunakan perangkat lunak tersebut. Membantu dalam pengelolaan data dan informasi dan sebagai bentuk berbagai pelaporan yang diperlukan. Terbangunnya suatu sistem database untuk tingkat Kabupaten/Kota, dengan memanfaatkan data-data dari puskesmas. Terjaganya data informasi dari puskesmas dan Dinas Kesehatan sehingga dapat dilakukan analisa dan evaluasi untuk berbagai macam keperluan. Terwujudnya unit informatika di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang mendukung terselenggaranya proses administrasi yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan mendukung pengeluaran kebijakan yang lebih bermanfaat untuk masyarakat. Berbagai kendala dalam dalam Sistem informasi Kesehatan yang dialami di berbagai daerah, menjadi masukkan untuk menentukan pengembangan yang secara umum sering dijumpai di Kabupaten/Kota antara lain : Kendala di bidang Infrastruktur  Akses internet yang sangat minim dan terbatas untuk Pengelola data SIK sehingga untuk operasional aplikasi yang menggunakan media elektronik khususnya system informasi berbasis website cukup menjadi kendala. Disamping itu kualitas jaringan internet yang buruk sangat menghambat proses kegiatan ini karena proses pengelolaan pun ikut terhambat. Selain itu kendala dari sisi sumber daya listrik juga sering menjadi masalah. Di Kabupaten/Kota tertentu sering terjadi pemadaman listrik sehingga pengoperasian komputer menjadi terganggu. Kendala di bidang Manajemen Kurangnya staf pengelola data dan informasi atau petugas SIK atau bahkan unit kerja yang khusus menangani bidang data/ komputerisasi. Hal ini sering dijumpai pada dinas kesehatan di kabupaten/kota. Pada kondisi seperti ini nantinya akan menjadi masalah untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atas data-data yang akan ada, baik dari segi pengolahan dan pemeliharaan data, maupun dari segi koordinasi antar bagian. Kendala di bidang Sumber Daya Manusia Kendala di bidang SDM ini yang paling sering ditemui pada pengelola Sistem Informasi Kesehatan. Banyak staf pengelola data yang belum memahami tata cara dalam pengelolaan Sistem Informasi. Biasanya kemampuan operasional komputer didapat secara belajar mandiri, sehingga tidak maksimal. Belum lagi dengan tupoksi yang tidak sesuai atau memiliki tupoksi ganda sehingga kadang-kadang cukup menjadi kendala dalam pengelolaan sistem informasi kesehatan tersebut. Maksud dan Tujuan Adapun maksud dan tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah : Meningkatkan pengetahuan dan skill Pengelola Data dan Informasi Kesehatan, sehingga memperkuat Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) Provinsi Bengkulu. Menghasilkan data dan Informasi up to date tentang pelaksanaan program kesehatan di Kabupaten/Kota sehingga dapat digunakan sebagai data awal dalam pengambilan kebijaksanaan bagi pimpinan Membantu kelancaran administrasi dan Manajemen Dinas Kesehatan dalam penyusunan laporan mengenai kondisi kesehatan di Daerah masing–masing. Memudahkan dalam hal perencanaan dan evaluasi termasuk pelaporan yang merupakan indikator tingkat keberhasilan program kesehatan. Memudahkan komunikasi data dan informasi dalam koordinasi antara pengelola data dan informasi dan Kabupaten/Kota dengan Pengelola data dan informasi Provinsi Bengkulu, termasuk antar pengelola program kesehatan. Memperjelas komponen unit data yang di perlukan sesuai dengan format data yang ada pada aplikasi berbasis elektronik, sehingga pengelola program dalam mengelola data lebih terfokus pada komponen unit data yang di perlukan. Mampu mengembangkan sistem informasi kesehatan melalui media elektronik dan mempublikasikan informasi tersebut melalui media informasi public seperti website, DIC, Pusat data elektronik dan lain sebagainya. Sedangkan sasarannya adalah : Terciptanya koordinasi yang harmonis diantara pengelola data dan informasi kesehatan Kabupaten/Kota dengan Provinsi. Tersedianya informasi tentang kebijakan pengelolaan dan teknis operasional aplikasi. Adanya koordinasi Pengelola Program Kesehatan Provinsi dengan Kabupaten/Kota terkait pengelolaan Sistem Informasi Kesehatan. Peleksanaan Kegiatan ini telah dilaksanakan pada tanggal 26 s.d 28 September 2019 mengambil tempat di Hotel Splash Bengkulu. Metode dal pelaksanaan pertemuan ini diantaranya : Pertemuan Pengelola Program Dinkes Provinsi terkait Data Kesehatan dengan pengelola data Kabupaten/Kota bertujuan untuk menyamakan persepsi dan menyepakati format data yang digunakan agar sinkron dengan format data yang ada di aplikasi system informasi. Kegiatan ini dilaksanakan dengan mengundang Pengelola Data atau Pengelola Sistem Informasi Kesehatan dan pengelola data Puskesmas Kabupaten/Kota dan penanggungjawab program Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu yang kemudian dilakukan diskusi dan persamaan persepsi format data masing-masing program sesuai dengan format data pada aplikasi. Mengoperasikan aplikasi data (khususnya e-kes) sebagai latihan langsung untuk melihat kendala apa saja yang ditemukan dalam proses entry data kedalam aplikasi data berbasis website (e-kes, dan lain-lain), kemudian membahas dan mencari solusi pemecahan masalah sebagai jalan keluar dari permasalahan yang ada sehingga data yang dimaksudkan tetap dapat di entry. Mensosialisasikan bentuk-bentuk publikasi informasi menggunakan media elektronik seperti website, DIC, pusat data elektronik dan lain-lain yang sekaligus juga mengenalkan peranan IT dalam menunjang system informasi kesehatan tersebut. Diskusi dan Tanya jawab terhadap peserta pertemuan guna mengukur sejauhmana pemahaman peserta dalam pengelolaan system informasi kesehatan, serta mengidentifikasi hal-hal yang menjadi kendala dalam pelaksanaan pengelolaan system informasi kesehatan tersebut di kabupaten/kota masing-masing. Memberikan pemahaman yang akurat mengenai kebijakan satu data kesehatan, dan pentingnya hal tersebut dalam pengelolaan system informasi kesehatan agar sebuah informasi menjadi berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan. Narasumber Dalam pertemuan peningkatan kapasitas pengelola SIK Tahun 2019 ini, mengundang Narasumber, baik dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI dan juga narasumber yang berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu. Adapun Narasumber dari Pusat adalah Aang Abu Azhar, S.Kom. M.Kes yang menyampaikan materi; Aplikasi SPM Bidang Kesehatan tahun 2019, H. Herwan Antoni, SKM, M.Kes, M.Si dari Dinkes Provinsi Bengkulu yang menyampaikan materi; Kebijakan Pengelolaan Data dan Informasi Untuk mewujudkan satu Data Kesehatan, Azhar, SH, M.Kes menyampaikan materi; Kebijakan Satu Data dan Informasi Kesehatan, Faisal Supriadi, SKM, MPH memyampaikan materi; Faisal Supriadi, SKM, MPH, Syamsir, AMK, S.Sos mensosialisasi peranan IT dalam SIK dengan meteri yang berjudul; Pengelolaan Jaringan Local Area Network (LAN) dan tehnis Pengelolaan Website, dan yang terakhir adalah Narasumber dari internal yang juga sebagai pengelola aplikasi e-kes yaitu Bapak Candra, S.Sos yang menyampaikan materi berjudul Reviu E-Kes Tahun 2019. Peserta Peserta pertemuan Peningkatan Kapasitas Pengelola Sistem Informasi Kesehatan ini adalah Penanggungjawab / Petugas/ tenaga pengelola data dan informasi Kesehatan / SIK Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota, Pengelola Data Puskesmas dan Penanggungjawab masing-masing Program Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu. Adapun  peserta pertemuan tersebut adalah sebagai berikut : Peserta Provinsi dan Kota Peserta

Mengapa Dokter Memakai Baju Berwarna Hijau Ketika Operasi

Pernahkah kamu memperhatikan warna pakaian yang dikenakan dokter saat operasi? Ya, mereka mengenakan pakaian serba hijau, atau pakaian berwarna hijau kebiruan. Hmm, kenapa ya para dokter mengenakan baju hijau saat operasi? Kenapa tidak menggunakan baju warna putih seperti jas dokter yang biasa mereka gunakan sehari-hari atau warna lain saja? Ternyata, hal ini disebabkan oleh warna merah pada darah. Ya, tentu saja pada saat operasi, para dokter akan menjumpai banyak darah. Nah, jika para dokter ini terlalu lama berada pada situasi yang penuh dengan darah (warna merah), hal ini dapat menyebabkan halusinasi pada mereka. Melihat warna merah yang terlalu lama dapat menyebabkan timbul halusinasi warna hijau saat seseorang mengalihkan pandangannya ke permukaan yang berwarna putih. Terlalu lama melihat warna merah juga dapat menyebabkan kepekaan seseorang terhadap warna merah berkurang. Akibatnya, seseorang menjadi kurang jelas dalam melihat berbagai benda. Hal ini tentu sangat fatal mengingat dokter perlu mengamati berbagai organ tubuh pasiennya sangat operasi. Untuk itulah, mereka mengenakan warna hijau. Warna hijau dapat membantu para dokter menyegarkan diri dari dominasi warna merah yang mereka lihat dari darah. Warna hijau dapat membantu “menetralkan” warna merah karena warna hijau merupakan lawan dari warna merah dalam roda warna. Sekedar informasi, sebelumnya para dokter mengenakan baju berwarna putih saat operasi, dengan alasan kebersihan. Tetapi, beberapa dokter merasa terganggu konsentrasinya saat mengenakan baju putih dikarenakan hal-hal di atas. Akhirnya, dibuatlah ketentuan bahwa pakaian yang dikenakan dokter saat operasi harus berwarna hijau.

Arti Lambang Recycle Segitiga Pada Botol Botol

1. PET — Polyethylene TerephthalateBiasanya, pada bagian bawah kemasan botol plastik, tertera logo daur ulang dengan angka 1 di tengahnya dan tulisan PETE atau PET (polyethylene terephthalate). Biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Botol Jenis PET/PETE ini direkomendasikan HANYA SEKALI PAKAI,kenapa?Bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air hangat apalagi panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut akan meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker). Di dalam membuat PET, menggunakan bahan yang disebut dengan antimoni trioksida, yang berbahaya bagi para pekerja yang berhubungan dengan pengolahan ataupun daur ulangnya, karena antimoni trioksida masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernafasan, yaitu akibat menghirup debu yang mengandung senyawa tersebut. Terkontaminasinya senyawa ini dalam periode yang lama akan mengalami: iritasi kulit dan saluran pernafasan. Bagi pekerja wanita, senyawa ini meningkatkan masalah menstruasi dan keguguran, pun bila melahirkan, anak mereka kemungkinan besar akan mengalami pertumbuhan yang lambat hingga usia 12 bulan. 2. HDPE — High Density Polyethylene Umumnya, pada bagian bawah kemasan botol plastik, tertera logo daur ulang dengan angka 2 di tengahnya, serta tulisan HDPE (high density polyethylene) di bawah segitiga. Biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu, tupperware, galon air minum, kursi lipat, dan lain-lain. HDPE merupakan salah satu bahan plastik yang aman untuk digunakan karena kemampuan untuk mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik berbahan HDPE dengan makanan/minuman yang dikemasnya. HDPE memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. Sama seperti PET, HDPE juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian, karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu. 3. V — Polyvinyl Chloride Tertera logo daur ulang (terkadang berwarna merah) dengan angka 3 di tengahnya, serta tulisan V — V itu berarti PVC (polyvinyl chloride), yaitu jenis plastik yang paling sulit didaur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. PVC mengandung DEHA yang dapat bereaksi dengan makanan yang dikemas dengan plastik berbahan PVC ini saat bersentuhan langsung dengan makanan tersebut karena DEHA ini lumer pada suhu -15oC. Reaksi yang terjadi antara PVC dengan makanan yang dikemas dengan plastik ini berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan. Sebaiknya kita mencari alternatif pembungkus makanan lain yang tidak mengandung bahan pelembut, seperti plastik yang terbuat dari polietilena atau bahan alami (daun pisang misalnya). 4. LDPE — Low Density Polyethylene Tertera logo daur ulang dengan angka 4 di tengahnya, serta tulisan LDPE – LDPE (low density polyethylene) yaitu plastik tipe cokelat (thermoplastic/dibuat dari minyak bumi), biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek. Sifat mekanis jenis plastik LDPE adalah kuat, agak tembus cahaya, fleksibel dan permukaan agak berlemak. Pada suhu di bawah 60oC sangat resisten terhadap senyawa kimia, daya proteksi terhadap uap air tergolong baik, akan tetapi kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen. Plastik ini dapat didaur ulang, baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat, dan memiliki resistensi yang baik terhadap reaksi kimia. Barang berbahan LDPE ini sulit dihancurkan, tetapi tetap baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemas dengan bahan ini. 5. PP — Polypropylene Tertera logo daur ulang dengan angka 5 di tengahnya, serta tulisan PP – PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik, terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap Carilah dengan kode angka 5 bila membeli barang berbahan plastik untuk menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman. 6 . PS — Polystyrene Tertera logo daur ulang dengan angka 6 di tengahnya, serta tulisan PS – PS (polystyrene) ditemukan tahun 1839, oleh Eduard Simon, seorang apoteker dari Jerman, secara tidak sengaja. PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dan lain-lain. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang dapat mengeluarkan bahan styrene ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Selain tempat makanan, styrene juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari, karena selain berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat pada masalah reproduksi, dan pertumbuhan dan sistem syaraf, juga karena bahan ini sulit didaur ulang. Pun bila didaur ulang, bahan ini memerlukan proses yang sangat panjang dan lama. Bahan ini dapat dikenali dengan kode angka 6, namun bila tidak tertera kode angka tersebut pada kemasan plastik, bahan ini dapat dikenali dengan cara dibakar (cara terakhir dan sebaiknya dihindari). Ketika dibakar, bahan ini akan mengeluarkan api berwarna kuning-jingga, dan meninggalkan jelaga. Sumber: http://eksplorasi-dunia.blogspot.com

Penyakit Terbanyak Dalam Kurun 5 Tahun di Indonesia

1. Obesitas Kelebihan berat badan merupakan pemicu penyakit seperti hipertensi, diabetes, jantung karena timbunan lemak dapat mengganggu fungsi organ. Obesitas dapat menyebabkan berbagai masalah ortopedik seperti nyeri punggung dan nyeri sendi (lutut, pinggul, pergelangan kaki). 2. Demam Berdarah Dengue (DBD) Penyakit yang disebabkan oleh gigitan Nyamuk Aedes Aegypti ini menimbulkan gejala demam akut, mual, muntah, nyeri tulang, bercak merah di kulit. DBD membahayakan karena dapat menurunkan level trombosit penderita dengan drastis. 3. Gagal Ginjal Penyakit ini merupakan kelanjutan dari batu ginjal yang semakin parah sehingga penderita harus melaksanakan cuci darah seumur hidup karena ginjal gagal berfungsi. 4. Katarak Penyakit mata yang disebabkan kekeruhan lensa mata sehingga pandangan berkurang akibat paparan sinar ultraviolet, penggunaan obat seperti steroid, proses penuaan, dan diabetes. 5. Hepatitis Penyakit yang menyerang organ hati ini terjadi karena infeksi virus, obat-obatan, dan alkohol dengan gejala mata dan kulit berwarna kuning, demam tinggi, mual, nyeri perut. Suntik Vaksin Hepatitis A membantu memberikan kekebalan dari penyakit ini. 6. Tifus Penyakit yang disebabkan oleh Bakteri Salmonella dan menyerang saluran pencernaan ketika imunitas tubuh melemah, pola makan yang tidak teratur, dan tingkat kelelahan yang tinggi. 7. Jantung Koroner  Adalah satu dari 20 Penyakit Terbanyak Di Indonesia yang merupakan pembunuh nomor satu di dunia. Gejala yang ditimbulkan yaitu denyut jantung tidak teratur, mual, nyeri, tubuh berkeringat, dan sesak di bagian dada. Penyakit ini terjadi karena pembuluh darah ke jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan. 8. Tuberkolosis (TBC) Penyakit yang disebabkan oleh Kuman TBC ini menyebabkan penderita mengalami batuk berkepanjangan, sesak nafas, nyeri dada, dan dahak berdarah. Penderita harus menjalani terapi pengobatan selama 6 bulan tanpa henti agar TBC tidak pernah kambuh lagi dan penderita tidak berpotensi menularkan penyakit kepada orang lain. 9. Batu Ginjal Kurang minum air putih, sering duduk lama, sering menahan buang air kecil dalam waktu lama, serta konsumsi zat purin secara berlebihan menyebabkan penumpukan batu/kristal di dalam kandung kemih dan menyumbat saluran kemih. Pada stadium awal penderita cukup diberikan antibiotik dan diuretik dan selanjutnya penderita harus menjalankan kebiasaan baik yaitu minum air putih 1,5-2 liter perhari dan jangan menahan berkemih. 10. Diabetes Mellitus (Kencing Manis) Penumpukan kadar gula dalam darah menyebabkan gangguan metabolisme dan produksi Insulin. Anda perlu waspada jika mengalami luka yang sulit kering. Diabetes sesungguhnya tidak berbahaya namun komplikasi yang ditimbulkanlah yang menyebabkan kematian. 11. Hipertensi/Tekanan Darah Tinggi Penyakit ini disebabkan oleh konsumsi makanan berlemak/berkolesterol tinggi berlebihan serta kurangnya aktivitas fisik/olahraga. Hipertensi membahayakan karena menyebabkan stroke, gagal jantung, serangan jantung akibat penumpukan lemak dalam darah. 12. Stroke Pola hidup yang tidak seimbang antara bekerja, berolahraga, dan beristirahat serta kebiasaan buruk seperti merokok dan kecanduan alkohol meningkatkan angka penderita Stroke setiap tahuannya. Penderita diabetes, hipertensi, asam urat harus waspada terhadap Stroke. Pasien sering terlambat ditangani karena baru dibawa ke rumah sakit setelah terjadi serangan Stroke. 13. Kanker Penyakit ini semakin menggejala karena faktor meningkatnya konsumsi makanan cepat saji, polusi udara, tingkat stres tinggi. Kemoterapi seringkali menjadi pilihan satu-satunya bagi penderita kanker untuk menghentikan pertumbuhan sel yang tidak terkendali. Kanker payudara dan kanker serviks masih menjadi “silent killer” bagi wanita Indonesia. 14. Penyakit Paru Kronis Kebiasaan merokok masyarakat Indonesia serta banyaknya warga yang tinggal di kawasan industri dan pemukiman padat penduduk mengakibatkan tingginya angka Penderita Paru Kronis. 15. Diare Separuh penduduk Indonesia masih tinggal di kawasan kumuh dan tidak memiliki sanitasi yang baik. Sayangnya, penanganan Diare sering tidak serius sehingga banyak menyebabkan kematian pada anak dan balita. 16. Tumor Penyakit yang banyak menyerang wanita di perkotaan ini dikarenakan toilet yang tidak higienis, tingkat stres yang tinggi, dan konsumsi makanan berpengawet/berMSG secara berlebihan. Tumor harus segera diatasi agar tidak berkembang menjadi tumor ganas atau kanker. 17. Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) Penyakit yang banyak balita dan anak-anak ini terjadi karena perubahan cuaca dan mengakibatkan penderita mengalami kesulitan bernafas, batuk-batuk, dan nyeri dada. 18. Flu Burung Penyakit yang disebabkan oleh Virus Avian Influenza ini dapat menular melalui udara, makanan/minuman, dan sentuhan dengan penderita atau kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi. Penyakit ini harus segera ditangani karena virus berkembang dengan cepat. 19. Autisme Gangguan perkembangan yang menyebabkan anak sulit berkomunikasi dan bersosialisasi ini disinyalir terjadi karena selama proses kehamilan ibu banyak terpapar zat beracun dan radikal bebas yang menyebabkan kelainan saraf pada anak. 20. HIV/AIDS Penyakit yang belum ada obat dan vaksinnya ini ditularkan melalui hubungan seksual tidak aman tanpa pengaman, transfusi darah, dan penggunaan jarum suntik pada narkoba suntik/tato/tindik. Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Penanggulangan HIV/AIDS dengan deteksi dini dan pemberian obat ARV (Antiretroviral) dapat memperpanjang harapan hidup penderita. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menangani 20 Penyakit Terbanyak di Indonesia ini diantaranya dengan pengendalian masalah tembakau melalui penetapan kawasan tanpa rokok, pengaturan makanan berisiko dengan kandungan gula/garam/lemak tinggi, dan promosi perilaku hidup bersih dan sehat. Namun, upaya pemerintah tidak akan ada artinya bila masyarakat tidak mendukung dengan menjaga kesehatan masing-masing dalam menghindari  20 Penyakit Terbanyak di Indonesia  . Kesehatan sangat mahal harganya karena itu mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Selain itu, miliki asuransi kesehatan untuk melindungi kesehatan Anda dan keluarga dalam jangka panjang sekaligus berfungsi sebagai tabungan dan investasi. sumber: buletinsehat.com Fakta menarik tentang 20 Penyakit Terbanyak Di Indonesia adalah penyakit tersebut bukanlah termasuk kategori Penyakit Tidak Menular (PTM). Penyebab kematian tertinggi dari seluruh penyebab kematian adalah hipertensi (31,7%), diabetes (30,3%), stroke (15,9%), kanker, cedera (7,5%), jantung (7,2%), dan penyakit paru obstruktif kronis yang umumnya menyerang usia produktif. Penyakit-penyakit tersebut dipicu oleh berbagai faktor risiko diantaranya gaya hidup tidak sehat, kurang aktivitas fisik, diet yang tidak sehat, merokok, dan lainnya. Riset Departemen Kesehatan RI menunjukkan bahwa penduduk usia produktif di Indonesia sebanyak 93,6% kurang konsumsi sayur dan buah, 48,2% kurang aktivitas fisik, dan 34,7% merokok setiap hari. Peningkatan angka penderita penyakit ini berdampak negatif bagi ekonomi dan produktivitas karena pengobatannya memerlukan biaya besar dan waktu lama. Diantara penyakit tersebut sebagian besar adalah penyakit kronis yang bisa menyebabkan bencana finansial (kebangkrutan/terbelit hutang) pada diri penderita dan keluarganya.

Menteri Kesehatan RI Hadiri Rakerkesda Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu “Kolaborasi Provinsi Dan Kabupaten/Kota Dengan Dukungan Pusat Dalam Penguatan Pelayanan Kesehatan Menuju Cakupan Pelayanan Kesehatan Semesta”

Rakerkesda  Provinsi Bengkulu merupakan kalender kerja tahunan  Dinas Kesehatan Provinsi dalam rangka untuk menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang dalam pembangunan kesehatan di wilayah provinsi bengkulu. beberapa hari lalu Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu telah menggelar Rapat Kerja Kesehatan Daerah Tingkat Provinsi  Tahun 2019  yang melibatkan  Dinas Kesehatan  se-Kabupaten/Kota yang di gelar selama 3 hari mulai dari tanggal 12 Maret hingga 14 Maret 2019. Hari pertama, rapat kerja kesehatan daerah provinsi bengkulu tahun 2019 dengan tema yang di ambil adalah Kolaborasi Provinsi  Dan  Kabupaten/Kota Dengan Dukungan Pusat Dalam Penguatan Pelayanan Kesehatan Menuju Cakupan  Pelayanan Kesehatan Semesta. Rakerkesda  di awali dengan pebahasan 5 isue pokok strategis bersama Dinas Kesehatan se-Kabupaten Kota se-Provinsi Bengkulu dengan menghadirkan  Narasumber  dari  jajaran Kementerian Kesehatan RI di antaranya  Direktur Pelayanan Kefarmasian Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dengan moderator Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Azhar,SH,M.Kes di dampingi oleh seluruh Kepala Bidang di antaranya: Kepala Bidang Kesmas Nelly Alesa,SKM,M.Si, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dokter Gigi Edriwan Mansyur dan Kepala Bidang P2p Lisenty Bahar. Hari kedua  masih  dengan pembahasan isue strategis di  lanjutkan rapat pleno  antar bidang  atau  kelompok yang nanti akan  di susun dalam rancangan aksi daerah 2019 kali ini yang menjadi narasumbernya adalah dr.Kirana Pritasari Dirjen  Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI. Memasuki hari ketiga Rakerkesda Provinsi Bengkulu Tahun 2019 ini di hadiri langsung  orang nomor satu di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Rapat Kerja Kesehatan  Daerah Provinsi Bengkulu kali  ini merupakan agenda terbesar  tahun 2019. Selain beberapa dirjen dan staf ahli dan pejabat di lingkungan Kementerian Kesehatan RI hadir juga Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof.DR,Dr,Nila Djuwita Anfasa Moeloek, Gubernur Provinsi  Bengkulu Dr,H,Rohidin Mersyah Kepala Dinas Kesehaatan Provinsi Bengkulu H.Herwan Antoni,Skm.M.Kes,M.Si dan seluruh Kepala Dinas Kesehatan dan Pejabat  Kabupaten/Kota Se-provinsi Bengkulu dalam gelaran Rapat Kerja Kesehatan Provinsi Bengkulu  Tahun 2019  merupakan tindak lanjut  dari  Rapat Kerja Kesehatan Nasional yang di gelar beberapa bulan Februari  lalu di Kota Tangerang Provinsi Banten,  Ada 5 pokok isue  strategis  kesehatan yang perlu menjadi fokus pemerintah pusat dan daerah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan di Indonesia terkhusus di Provinsi Bengkulu. Sistem rujukan berjenjang yang di lakukan secara on line ke lima isue yang menjadi pembahasan secara nasional dan sistem rujukan berjenjang yang dapat di emplementasikan yang tertuang dalam rencana aksi derah raflesia. Rencana Aksi Daerah Raflesia Meliputi: 1. Remaja putri,wanita usia subur danibu hamil di berikan tablet tambah darah. 2. Anak di berikan asi ekslusif,imunisasi,vitamin,obat cacing dan stimulasi deteksi instervensi dan tumbuh kembang. 3. Fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan mampu mengatasi  masalah gizi fokus pada 1000 hari pertama kehidupan melalui  pendekatan keluarga yang terintegrasi. 4. Lakukan gerakan masyarakat hidup sehat pada siklus kehidupan 5. Edukasi  gizi keluarga melalui pemberdayaan  kearifan lokal. 6. Survelensi gizi di lakukan secara aktif di posyandu 7. Intervensi secara kasus ibu hamil,gizi kurang dan gizi buruk yang komprehensif. 8. Akses air bersih dan sanitasi lingkungan yang tersedia dan memenuhi syarat kesehatan Lima isue strategis  tersebut adalah : 1. Penurunan angka kematian ibu dan bayi dan balita  (AKI-AKM) 2. Menurukan prepalensi Stunting 3. Eleminsai TBC 4. Peningkatan cakupan kwalitas imunisasi 5. Penurunan penyakit tidak menular (PTM) Khusus provinsi bengkulu di tambah 1 tugas pokok yakni sistem rujukan berjenjang yang di lakukan secara on line