Category: Artikel

Berikut hasil pencarian Anda. Jika Anda tidak menemukan yang Anda cari, coba gunakan kata kunci lain

Rakontek Bidang Kesehatan Masyarakat Provinsi Bengkulu Tahun 2018

Kegiatan ini dilaksanakan mengambil tempat di Ruang Halekoa Grage Hotel Bengkulu menjadi tempat diselenggarakannya Rapat Teknis  (Rakontek) Bidang Kesehatan Masyarakat Tahun 2018 selama 4 hari lamanya dan diikuti 64 orang peserta kepala bidang dan kepala seksi  yang berasal dari dinas kesehatan kabupaten/kota se-Provinsi Bengkulu yang bertugas dijajaran bidang kesehatan masyarakat. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah penguatan, sinkronisasi pusat dan daerah serta menyusun rencana aksi strategis daerah khususnya program kesehatan masyarakat dalam mewujudkan universal health coverage (UHC) melalui percepatan eliminasi Tuberculosis, penurunan stunting dan peningkatan cakupan serta mutu imunisasi. Diawali penyampaian materi oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu (H. Herwan Antoni, SKM., M.Kes., M.Si)  tentang Capaian Program dan Kebijakan Program Kesehatan Masyarakat di Provinsi Bengkulu pada Senin siang sekira pukul 14.30-16.30 WIB. Dilanjutkan materi Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan (drg. Edriwan Mansyur, MM) tentang Penguatan PIS-PK dan Sinergisitas Yankes-Kesmas dalam rangka Eliminasi TBC, Penurunan Stunting dan Peningkatan Cakupan serta Mutu Imunisasi. Malam harinya diisi oleh narasumber pusat yaitu Direktur Gizi Masyarakat (Dr. Doddy Izwardi) tentang Pencegahan dan Intervensi Stunting 2018  dan Percepatan Penurunan Stunting di Provinsi Bengkulu. Dibuka oleh staf ahli gubernur bidang kesejahteraan masyarakat dan sumber daya manusia (Rusdi Bakar, SPd., M.Pd) pada hari Selasa tanggal 27 Maret 2018.  Dalam sambutannya mewakili Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu beliau menyampaikan bahwa, selaras dengan arahan presiden pentingnya sinergisitas/sinkronisasi dan keterpaduan program lembaga kementerian, maka rapat koordinasi teknis program kesehatan menjadi sangat strategis. Pemerintah Provinsi Bengkulu menyambut baik kegiatan ini, karena rakontek merupakan tindak lanjut dari  Rakontek Program Kesehatan  Masyarakat Nasional (tingkat pusat) Tahun 2018 yang digelar pada tanggal 12-16 Maret 2018 di Bekasi. Saat ini pemerintah provinsi telah dan sedang melakukan suatu terobosan dengan melaksanakan program gerakan masyarakat hidup sehat sebagaimana tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017, pemerintah provinsi menindaklanjutinya dengan kebijakan sebagai berikut: 1) Surat Edaran Gubernur Nomor 440/569/Dinkes tentang Germas kepada Bupati/Walikota se-Provinsi Bengkulu; 2) Surat Edaran Gubernur Nomor 440/572/Dinkes tentang Germas kepada Kepala Organisasi Perangakat Daerah (OPD) Pemerintah Provinsi; 3) Perda nomor 4 Tahun 2017 tentang Kawasan Tanpa Rokok; 4) Keputusan Gubernur Bengkulu Nomor G.395.Dinkes Tahun 2017 tentang Pembentukan Forum Germas Provinsi; 5) Keputusan Gubernur Bengkulu Nomor P.107.Dinkes Tahun 2018 tentang Pembentukan Pokjanal Posyandu Provinsi; dan 6) Khusus upaya penurunan stunting kami membuat terobosan berupa Aksi Rafflesia Menuju Bengkulu Bebas Stunting 2030 dengan target 100 desa tahun 2019, 750 desa tahun 2024 dan 1500 desa tahun 2030. Narasumber  dari Kementerian Kesehatan RI yang hadir dalam kegiatan ini antara lain: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Direktorat Jenderal P2P, Direktur Gizi Masyarakat, Direktur  Kesehatan Keluarga, Direktur Promosi Kesehatan Mayarakat, Direktur Kesling dan Kesjaor. Narasumber dari Provinsi antara lain: Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan dan Kepala Bidang P2P. Setelah semua materi disampaikan peserta didampingi kepala seksi dibagi dalam 4 kelompok: 1) kelompok Kesga dan Gizi Masyarakat; 2) kelompok Promosi Kesehatan; 3) kelompok Kesling dan Kesjaor: 4 kelompok Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat. Masing-masing kelompok membahas tentang Rencana Aksi Daerah masing-masing berkaitan penurunan stunting. Out putnya adalah setiap kabupaten/kota membuat Rencana Aksi Daerah dalam rangka penguatan AKSI Rafflesia menuju Bengkulu Bebas Stunting 2030. Diakhir kegiatan ini digelar aksi hiburan berupa kreasi dan inovasi dadakan dari kabupaten/kota berkaitan program yang dipentaskan. Luar biasa menghibur setelah empat hari terprosir dalam kegiatan ini. Aksi ini dibagi dalam 4 kelompok : 1, Rejang Lebong, Bengkulu Selatan dan Bengkulu Tengah menampilkan tarian adat/sekapur sirih yang dimodifikasi dengan promosi program kesehatan; 2) Kepahiang, Mukomuko dan Seluma menampilkan tayangan lagu-lagu dan puisi promosi kesehatan; 3) Kota dan Lebong menampilkan aksi penurunan stunting dalam bentuk drama; 4) Bengkulu Utara dan Kaur menampilkan drama pelaksanaan PIS-PK sanitasi lingkungan. Terpilih sebagai penampilan terbaik adalah kelompok 3 yaitu Kota Bengkulu dan Lebong. Adapun kesepakatan yang dihasilkan antara lain: Melengkapi dan menyempurnakan Rencana Aksi Daerah (RAD) terkait penurunan stunting paling lambat diterima Dinkes Provinsi Bengkulu pada hari Rabu tanggal empat April Dua Ribu Delapan Belas dalam bentuk softcopy. Masing-masing program melaksanakan Rencana Aksi Daerah (RAD) dalam mendukung Aksi  Rafflesia   menuju Bengkulu Bebas Stunting. Meningkatkan koordinasi dan Integrasi lintas program dan lintas sektor dalam upaya penurunan stunting, eliminasi TB dan peningkatan capaian dan mutu imunisasi. Mensosialisasikan pelaksanaan Imunisasi Meales Rubella (MR) kepada petugas Puskesmas di Wilayah kerjanya masing-masing. Meningkatkan koordinasi dan sinergisitas kegiatan dan program terutama di sepuluh desa lokus stunting yang telah ditentukan. Membuat perjanjian kinerja berjenjang sampai ke pengelola program di Puskesmas Mendorong adanya peraturan kepala daerah terkait penurunan stunting        

Lomba Balita Sehat Tingkat Provinsi Bengkulu 2018

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, prevalensi gizi kurang di Indonesia adalah sebesar 19,6%. Selain itu dari data Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2017 di Indonesia, ditemukan status gizi buruk sebesar 3,8% dan gizi kurang sebesar 14%, dan di Provinsi Bengkulu status gizi buruk sebesar 2,3% dan gizi kurang sebesar 11,9%. Berdasarkan data-data tersebut diatas maka masih diperlukan upaya-upaya yang dapat mendukung untuk tumbuh kembang yang lebih optimal bagi anak, salah satunya melalui kegiatan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan yang dilakukan di Posyandu sebagai implementasi dari Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi (Perpres No 42 tahun 2013). Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi merupakan upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat melalui penggalangan partisipasi dan kepedulian pemangku kepentingan secara terencana dan terkoordinasi. Upaya tersebut diantaranya dengan pelaksanaan Lomba Balita yang berjenjang dimulai dari tingkat Kabupaten /Kota sampai ke level Provinsi. Anak terutama balita berkualitas tak hanya diukur dari kesehatannya, tetapi pertumbuhan, perkembangan, perilaku, emosi, spiritual dan kognitif harus berkembang sesuai dengan usianya. Agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, maka orang tua harus memperhatikan sejumlah hal diantaranya faktor biologis yang mencakup nutrisi, imunisasi, kebersihan badan, lingkungan, pengobatan, olahraga dan bermain. Kebutuhan yang lain berupa stimulasi sensorik, motorik, emosi, kognitif, kemandirian dan juga kepemimpinan. Orang tua juga harus dapat memenuhi kebutuhan anak akan kasih sayang sehingga anak bisa mendapatkan rasa aman dan nyaman. Mengingat pentingnya peran orang tua dalam mendidik dan membantu pertumbuhan dan perkembangan anak maka kegiatan Lomba Balita Sehat sangat baik dimanfaatkan sebagai sarana peningkatan kesadaran peran keluarga dalam pemenuhan kebutuhan dasar anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, karena dalam penilaian Lomba Balita tersebut banyak aspek penilaian yang bukan hanya menilai kondisi dzahir balitanya saja akan tetapi menilai peran lingkungannya juga terutama orang tuanya. Pelaksanaan Lomba Balita ini diagendakan sebagai salah satu kegiatan yang masuk dalam Kalender Event Ulang Tahun Emas Provinsi Bengkulu. Tujuan dari dimasukkannya Lomba Balita sebagai salah satu Kalender Event adalah sebagai salah satu upaya untuk mempromosikan Provinsi Bengkulu sebagai daerah unggulan. Kegiatan ini diawali dengan surat pemberitahuan ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota. Pemberitahuan ini mengabarkan tentang akan dilaksanakannya Lomba Balita Sehat Tingkat Provinsi Bengkulu, sehingga perlu diadakannya Lomba sejenis dengan kriteria-kriteria dan ketentuan yang telah ditentukan. Kabupaten/ Kota diharapkan melaksanakan Lomba Balita untuk mendapatkan pemenang dari masing-masing kabupaten/ kota untuk tiap-tiap kriteria. Hal ini dikarenakan peserta Lomba Balita yang akan dilaksanakan adalah Pemenang Pertama dari tiap kriteria di setiap Kabupaten/ Kota. Ketentuan dan format penilaian yang digunakan di setiap kabupaten/kota harus mengacu dengan petunjuk tekhnis yang disampaikan dalam surat pemberitahuan tersebut diatas. Sehingga dalam pelaksanaan di Provinsi semua balita yang dikirimkan adalah yang terbaik dari sepuluh kabupaten/ kota. Persiapan kegiatan Lomba Balita di Provinsi Bengkulu dimulai dengan pembentukan Panitia Induk kegiatan Kalender Event yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Bengkulu Nomor : P.110.B.1 Tahun 2018 tanggal 8 Februari 2018. Panitia Induk tersebut diketuai oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu dengan Surat Keputusan Nomor : 3259/440.III.I.Kes/VII/2018 tanggal 5 Juli 2018 tentang Penetapan Panitia Kegiatan Lomba Balita Sehat Tingkat Provinsi Bengkulu Program Perbaikan Gizi Masyarakat Tahun 2018. Adapun kepanitiaan yang ditentukan mempunyai tugas pokok dan fungsi masing-masing. Pada saat pelaksanaan kegiatan semua anggota tim berpartisipasi aktif dalam mensukseskan kegiatan Lomba Balita dan saling membantu demi kelancaran acara tersebut. Lomba Balita di Provinsi Bengkulu dilaksanakan dengan dua kategori umur 0-23 bulan dan 24-59 bulan, peserta lomba adalah Balita pemenang pertama di masing-masing kabupaten/kota dari tiap kategori. Penilaian balita dilaksanakan oleh tim juri yang terdiri dari dokter anak, dokter gigi, ahli gizi, psikolog dan PKK Provinsi yang mewakili Instansi/ Organisasi. Dokter Anak diwakili oleh dr.Wasis Rohima,Sp.A, Dokter Gigi diwakili oleh drg.Edriwan Mansyur,MM, Persagi diwakili oleh Ahmad Rizal, SKM,MM, Psikolog diwakili oleh Prima Zainayati Putriani,S.Psi dan dari PKK Provinsi Bengkulu diwakili oleh Emmy Yulianti, SST. Kegiatan dilaksanakan pada hari Rabu dan Kamis, 11-12 Juli 2018 yang bertempat di Hotel Madeline Kota Bengkulu. Penjurian dilaksanakan selama dua hari bersamaan dengan Panitia yang melakukan persiapan acara pembukaan Lomba Balita Sehat dengan menyusun layout  ruangan agar memudahkan mobilitas penjurian, anak-anak balita dalam menunggu giliran, serta tamu undangan. Pemasangan spanduk, umbul-umbul serta Photoboth juga dipersiapkan agar acara semakin meriah. Proses penjurian dimulai dengan penilaian status gizi berupa pengukuran tinggi badan/ panjang badan, berat badan dan lingkar kepala untuk menentukan status gizi balita dan wawancara dengan Tim Penggerak PKK Provinsi. Kegiatan penjurian pada hari pertama dilaksanakan sampai pukul 17.30,  selanjutnya peserta dipersilahkan untuk beristirahat menyiapkan diri menghadapi penilaian di hari kedua. Pada hari pertama ini juga dibagikan seragam bagi ibu dan balita untuk dikenakan pada saat perlombaan di esok hari. Bapak Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu berkenan memberikan secara simbolis kepada peserta dan ibu balita pada saat meninjau persiapan lomba balita. Hari Kamis, 12 Juli 2018 adalah pelaksanaan lomba dan acara pembukaan oleh Gubernur. Pukul 08.00 WIB  tim juri sudah mulai melaksanakan penilaian sebelum dilaksanakan acara pembukaan. Tamu undangan sudah mulai berdatangan dan acara Pembukaan dimulai tepat pukul 10.00. Acara dimulai dengan mengumandangkan lagu Indonesia Raya, pembacaan do’a oleh Bapak Saharudin,S.Sos,M.Kes, dan laporan ketua panitia yang disampaikan oleh  Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Ibu Nelly Alesa, M.Si., serta pengenalan Tim Juri. Pembukaan Acara Lomba sedianya dibuka oleh Gubernur Bengkulu namun karena kesibukan Bapak Gubernur maka diwakilkan kepada Bapak Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Bapak H. Herwan Antoni, SKM, M.Kes, M.Si., dalam sambutannya Gubernur menyampaikan bahwa usia balita merupakan “Golden Periode” yaitu periode emas perkembangan otak anak sehingga pada periode ini perlu diberikan perhatian yang lebih baik dari sisi nutrisi, kasih sayang dan juga rangsangan tumbuh kembangnya. Penguatan peran keluarga, pemberdayaan masyarakat serta dukungan multi sektor sangatlah penting, melalui event ini Gubernur mengajak semua pihak untuk bersama-sama berperan aktif sesuai tupoksi masing-masing dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat khususnya di Provinsi Bengkulu. Setelah menyampaikan sambutannya, dilanjutkan dengan pemukulan gong yang menandakan dimulainya acara. Selanjutnya dilakukan foto bersama semua peserta lomba balita beserta ibu. Agar lebih memeriahkan acara dilanjutkan pertanyaan doorprize yang diberikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Tim Penggerak PKK Provinsi Bengkulu, Ketua BKOW Provinsi Bengkulu, Perwakilan Tim Juri dan Ketua Dharma Wanita Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu. Ibu-ibu pendamping Peserta Lomba Balita

Rencana Aksi Kader Kesehatan 211 – Menuju Rejang Lebong Sehat 2021

Oleh : Syamsir, SKM, MKM (Sekretaris Dinas Kesehatan Kab. Rejang Lebong) Permasalahan status kesehatan di Kabupaten Rejang Lebong sampai saat ini masih kompleks. Masih adanya kematian ibu dan bayi serta kematian diakibatkan dari penyakit menular maupun penyakit tidak menular. Peningkatan kasus penyakit tidak menular (hipertensi, DM, stroke, hiperkolesterol, dan asam urat) dan sampai saat ini masih banyaknya penyakit menular seperti ISPA, pneumoni, diare, TBC, demam berdarah, dan penyakit menular lainnya. Berdasarkan survey PSG pertengahan tahun 2017 angka stunting pada balita cukup tinggi (29 %), masih banyaknya kasus gizi kurang dan masih adanya kasus gizi buruk pada balita. Pada tahun 2016 berdasarkan survey yang dilakukan oleh Tim Pengendalian Penyakit Tidak Menular Dinas Kesehatan terhadap 500 orang sampel secara acak ditemukan 37 % hipertensi, 42,3 % hiperkolesterol, 7 % hiperglikemi, asam urat tinggi 20,3 %, dan tingginya IMT sebesar 40,9 %.  Demikian juga berdasarkan hasil kegiatan Tim Program Posbindu Dinas Kesehatan dan Puskesmas terhadap karyawan di perkantoran atau instansi OPD didapatkan hasil yaitu 30 % karyawan menderita hipertensi, 16,9 % hiperkolesterol, 2,7 % hiperglikemia, 29,7 % asam urat tinggi, dan 47,3 % IMT tinggi. Berdasarkan data rawat jalan dari Puskesmas menunjukan bahwa pola penyakit pada semua golongan umur masih di dominasi oleh penyakit-panyakit infeksi (ISPA, diare, DBD, malria, TBC, termasuk HIV) dan menunjukan adanya peningkatan penyakit tidak menular terutama penyakit degeneratif, seperti hipertensi dan diabetes melitus. Hal ini menjadi beban ganda bagi pembangunan kesehatan di Kabupaten Rejang Lebong karena selain penanganan terhadap penyakit infeksi juga mulai melakukan pencegahan terhadap penyakit tidak menular. Demikian juga cakupan kunjungan K4 pada ibu hamil, ibu hamil mendapat Fe, persalinan oleh tenaga kesehatan, pelayanan nifas, cakupan imunisasi TT, imunisasi bayi dan balita, pemberian ASI ekslusif, pelayanan balita, pelayanan pada Lansia, pelayanan pada pasien gangguan jiwa, rumah tangga ber PHBS, rumah sehat, jamban sehat, akses ari minum berkualitas, tempat-tempat umum sehat, kesehatan lingkungan masing-masing Puskesmas masih banyak belum mencapai target. Pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk menjamin setiap warga negara memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas sesuai kebutuhan oleh sebab itu berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Rejang Lebong. Mulai dari regulasi dan kebijakan yang sudah dibentuk pusat maupun daerah seperti RPJMN Kementerian Kesehatan Tahun 2015 – 2019, SPM Bidang Kesehatan, RPJMDKabupaten Rejang Lebong tahun 2016 – 2021, Renstra Dinkes Propinsi Bengkulu dan Renstra Dinkes Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2016 – 2021, serta regulasi lainnya seperti Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017, Permenkes Nomor 39 Tahun 2016 tentang Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga, Edaran Gubernur Bengkulu Nomor 440/569/ Dinkes/2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, instruksi Bupati Rejang Lebong Nomor 843 tentang Pelaksanaan Gerakan Masyarakat Untuk Hidup Sehat, serta Peraturan Daerah Kabupaten Rejang Lebong Nomor 7 Tahun 2017 tentangKawasan Tanpa Rokok. Walaupun pelayanan kesehatan masyarakat tanggung jawab pemerintah namun sebagai kebutuhan dasar setiap individu bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga pada dasarnya pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap kesehatan adalah tanggung jawab setiap warga negara. Oleh sebab itu elemen masyarakat harus mengetahui bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk hidup sehat secara mandiri. Hal ini tentunya perlu peningkatan program pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Upaya program pemberdayaan masyarakat selama ini sudah terbentuk dimasing-masing desa/kelurahan dengan nama kader Posyandu.Jumlah kader Posyandu masing-masing pos di desa/kelurahan sebanyak 4 -5 orang.Namun demikian menurut pengamatan dan analisa penulis upaya ini belum maksimal menyentuh ke tingkat masyarakat terkecil karena kader yang sudah dibentuk 4-5 orang per desa/kelurahan belum dapat menyebarluaskan informasi kepada masyarakat dengan segala keterbatasannya. Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang program kesehatan seperti program KIA, TBC, kesehatan lingkungan, imunisasi, gizi, HIV/AIDS, narkoba, jaminan kesehatan, upaya kesehatan kerja, program gerakan masyarakat untuk hidup sehat (GERMAS), keamanan pangan dan obat-obatan dan program lain yang seharusnya diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Oleh sebab itu perlu adanya terobosan baru dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat dengan cara peningkatan kualitas dan kuantitas kader kesehatan dari tingkat dusun/rt dengan program “RENCANA AKSI KADER KESEHATAN 211 (2 ORANG KADER DALAM 1 DUSUN/RT SETIAP 1 PROGRAM DALAM UPAYA MENINGKATKAN GERAKAN MASYARAKAT UNTUK HIDUP SEHAT MENUJU REJANG LEBONG SEHAT 2021”sehingga program yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan propinsi dan kabupaten dapat langsung diketahui masyarakat dan pada akhirnya dapat diterapkan atau diaplikasikan oleh masyarakat Rejang Lebong sesuai dengan Nawa Cita Presiden program pembangunan mulai dari pinggiran dan meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia yang salah satu program paradigram sehatnya adalah “Gerakan Masyarakat .Untuk Hidup Sehat”. Adapun 14 program inovasi untuk mendukung gerakan masyarakat hidup sehat adalah program kesehatan ibu dan anak, gizi dan ASI, lansia, TBC, Jumantik (DBD dan Malaria), rabies, Posbindu, Upaya Kesehatan Kerja, Jaminan Kesehatan, HIV/AIDS dan Narkoba, keamanan pangan dan obat, imunisasi, kesehatan lingkungan, dan program kesehatan jiwa. Tujuan dari program inovasi ini adalah  1) terbentuknya kaderkesehatan 2 orang dalam 1 dusun/rt setiap 1 program dalam mendukung gerakan masyarakat untuk hidup sehat,terbentuknya tim pengarah / pembina masing-masing tingkatan mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan sampai tingkat desa,tersusunnya uraian tugas dan fungsi masing-masing kader dalam  menjalankan program kesehatan dan mendukung gerakan masyarakat untuk hidup sehat yang disertai dengan format pelaporan masing-masing kader program kesehatan; 2) Tersosialisasinya seluruh program kesehatan dalam mendukung gerakan masyarakat untuk hidup sehat kepada  masing-masing kader kesehatan yang sudah dibentuk, tersosialisasinya tugas dan fungsi kader kesehatan dalam menjalankan program  kesehatan dan mendukung gerakan masyarakat untuk hidup sehat di Kabupaten Rejang Lebong, seluruh kader kesehatan dapat menjalankan tugas dan fungsi dan dapat melaporkan seluruh kegiatan program kesehatan; 3) Target indikator pencapaian RPJMN kementerian kesehatan, Renstra   Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu dan Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong serta program Germas untuk hidup sehat, target indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan 100 % dapat tercapai; 4) Seluruh masyarakat Kabupaten Rejang Lebong dapat mengetahui dan mengaplikasikan seluruh program kesehatan secara mandiri. Manfaat dari program inovasi ini adalah dapat meningkatkan kinerja Dinas Kesehatan dan jajarannya terutama dalam hal pencapaian program kesehatan dan indikator yang ingin dicapai baik indikator RPJMN Kementerian Kesehatan, Dinkes Propinsi Bengkulu dan Dinkes Kabupaten Rejang Lebong serta SPM Bidang Kesehatan, sistem pelaporan lebih mudah terukur dan cepat, dapat lebih meningkatkan pengetahuan masyarakat di bidang kesehatan terutama mendukung gerakan masyarakat

ADVOKASI DANA DESA UNTUK KESEHATAN RAKYAT

Oleh : Hendra Perunata, SKM Didalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No : HK.02.02/Menkes/52/2015 tentang rencana strategis kementerian kesehatan tahun 2015-2019 salah satu butirnya adalah mendorong desa untuk mengalokasi dan memanfaatkan dana desa minimal 10% untuk UKBM. UKBM atau Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat merupakan unit-unit kesehatan yang dikelola langsung oleh masyarakat, sudah sepatutnya mendapat manfaat dari kehadiran ADD. Seperti diketahui didesa sudah berkembang berbagai kegiatan UKBM seperti Poskesdes, Posyandu, Posyandu Lansia, Posbindu, Posmaldes, Pos TB dan sebagainya. Namun demikian perkembangan UKBM yang ada didesa hingga saat ini masih banyak mengalami kendala serta permasalahan sehingga dukungan ADD diharapkan dapat mampu membantu permasalahan yang dihadapi oleh UKBM pada umumnya. Dorongan untuk dapat mengalokasikan minimal 10% ADD bagi kegiatan UKBM tentunya harus didukung oleh semua pihak terkait. Tak terkecuali juga Pengurus Forum Kesehatan Masyarakat Desa (FKMD) serta kader berbagai macam UKBM yang ada. Sehingga masyarakat peduli kesehatan tidak hanya menjadi penonton terhadap pembagian kue ADD. Peran pendamping/fasilitator desa maupun petugas kesehatan diharapkan juga mampu mengawal ADD yang berpihak bagi program kesehatan di desa. Yang harus sesegera mungkin dilakukan adalah mengaktifkan kembali Forum Kesehatan Masyarakat Desa (FKMD) yang selama ini mati suri, untuk memulai kembali pola Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) sebagai wahana diskusi permasalahan kesehatan di masing-masing desa, sehingga diharapkan kegiatan kesehatan yang muncul di APBDesa merupakan upaya untuk mengentaskan persoalan kesehatan serta mengurangi disparitas status kesehatan penduduk didesa,  khususnya dalam upaya mendorong ketersediaan sarana yang menjadi faktor pemungkin (enabling factors) bagi kegiatan kesehatan didesa. Tenaga Kontrak Menemui Kepala Desa  sekecamatan Seginim Satu Persatu Untuk Melakukan Advokasi Dana Desa,  kepala desa sangat merespon dengan baik dan  Menjelaskan usulan Mengenai Dana Desa Untuk Kesehatan Seperti: Pemerian makanan tambahan di posyandu Insintif kader Pembelian alkes untuk cek kesehatan secara sederhana ( alat cek gula darah, kolestrol dll.) Sunatan Masal Pemebelian mesin foging dan obatnya dll. Kepala desa bersedia menganggarkan dana desa untuk dibidang kesehatan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi dana desa.           Advokasi Dana Desa Untuk UKBM Kades Babatan Ulu Kecamatan Seginim dan Kades Dusun Tengah Untuk UKBM Setelah Advokasi Kades,seLanjutnya Menghadiri Undangan Rapat Kerja Pembangunan Desa (RKP DES)  kota bumi baru dengan di hadiri oleh kasi PMD, BABINSA, POLSEK, PUSKESMAS, tokoh agama, tokoh adat, dan masyrakat setempat Dan Mendapatkan Waktu Untuk Menjelaskan Dengan Masyarakat Mengenai Dana Desa Untuk UKBM. Tenaga Kontrak menjelaskan lage mengenai usulan dan manfat dari hal- hal yang di usulkan bagi masyarakat setempat, misalnya adannya insintef kader, dengan adanya kader posyandu balita, lansia KB dll maka kegiatan seperti posyandu akan berlajalan dengan lancar dan semakin meningkat, begitu juga manfaat pembelian mesin foging dan obatnya akan menjadikan desa itu mandiri dalam memberantas nyamuk yang bisa menyebabkan malaria. Dalam hal ini di lakukan perangkingan/diprioritaskan mana yang llebih penting berdasarkan azaz manfaatnya bagi masyarakat  untuk tahun 2018. Beberapa  hal yang sudah dsampaikan oleh tenaga kontrak baik pada waktu advokasi dan rapat RKP desa kepala desa dan perangkat desa sangat antusias dan senang apa yang telah saya sampaikan dan mereka menyetujui beberapa hal usulan dari saya, seperti pembelian mesin voging, anggaran untuk makanan tambahan posyandu, insintif kader dll.          Advokasi dengan kasi PMD tingkat camat kecamatan seginim, Pak ERICO  sangat merespon dengan baik dan turut membantu untuk menjelaskan dgn mempromosikan  kepada kepala desa agar menganggarkan dana desa dibidang kesehatan.     Hasil dari advokasi dana desa di tahun 2018 dari 21 desa dan 1 kelurahan, anggaran dana desa di bidang kesehatan wilayah kerja puskesmas  seginim No Kecamatan Puskesmas Nama Desa Total Dana Desa (Rp) Kegiatan Jumlah anggaran (Rp) % 1 2 3 4 5 6 7 8 (7/5×100) 1  S E G I N I M   S E G I N I M   Mr Pulutan Rp 1.069.028.000 insitive kader posyandu balita Rp12.600.000 3.3% insitive kader posyandu lansia Rp12.600.000 PMT balita Rp6.000.000 Pembelian Tensi darah Rp1.500.000 Pembelian sarana posyandu Rp3.500.000 Jumlah Rp36.200.000 2 Mr Payang Rp. 1.072.171.000 insitive kader posyandu balita Rp6.000.000 1.2% PMT balita Rp600.000 insitive kader posyandu lansia Rp6.000.000 PMT lansia Rp600.000 Jumlah Rp13.200.000 3 Tj Agung Rp. 1.042.916.000 insintive kader posyandu balita Rp12.600.000 4% insitive kader psyandu lansia Rp6.000.000 PMT balita Rp3.600.000 PMT lansia Rp3.600.000 Sunatan Masal Rp8.750.000 Saran Posyandu Rp4.500.000 insitive kader KB Rp3.600.000 Jumlah Rp42.650.000 4 Durian Seginim Rp. 1.136.592.000 insitivw kader posyandu balita Rp6.000.000 2% PMT balita Rp7.200.000 PMT Ibu Hamil Rp1.000.000 Timbangan 2 buah Rp2.000.000 Insitive kader KB Rp6.000.000 Jumlah Rp22.200.000 5 Dusun Baru Rp. 1.069.533.000 sosialisasi GERMAS Rp11.000.000 3.8% insentif kader posyandu balita Rp9.000.000 insentif kader posyandu Lansia Rp5.400.000 Insentif Kader KB Rp5.400.000 PMT Lania Rp3.000.000 PMT balita Rp2.400.000 Pembelian Alkes Rp5.300.000 Jumlah Rp41.500.000 6 Bd Agung Rp. 1.084.126.000 insentif kader posyandu balita Rp9.600.000 3.8% insentif kader posyandu Lansia Rp9.600.000 PMT balita Rp9.000.000 PMT lansia Rp9.000.000 Saran Posyandu Rp4.750.000 Jumlah Rp41.950.000 7 Pajar Bulan Rp. 1.026.542.000 insintive kader posyandu balita Rp15.000.000 8.4% insentif kader posyandu Lansia Rp9.000.000 PMT balita Rp4.800.000 PMT lansia Rp4.600.000 Transpor pelatihan Kader Balita, lansia, KB Rp8.400.000 Sarana Posyandu Rp9.372.000 Penyuluhan Rp3.300.000 sosialisasi GERMAS Rp2.900.000 alat dan sarana olaraga Rp11.000.000 Pembangunan Wc Rp18.000.000 Jumlah Rp86.372.000 8 Dsn Tengah Rp. 1.042.030.000 insintive kader posyandu balita Rp19.200.000 4.6%   insintive kader KB Rp12.000.000   PMT balita Rp2.400.000   Alkes Rp15.000.000   Jumlah Rp48.600.000 9 Pd Siring Rp. 1.045.845.000 insintive kader posyandu balita Rp6.000.000 3.4%   insintive kader posyandu lansia Rp3.600.000   insintive kader KB Rp3.600.000   PMT balita Rp6.000.000   PMT Lansia Rp4.800.000   Penyuluhan NARKOBA Rp3.600.000   Sunatan Masal Rp5.000.000   penyuluhan ancaman penyakit Rp3.000.000   Jumlah Rp35.600.000 10 Suka Raja Rp. 1.022.638.000 Honor  Kader Posyandu Rp9.000.000 1.7% Honor Kader KB Rp5.400.000 PMT balita dan lansia Rp4.000.000 Jumlah Rp18.400.000 11 Sindang Bulan Rp. 1.064.335.000 Mesin voging, obat dan oprasional Rp12.000.000 4.4% Honor Kader Posyandu Rp12.000.000 PMT balita Rp3.000.000 Honor KB Rp3.600.000 Pemungutan Sampah Rp14.400.000 PMT Lansia Rp500.000 transport kader konsultasi ke PKM Rp600.000 pengadaan permainan posyandu Rp1.200.000 Jumlah Rp47.300.000 12 Gunung Ayu Rp. 1.220.881.000 Alkes Rp16.000.000 4.3% Honor Kader Posyandu balita Rp9.600.000 Honor Kader Posyandu Lansia Rp5.900.000 Honor kader KB Rp5.400.000 Honor Kader Posmaldes Rp10.800.000 Kader pembantu suntik Rabies Rp2.400.000 PMT balita Rp3.600.000 Jumlah Rp53.700.000 13 Kt Bumi Baru Rp. 1.054.452.000

Sering Disebut “Ceramah Sehat”

Oleh Miharnuti, SKM Promkes Puskesmas Lungkang Kule Kabupaten Kaur Kalau dengar kata ceramah ingat dengan para imam, kotib atau pengurus masjid lainnya. Ceramah adalah pidato yang bertujuan memberikan nasehat dan petunjuk-petunjuk sementara ada audiensi yang bertindak sebagai pendengar. Entah berawal dari mana masyarakat terutama ibu-ibu pengunjung posyandu setiap saya melakukan penyuluhan kesehatan di bilang ceramah, tapi kali ini penceramahnya seorang promkes dengan bertemakan kesehatan. Salam Germas !!!yes … yes… yes …untuk mengawali setiap penyuluhan saya. Di zaman canggihnya teknologi ini tidak sulit untuk kita mendapatkan berbagai informasi, tetapi tidak di pelosok desa kami dimana jaringan internet yang masih kurang dan juga kepemilikan media informasi belum dianggap penting. Maka dari itu ceramah merupakan salah satu cara untuk menyampaikan informasi secara langsung kepada masyarakat. Karena setiap ceramah saya membahas tentang kesehatan maka masyarakat menyebut saya ceramah sehat atau yang lebih dikenal degan penyuluhan kesehatan. Penyuluhan kesehatan merupakan kegiatan penambahan pengetahuan yang diperutukkan bagi masyarakat melalui penyebaran pesan. Tujuan kegiatan penyuluhan kesehatan yaitu untuk mencapai tujuan hidup sehat dengan cara mempengaruhi prilaku masyarakat baik itu secara individu atau pun kelompok dengan menyampaian pesan. Penyuluhan kesehatan merupakan gabungan dari berbagai kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar sehingga harapannya dengan adanya penyuluhan kesehatan dapat membuat masyarakat lebih sadar akan pentingnya pola kehidupan yang sehat. Sejak tahun 2017 tepatnya di bulan April 2017 saya bekerja sebagai promkes di wilayah  Puskesmas Lungkang Kule Kabupaten Kaur. Dimana salah satu tugas saya menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat di Wilayah Puskesmas Lungkang Kule. Wilayah kerja Puskesmas terdiridari 9 desa, antara lain : Nama Desa dan Jumlah KK di Wilayah Puskesmas Lungkang Kule   No NamaDesa Jumlah KK 1 LawangAgung 149 2 TanjungKurung 170 3 Sukananti 113 4 AurGading 102 5 SinarBulan 137 6 Senak 138 7 TanjungBunian 183 8 DatarLebar I 157 9 DatarLebar II 120 Jumlah 1269   Di Wilayah Kerja Puskesmas Lungkang Kule terdapat juga beberapa instansi- instansi, antara lain : Nama-nama Instansi di Wilayah Puskesmas Lungkang Kule No NamaInstansi AlamatDesa 1 SMPN 14 Kaur Senak 2 SDN 22 Kaur Sukananti 3 SDN 36 Kaur Sinar Bulan 4 SDN 66 Kaur Tanjung Kurung 5 SDN 54 Kaur Datar Lebar II 6 SDN 82 Kaur Lawang Agung 7 SMAN 9 Kaur LawangAgung 8 RA Hasanah Tanjung Kurung 9 PAUD BuahHatiBunda Senak 10 PAUD PGRI TanjungKurung 11 PAUD Darusalam Datar Lebar I 12 PAUD Haqiqi Aur Gading 13 PAUD Kartini Tanjung Bunian 14 PAUD Al-Taqwa Lawang Agung Di wilayah ini setiap bulannya saya melakukan penyuluhan  terkhusus dengan para pengunjung posyandu, anak-anak sekolah, dan juga para remaja. Penyuluhan yang dilakukan selalu berjalan dengan lancer atas bantuan para kader dan juga izin dari perangkat desa setempat. Beberapa materi kesehatan yang sudah saya sampaikan yaitu sebagai berikut : PHBS Di Posyandu saya menyampaikan materi PHBS pada umumnya masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Lungkang Kule ini belum mengerti apa itu PHBS ???  PHBS adalah singkatan dari Prilaku Hidup Bersih dan Sehat, yaitu terdiri dari 10 perilaku yaitu : (1) Mintalah pertolongan persalinan dengan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan agar ibu dan bayi Selamat dan sehat (2)  BERILAH BAYI ASI SAJA dari Usia 0-6 Bulan Agar Bayi tumbuh sehat dan tidak mudah sakit (3) TIMBANGLAH BAYI DAN BALITA SETIAP BULAN DI POSYANDU Agar terpantau pertumbuhan dan perkembangannya (4) MARI KITA BERGOTONG ROYONG UNTUK TERSEDIANYA AIR BERSIH DI LINGKUNGAN KITA agar terhindar dari penyakit kulit kecacingan dan muntahber (5) MARI KITA BIASAKAN BUANG AIR BESAR (BAB) DI JAMBAN SEHAT agar terhindar muntaber di lingkungan kita. (6) AYO, BIASAKAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN DENGAN AIR BERSIH DAN MENGALIR agar bersih dan tidak mudah sakit (7) JADIKAN RUMAH BEBAS JENTIK NYAMUK DENGAN 3M PLUS yaitu : menguras, menutup, mengubur dan menghin dari gigitan nyamuk (8) AYO, MAKAN SAYUR DAN BUAH SETIAP HARI agar terhindar dari penyakit stroke, tekanan darah tinggi, diabetes dan kanker. (9) AYO LAKUKAN AKTIVITAS FISIK MINIMAL 30 MENIT SETIAP HARI agar terhindar dari penyakit jantung, stroke, osteoporosis, darah tinggi, diabetes dan kanker. (10) JADIKAN RUMAH KITA BEBAS ASAP ROKOK, agar anggota keluarga terhindar dari bahaya 4000 racun rokok.   Alasan kenapa harus melakukan PHBS karena sehat itu murah dan sakit itu mahal, adapun manfaatdari PHBS. Setiap anggota keluarga meningkat kesehatannya dan tidak mudah sakit. Anak tumbuh sehat dan cerdas Produktivitas kerja anggota keluarga meningkat. Pengeluaran biaya rumah tangga dapat difokuskan untuk pemenuhan gizi keluarga, pendidikan dan  modal usaha untuk peningkatan pendapatan keluarga setelah melakukan penyuluhan tentang PHBS diharapkan masyarakat mengerti dan menerapkan di kehidupan sehari-hari.   MENCEGAH STUNTING Selain tentang PHBS, kasus stunting di kabupaten Kaur termasuk tinggi terdapat 10 desa yang termasuk dalam daftar daerah locus stunting.  Puskesmas Lungkang Kule ada satu desa yang termasuk locus stunting yaitu Desa Datar Lebar II, untuk mencegah terjadinya stunting maka tema ceramah kali ini tentang STUNTING. Stunting (Status Gizi Pendek) adalah kondisi dimana anak mengalami gangguan pertumbuhan, tubuh anak cenderung lebih pendek dari anak seusianya. Balita pendek yang dapat diketahui bila seorang balita sudah diukur panjang dan tinggi badannya  lalu dibandingkan dengan standar dan hasilnya dibawah normal. Kasus balita stunting di Indonesia mencapai37,2% (Riskesdas,2013) atau hampir 9 juta atau lebih dari sepertiga balita di indonesia mengalami stunting. Dampak stunting :menyebabkan gangguan jangka pendek yaitu gangguan otak, kecerdasan, fisik, dan metabolisme, contohnya: mudah sakit, gangguan kognitif, motorik dan bahasa, mudah lelah dan tidak lincah, sulit bersaing/berprestasi dan juga pertumbuhan tidak maksimal. Selain gangguan jangka pendek stunting juga menyebabkan penyakit yang kronis saat dewasa  seperti diabetes, jantung, kanker, obesitas dll. GEJALA STUNTING pad aumumnya yaitu: berat badan anak tidak naik dan cenderung turun, Perkembangan tubuh terlambat (telat mentruasi pertama) dan mudah terkena penyakit infeksi. Asupan gizi tidak tercukupi (ASI atau MP-ASI kurang mengandung zat gizi yang berkualitas). STUNTING dapat dicegahdari1000 HPK (hari pertama kehidupan), dimulai dari Janin hingga balita usia 2 tahunyakni :270 hari (9 bulan) masa kehamilan ibu, ditambah 730 hari (usia 0- 2 tahun) setelah anak lahir atau yang sering disebut masa PERIODE EMAS yang tidak dapat tergantikan. Hal ini dapat di capaidengan: Ibu rutin memeriksakan kehamilan ke fasilitas kesehatan. Ibu rutin minum tambet tambah darah (90 tablet selama kehamilan) Pemenuhan gizi untuk ibu hamil Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dilanjutkan sampai 2 tahun Pemberian Pendamping ASI (MP-ASI) untuk bayi > 6 bulan Rutin mengikuti posyandu

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)

Pos Pelayanan Terpadu (posyandu) merupakan wahana pemberdayaan masyarakat, yang dibentuk dan dikelola oleh masyarakat, dengan bimbingan dari petugas puskesmas, lintas sector, dan lembaga terkait lainya untuk menyelenggarakan lima program prioritas secara terpadu pada suatu tempat yang sama guna meningkatkan kemampuan masyarakat agar hidup sehat. Meskipun posyandu bersumberdaya masyarakat, pemerintah tetap ikut andil terutama dalam hal penyediaan bantuan teknis dan kebijakan. Melalui posyandu diharapkan terjadinya peningkatan status gizi anak dan teridentifikasinya dengan cepat kasus kurang gizi pada anak dan kasus lain di beberapa provinsi Indonesia. Berdasarkan hasil kunjungan ke posyandu, ternyata posyandu belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat sebagai tempat mengupayakan pemenuhan kebutuhan kesehatan dasar dan peningkatan status gizi anak. Sebagai promotor kesehatan inilah tugas dan tanggungjawab kita agar kegiatan posyandu berjalan dengan semestinya. Manfaat Posyandu Bagi Masyarakat.  Pertumbuhan anak balita terpantau sehingga tidak menderita gizi kurang atau gizi buruk.  Bayi dan anak balita mendapatkan kapsul Vitamin A.  Bayi memperoleh imunisasi lengkap.  Ibu hamil akan terpantau berat badannya dan memperoleh tablet tambah darah (Fe) serta imunisasi Tetanus Toksoid (TT).  Ibu nifas memperoleh kapsul Vitamin A dan tablet tambah darah (Fe).  Memperoleh penyuluhan kesehatan terkait tentang kesehatan ibu dan anak.  Apabila terdapat kelainan pada bayi, anak balita, ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui dapat segera diketahui dan dirujuk ke puskesmas.  Dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang kesehatan ibu, bayi, dan anak balita Berdasararkan hasil survey yang saya laksanakan sebagai tenaga promotor fungsi dan kinerja posyandu secara umum masih belum menunjukkan hasil yang optimal. Terbukti masih banyak orang tua balita belum memanfaatkan pelayanan posyandu, selama ini orang tua enggan untuk mengikuti kegiatan posyandu di desanya, keengganan ini disebabkan beberapa alasan misalnya , posyandu tidak bisa menyembuhkan anak sakit, posyandu membuang waktu, saat anak di imunisasi anak akan demam, dan orang tua sendiri kurang mendapatkan informasi yang cukup tentang posyandu selama satu decade terahir terjadi penurunan cakupan kedatangan ibu yang membawa balitanya keposyandu. Padahal kita tahu bahwa posyandu sangat banyak manfaatnya bagi para ibu, bayi dan balita. Untuk menyikapi hal di atas saya sebagai promotor sangat menyayangkan hal ini terjadi di lingkungan masyarakat kita, ternyata di tahun 2018 masih ada orang tua balita yang tidak mau datang keposyandu, langkah yang saya lakukakan untuk menyikapi hal ini adalah , 1. Mengkondisikan lingkungan posyandu yang nyaman 2. Menginformasikan pentingnya kegiatan posyandu manfaat dan tujuan posyandu 3. Mengadvokasi para kader, perangkat desa, agar posyandu di desa mereka terasa menggairahkan 4. Memberikan reward kepada ibu balita yang rajin datang keposyandu.

Peningkatan Mutu Petugas Pelayanan Medik Dan Sarana Kesehatan Melalui Kegiatan Pertemuan Oleh Dinkes Provinsi Bengkulu

Kegiatan Peningkatan Mutu Petugas Pelayanan Medik Dan Sarana Kesehatan yang di motori oleh Seksi Sumber Daya Kesehatan Dinkes Provinsi Bengkulu mengambil tempat di Hotel Splash Bengkulu, Jl.Jend. Sudirman No 31 Pintu Batu Kota Bengkulu selama 3 (tiga) hari. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan sasaran seluruh Rumah Sakit di Provinsi Bengkulu yang berjumlah 22 yang ditujukan untuk tenaga kesehatan yaitu perawat dan tenaga Kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit serta seluruh masyarakat yang menggunakan pelayanan kesehatan tersebut. Peserta Pertemuan ini di ikuti 26 orang peserta yang berasal dari Kabupaten/Kota sebanyak 20 orang dari Penanggung jawab Program terkait Akreditasi Rumah Sakit dan penanggung Jawab Akreditasi Rumah Sakit itu sendiri. Sedangkan unsur dari Provinsi sebanyak 6 orang dari unsur Penanggung Jawab Akreditasi Rumah Sakit dari RS.M.Yunus, Penanggung Jawab Akreditasi Rumah Sakit dari RSJKO, dan Penanggung Jawab Akreditasi Rumah Sakit dari Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu. Adapun nama-nama peserta yang mengikuti acara tersebut dapat di lihat dalam daftar dibawah ini. NAMA PESERTA INSTANSI – Maspin Bahri, SKM Dinkes Kab. Benteng – Yoki Hermansyah, SKM, MPH RSUD Kab. Benteng – Endang Kurniawan, SKM Dinkes Kab.Bengkulu Utara – Nia Pradifta Setyowati, SKM RSUD Arga Makmur Kab. Bengkulu Utara – H. Sutikno, SKM, MARS Dinkes Kab. Kepahiang – Ria Angraini, SKM RSUD Kab. Kepahiang – Tati Suprihatin, SKM Dinkes Kab. Seluma – Sugeng Irawan, SKM, MPH RSUD Tais Kab. Seluma – Afrizal.B,SKM Dinkes Kab. Rejang Lebong – dr. Honey Rossa Nita RSUD Kab. Rejang Lebong – Apriza Widya Damayanti, M.Keb Dinkes Kab. Bengkulu Selatan – dr. Debi Utomo RSUD HD Manna Kab. Bengkulu Selatan – Sasmin Itadi Suharto, SKM, MKM Dinkes Kab. Kaur – Gusmidiansyah, SKM RSUD Kab. Kaur – Hizbullah Noprian, SKM Dinkes Kab. Lebong – dr. Esther Meylina Sipahutar RSUD Kab. Lebong – Sumardi Kusumajaya, SKM Dinkes Kab. Muko-Muko – Jajat Sudrajat, SKM RSUD Kab. Muko-Muko – Ratna Djuita Sari, SKM, M.Si Dinkes Kota Bengkulu – Nurul Palupi, S.Kep RSUD Kota Bengkulu – Mesmi Yunarni, S.Sos, M.Si Dinkes Prov Bengkulu – Faradilla Sary, SE, M.Si Dinkes Prov Bengkulu – Eva Susanti, SST, M.Kes Dinkes Prov Bengkulu – Lina Rista Dianah, SKM Dinkes Prov Bengkulu Kegiatan Pertemuan ini di dukung oleh beberapa Narasumber Profesional di bidangnya diantaranya : – H. Herwan Antoni, SKM, M.Kes, M.Si – Azhar, SH, M. Kes – drg. H. Edriwan Mansyur,MM – dr. Hj. Astri Hernasari, MM – Dr.Siti Amanah, Sp.A Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui sistem ceramah dan diskusi interaktif dengan narasumber dari RS M.Yunus Provinsi Bengkulu dan dari Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu. Hari Pertama acara tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Bapak H. Herwan Antoni, SKM. M. Kes. M. Si yang di lanjutkan dengan penyampaian materinya tentang Kebijakan Akreditasi dan Perumahsakitan di Indonesia. Pada kesempatan ini diberikan kesempatan untuk bertanya, namun tidak ada yang bertanya peserta pada kesempatan ini hanya sharing pengalaman saja. Materi selanjutnya dari narasumber dinkes provinsi bengkulu yaitu Bp. Azhar, SH, M.Kes yang memaparkan tentang materi DAK Non Fisik. Dari penjelasan materi oleh narasumber didapatkan beberapa usulan atau masukan, pertanyaan maupun informasi dari peserta. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan saat pemaparan tersebut, diantaranya dari peserta Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Tengah. Pertanyaannya adalah ; “Untuk Dana DAK Provinsi tidak bisa digunakan untuk Re-Akreditasi Dana DAK Pendamping Kabupaten sangat Minim sedangkan Puskesmas dan Rumah Sakit sudah harus terakreditasi dana sebesar itu? Dan 650 juta dana Akreditasi Kabupaten mengeluarkan dana sebesar itu? Alokasi dana tidak sesuai dengan peruntukanya”. Bapak Azhar, SH, M.Kes menjawab “Alokasi dana DAK dari pusat diperuntukkan untuk daerah tidak bisa merubah dari juknis DAK (dana Pendamping) sedangkan untuk daerah dana APBD”. Setelah Ishoma, peserta kembali menerima materi dari narasumber dinkes Provinsi yaitu Ibu dr. Hj. Astri Hernasari, MM yaitu Evaluasi Akreditasi RS. Hari Kedua adalah lanjutan dari materi sebelumnya yaitu tentang Evaluasi Akreditasi RS. Hanya saja metodanya adalah Focus group Discution. Setelah coffe break peserta menerima materi dengan metoda ceramah oleh Narasumber dari Dinkes Provinsi Bengkulu yaitu Bapak H.drg. Edriwan Mansyur, MM dengan materi Strategi Dinkes Provinsi dalam Akreditasi RS di Provinsi Bengkulu. Materi selanjutnya diberikan oleh Narasumber dari RS. M.Yunus Provinsi Bengkulu yaitu Ibu. dr.Siti Amanah, Sp.A dengan materi Akreditasi pada SNARS RS Edisi 1. Setelah ISHOMA materi masih dilanjutkan dengan materi sebelumnya yaitu : materi Akreditasi pada SNARS RS Edisi 1 oleh Narasumber dari RS. M.Yunus Provinsi Bengkulu yaitu Ibu. dr.Siti Amanah, Sp.A. Dari penjelasan materi oleh narasumber didapatkan beberapa usulan atau masukan, pertanyaan maupun informasi dari peserta diantaranya : dari RSUD Kabupaten Bengkulu Tengah ; “RSUD Kabupaten Bengkulu Tengah belum diakreditasi Apakah di edisi SNARS?”. Kemudian narasumber menjawab ; “Langsung siap dengan SNARS 16 Progsus tidak ada lagi. Jika ada workshop diikuti saja”. Setelah coffe break sore materi dilanjutkan kembali. “Bagaimanakah nasib 10 kabupaten/Kota yang sudah berubah? Sistem KARS/NARS kalo bisa Provinsi bisa mengadakan workshop agar berkas tidak tercecer. Narasumber menjawab : Sistem Regulasinya harus dibenarkan dulu dilengkapi dulu apa yang diinginkan Standar. Setelah dokumen-dokumennya sudah pas. Kalau ada yang mau dirubah maka ada revisi dokumen bukan harus dirombak seluruhnya, melainkan melihat lagi yang dulu sudah lengkap apa belum dengan yang diminta regulasinya Hari Ke Tiga pada jam pertama materi yang diberikan oleh narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu adalah Ibu Hj. Sumidartianah, S.Kep.MM.NS dengan materi Tatalaksana Survey Akreditasi RS. Setelah coffe break materi yang diberikan oleh Narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu yaitu dr. HJ. Astri Hernasari, MM. Pada materi ini narasumber menjelaskan tentang tujuan, komponen dan syarat pembuatan RTL serta merangkum RTL tersebut sehingga menjadi sebuah kesepakatan. Setelah semua materi diberikan dan peserta telah menuliskan format Rencana Tindak Lanjut (RTL), Kegiatan Peningkatan Mutu Petugas Pelayanan Medik Dan Sarana Kesehatan Di Provinsi Bengkulu Tahun 2018, di tutup oleh Kepala Seksi SDMK dan Akreditasi Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu (Ibu. Hj. dr. Astri Hernasari, MM)

Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Akan Melakukan Monitoring & Evaluasi dalam Kegiatan Nusantara Sehat Bulan April – Desember 2018

Program Nusantara Sehat (NS) bertujuan untuk mewujudkan layanan kesehatan primer yang dapat dijangkau oleh setiap anggota masyarakat, terutama oleh mereka yang berada di wilayah-wilayah terpencil di berbagai pelosok Nusantara.Nusantara Sehat merupakan suatu program dari kemenkes RI Pusat. Program ini untuk memenuhi kekurangan tenaga di fasilitas pelayanan kesehatan terutama di daerah terpencil berbatasan dan kepulauan yang belum tersedia tenaga kesehatan strategis seperti; Tenaga dr/drg, tenaga Bidan, Perawat, gizi, Farmasi, Analis Laboratorium dan tenaga Kesehatan masyarakat. Kegiatan Monev Pelaksanaan Nusantara Sehat merupakan suatu kegiatan dalam rangka peningkatan status derajat kesehatan di Provinsi Bengkulu khususnya di Kabupaten yang  telah ditempatkan Nakes Nusantara Sehat, perlu adanya monitoring dan evaluasi sudah sampai sejauh mana program tersebut dilaksanakan,  program ini untuk meningkatkan kualitasdankuantitas penyelenggaraan yang dilaksanakan di Kabupaten tersebut, sehingga  Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu melakukan monev dalam hal penempatan dan pendistribusian tenaga kesehatan Nusantara Sehat di Provinsi Bengkulu, hal ini untuk melihat sampai sejauh mana program ini terlaksana,  sehingga sebagai bahan untuk pengajuan dalam kuota pemenuhan tenaga kesehatan Nusantara Sehat yang belum terpenuhi. Output dari program ini agar menemukan permasalahan yang ada di Lokus penempatan baik itu menyangkut tempat tinggal, akomodasi serta sarana alat kesehatan Tenaga kesehatan Nusantara Sehat yang berada di Kab/Kota Provinsi Bengkulu dan permasalahan yang menyangkut Lingkungan yang ditempati tenaga NS yang sudah melaksanakan masa pengabdian sebagai peserta tenaga Nusantara Sehat. Sedangkan kegiatan ini bermaksud untuk mengetahui jumlah Tenaga, jumlah kebutuhan dan permasalahan dalam penempatan tenaga Nusantara Sehat di Provinsi Bengkulu yaitu Kab. Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan, Kaur, Lebong sebanyak 11 (sebelas) Puskesmas. Pelaksanaan kegiatan Monitoring dan Evaluasi tenaga Nusantara Sehat se-Provinsi Bengkulu oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu dilaksanakan mulai pada bulan April s/d Desember Tahun 2018 dengan menggunakan dana bersumber APBD Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Tahun Anggaran 2018 yang di koordinir oleh Seksi SDMK dan Akreditasi Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu. https://dc705.4shared.com/img/rSXfHY7wee/s24/1655a9eb090/IMG-20180809-WA0041?async&rand=0.5010266401462731  

Profil Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu

Oleh: Supardi, SH., M.Kes Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu yang dilantik oleh Gubernur Bengkulu pada 29 Maret 2017 adalah H. Herwan Antoni, SKM., M.Kes., M.Si. Sebelumnya beliau menjabat Kepala Dinas Kesehatn Kota Bengkulu dan  terpilih setelah mengikuti proses lelang jabatan yang digelar Pemerintah Provinsi Bengkulu. Dilahirkan di Desa Tunas Harapan Kabupaten Rejang Lebong empat puluh lima tahun yang lalu dari pasangan petani H. Zainul Bakri  dan Hj. Dalima. Mengenyam pendidikan sekolah dasar sampai dengan SLTA di Curup, yaitu: SDN 23 Tunas Harapan Curup tamat tahun 1986; SMPN 1 Curup tamat tahun 1989; SMAN 1 Curup tahun 1992. Melanjutkan jenjang pendidikan D III Gizi di Akademi Gizi Depkes Palembang, tamat tahun 1995. Meniti karir sebagai CPNS dengan pangkat golongan II/b dan ditugaskan di Puskesmas Muara Aman pada tahun 1997 sebagai tenaga gizi puskesmas. Selanjutnya berkesempatan mengikuti tugas belajar di Universitas Indonesia dan memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat tahun 2002. Kembali mendapat kesempatan tugas belajar di Universitas Gadjah Mada tahun 2005 dan menyadang gelar Magister Kesehatan Masyarakat pada tahun 2005. Sekembalinya dari pendidikan beliu dipercaya menjadi Kepala Seksi Kesga dan Gizi  di Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong tepatnya 26 Oktober 2005. Disela-sela kesibukannya beliau menyempatkan diri mengikuti pendidikan Magister Pemerintahan Daerah STIAMI Jakarta yang lulus Tahun 2008. Jabatan berikutnya adalah Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dan Farmasi 28 Oktober 2009, sebagai Sekretaris Dinas Kesehatan pada 22 November 2010 dan menjadi PLT. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong pada 27 September 2011. Suami dari Mardliyataini. HS, SST, SKM  yang berprofesi sebagai ASN kesehatan ini,  dilantik sebagai Kepla Dinas Kesehatan Kota Bengkulu pada 12 Januari 2015 dan bertahan sekitar dua tahun hingga akhirnya dilantik menjadi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu pada 29 Maret 2017. Prinsip yang diyakininya ialah bekerja dengan penuh dedikasi, disiplin dan amanah yang menghantarkan ayah dari 3 orang anak, yakni: 1) Zahran Dzaki Salsabil  yang berstatur pelajar SLTA; 2) M. Irsyad Alfarouq berstatus sebagai murid SD IT Rabani Bengkulu dan Arifah Zakiyyah Urfa  meraih jabatan fungsional teknis tertinggi di Provinsi Bengkulu.   Motto: Bekerja dengan penuh dedikasi, disiplin dan amanah. All out dalam setiap mengikuti kegiatan apapun.   Curikulum vitae: Nama             : H. Herwan Antoni, SKM.,M.Kes., M.Si Ttl                : Tunas Harapan Kec. Curup, 08-10-1973 Pendidikan :   S2 Magister Pemerintahan Daerah STIAMI Jakarta Tahun  2008 S2 Magiister Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada 2005 S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia 2002 SMAN 1 Curup Tahun 1992 SMPN 1 Curup Tahun 1989 SDN 23 Simpang Empat Curup Tahun 1986 Diklat        :   1.    Dikat PIM IV Tahun 2007 Diklat PIM II Tahun 2016 Diklat Teknis Enumerator PMT-AS Tahun 1998 Diklat Teknis Rujukan Kasus Gizi Puskesmas Tahun 1998 Diklat Teknis Pojok Gizi Puskesmas Tahun 1998 Diklat Teknis Konseling Gizi bagi Petugas Puskesmas Tahun 1998 Diklat Teknis Pengadaan Barang dan Jasa Proyrk DHS 1-ADB Provinsi Bengkulu Tahun 2007 Diklat Teknis Manajemen Mutu dan Pelayanan Kesehatan Tahun 2008 Diklat Teknis Riskesdas Tahun 2010 Diklat Teknis Training Of Surveyor Metode Tahun 2010 Diklat Teknis STBM tahun 2011   Riwayat Jabatan : Kepala Seksi Gizi dan Institusi Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong 26-10-2005 s.d. 28-11-2009. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dan Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong 28-11-2009 s.d. 19-10-2010. Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong 19-10-2010 s.d. 27-09-2011 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong 27-09-2011 s.d. 15-04-2013 Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu 12-01-2015 s.d. 06 April Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu o6 April 2017 sampai dengan sekarang.     Alamat      :   Rumah Dinas Kesehatan Jalan Indra Giri No. 2 Padang Harapan Bengkulu. Istri         :   Mardliyataini HS, SST, SKM (ASN Pemprov. Bengkulu) Anak         :   3 orang (Zahran Dzaki Salsabil M. Irsyad Alfarouq dan Arifah Dzakiyyah Ulfa).    

Peningkatan Upaya Kesehatan Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Dermayu Melalui Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)

Salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan di Indonesia adalah puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat). Puskesmas adalah unit pelaksana pembangunan kesehatan di wilayah kecamatan. Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Puskesmas dengan Desa sangat berkaitan dalam pencapaian tingkat kesehatan masyarakat yang optimal. Desa adalah pemukiman manusia dengan populasi antara beberapa ratus hingga beberapa ribu jiwa dan berlokasi di daerah pedesaan. Secara administratif Indonesia, Desa adalah pembagian wilayah administratif yang berada di bawah kecamatan dan dipimpin oleh kepala Desa. Sebuah Desa secara administratif terdiri dari beberapa kampung atau dusun. Di dalam perdesaan masih sangat banyak masalah kesehatan yang perlu di perbaiki dan dimusyawahkan bersama dengan pihak kesehatan yakni MMD (Musyawarah Masyarakat Desa} dalam memberi solusi dalam memperbaiki masalah yang terdapat di Desa. Kegiatan MMD ini merupakan tindak lanjut dari Survei Mawas Diri (SMD). SMD adalah survey yang dilakukan secara rutin untuk mengetahui permasalahan kesehatan di masyarakat. Dalam SMD di wilayah kerja Puskesmas Dermayu menggunakan berupa kuesioner yang dipertanyakan langsung dengan masyarakat, dimanaPuskesmas Dermayu terdapat 9 Desa 1 Kelurahan. Informasi yang di dapatkan melalui survey ini sangat berguna bagi identifikasi masalah dan masukan untuk pemecahan masalah kesehatan di masyarakat. Saya sebagai promotor kesehatan di UPTD Puskesmas Dermayu Kabupaten Seluma bengkulu, akan menceritakan perjalanan saya menjadi promotor kesehatan. Pada tahun 2017 tahun pertama saya menjadi promotor kesehatan, saya cukup sulit untuk menjalankan profesi saya, Alhamdulillah saya memiliki senior dan Kepala Puskesmas yang selalu membimbing dan mendukung saya dalam menjalankan setiap kegiatan. Pada bulan Februari 2017, saya dan rekan promkes melaksanakan SMD di 9 Desa dan 1 Kelurahan, dan Desa turut terlibat dalam SMD ini. Alhamdulillah SMD dapat dukungan yang baik dari kepala Desa beserta perangkatnya, sehingga berjalan dengan lancar dan mendapatkan hasil permasalahan yang ditemukan di Desa. Permasalahan tersebut akan dibahas dalam MMD. Bulan April 2017 Puskesmas bekerjasama dengan Desa melaksanakan MMD di seluruh Desa/kelurahan wilayah kerja Puskesmas Dermayu. Dalam kegiatan ini melibatkan seluruh Lintas Sektor dan dihadiri perwakilan masyarakat.         Dalam pembahasan yang diangkat yakni sebagai berikut : 1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan 2. Memberi bayi ASI Ekslusif 3. Menimbang balita setiap bulan 4. Menggunakan air bersih 5. Mencuci tangandengan air bersih dan sabun 6. Menggunakan jamban sehat 7. Memberantas jentik nyamuk dirumah 8. Makan buah dan sayur setiaphari 9. Melakukan aktifitas setiap hari 10. Tidak merokok di dalam rumah 11. Keluarga menjadi anggota JKN Tujuan dari MMD adalah sebagai berikut : 1.Mengenal masalah kesehatan di wilayahnya 2. Bersepakat untuk menanggulangi masalah kesehatan melalui pelaksanaan Desa siaga dan Poskesdes 3. Menyusun rencana kerja untuk menanggulangi masalah kesehatan, melaksanakan Desa siaga dan Poskesdes (Kepala Puskesmas Dermayu saat menyampaikan kata sambutan) (Pembacaan hasil Survei Mawas Diri) Dalam kegiatan ini Kepala puskesmas Dermayu mengharapkan sekali adanya kerjasama yang baik dengan Desa dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Beliau juga menyampaikan kepada lintas sektor untuk tidak ragu meminta bantuan kepada Puskesmas khususnya pada tim Prromkes dalam segi apa pun, misal penyuluhan kesehatan, pembinaan kader, dan lain lainnya. Setelah pelaksanaan MMD di dapati masalah kesehatan yang ada di 9 Desa dan 1 kelurahan diwilayah kerja Puskesmas Dermayu yang sangat prioritas adalah sebagai berikut 1. Masih ada beberapa Desa yang masyarakatnya belum memiliki jamban. Disini kami meminta Desa untuk jambanisasi dengan mengalokasikan anggaran dana Desa. 2. Masih rendahnya pemberian ASI Ekslusif pada bayi. Disini lintas sektor meminta kepada pihak Puskesmas untuk lebih sering memberikan pengetahuan tentang ASI Ekslusif dan langsung memantau ke lapangan pada Ibu yang baru melahirkan 3. 73,4% prilaku merokok masih dalam rumah. Diharapkan kepada lintas sektor membuat perdes dilarang merokok dalam rumah, karena rokok sangat membahayakan anggota keluarga lainnya 4. Masih ada masyarakat yang tidak terlindungi oleh asuransi kesehatan, kepada lintas sektor agar dapat melakukan pendataan ulang dan menyarankan masyarakat untuk membuat asuransi kesehatan sesuai dengan kemampuannya 5. Kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang pembuangan sampah. Diharapkan Desa membuat Perdes tidak membuang sampah ke sembarangan tempat Setiap Desa yang kami datangi,apresiasi peserta MMD sangat baik dan mereka sangat antusias untukmemperbaiki permasalahan yang ada. Di akhir acara para lintas sektor menyampaikankesuksesan Desa dalam bidang kesehatan tidak lepas dari bimbingan dan bantuan dari pihak Puskesmas. Kami dari pihak Puskesmas berterima kasih atas undangannya, kami akan selalu berusaha untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan serta berusaha merubah perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat secara mandiri. (Oleh : Henda Lestiana) ( Acara diakhiri poto bersama, Salam GERMAS)