Day: November 23, 2023

Berikut hasil pencarian Anda. Jika Anda tidak menemukan yang Anda cari, coba gunakan kata kunci lain

Apa itu Penyakit Tiroid?

Oleh : Rahmi Suswanti, SKM, MM — Penyuluh Kesehatan Masyarakat Muda Penyakit tiroid adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada kelenjar tiroid yang memengaruhi fungsi kelenjar tiroid dalam memproduksi hormon. Akibatnya, hormon yang diproduksi menjadi terlalu tinggi atau terlalu rendah. Gangguan pada kelenjar tiroid akan berdampak pada beberapa fungsi organ tubuh yang menyebabkan munculnya berbagai gejala, seperti detak jantung tidak teratur (aritmia), mudah lelah, dan perubahan berat badan secara drastis. Penyakit tiroid adalah kondisi yang cukup umum terjadi. Meski dapat dialami oleh semua kalangan usia dan jenis kelamin, namun kondisi ini lebih sering ditemukan pada wanita dibandingkan pria. Jenis-Jenis Penyakit Tiroid Penyakit tiroid adalah kondisi kelainan pada struktur, mutasi jaringan, ataupun produksi hormon organ tiroid. Berikut beberapa jenis penyakit tiroid: 1. Hipotiroidisme Hipotiroidisme adalah kondisi yang terjadi akibat produksi hormon tiroid yang terlalu rendah. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kelainan pada hipotalamus, kelenjar pituitari, dan kelenjar tiroid. Hipotiroidisme menyebabkan metabolisme tubuh menjadi lebih lambat. Hipotiroidisme yang terjadi dalam waktu lama dapat berkembang menjadi miksedema (komplikasi yang menyebabkan penurunan suhu tubuh, gagal jantung, anemia, dan koma), terutama jika tidak mendapatkan penanganan dengan tepat. Sementara pada bayi dan anak-anak, kondisi hipotiroidisme yang tidak ditangani dengan tepat dapat mengakibatkan keterlambatan perkembangan hingga retardasi mental. 2. Hipertiroidisme Kebalikan dari hipotiroidisme, kondisi ini terjadi akibat kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid terlalu tinggi sehingga metabolisme tubuh menjadi lebih cepat dari biasanya. Hipertiroidisme dapat menyebabkan penurunan berat badan secara drastis dan jantung berdetak lebih cepat atau tidak teratur. 3. Nodul Tiroid Nodul tiroid adalah benjolan padat pada kelenjar tiroid yang berisi air. Benjolan ini dapat berupa tumor jinak atau kista. Meski tidak berbahaya, tetap dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab timbulnya nodul tiroid. 4. Penyakit Gondok Penyakit gondok disebabkan oleh pembengkakan kelenjar tiroid dan terlihat seperti benjolan pada leher. Gondok umumnya tidak menimbulkan nyeri, namun membuat penderitanya merasa tidak nyaman hingga kesulitan menelan. 5. Tiroiditis Tiroiditis adalah peradangan pada kelenjar tiroid yang menyebabkan produksi hormon terlalu tinggi atau rendah. Tiroiditis terbagi menjadi beberapa jenis, namun yang paling sering ditemukan yaitu tiroiditis Hashimoto (penyakit autoimun yang menyerang kelenjar tiroid). 6. Kanker tiroid Kanker tiroid disebabkan oleh adanya sel abnormal yang berkembang di kelenjar tiroid. Kondisi ini dapat disembuhkan apabila terdeteksi lebih awal. Penyebab Penyakit Tiroid Penyakit tiroid dapat dipicu oleh beberapa kondisi medis tertentu, seperti penyakit autoimun, infeksi virus atau bakteri, terapi radiasi, atau penggunaan obat untuk hipertiroidisme. Sementara itu, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit tiroid adalah sebagai berikut: Sedang hamil atau baru saja melahirkan. Berusia di atas 60 tahun. Menderita penyakit autoimun. Pernah menjalani operasi tiroid (tiroidektomi). Menjalani perawatan dengan iodium radioaktif atau obat anti-tiroid Peradangan pada kelenjar tiroid. Memiliki keluarga dengan riwayat penyakit tiroid (genetik). Gejala Penyakit Tiroid Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit tiroid tergantung dari jenis dan penyebabnya. Beberapa gejala yang dialami apabila hormon tiroid terlalu tinggi (hipertiroidisme) adalah sebagai berikut: Detak jantung tidak teratur. Nafsu makan meningkat namun berat badan tidak kunjung bertambah. Cemas dan gugup. Tremor, seperti tangan dan jari yang gemetar. Perubahan siklus menstruasi pada wanita. Mudah lelah. Diare. Sulit tidur. Kelenjar tiroid di bagian leher membengkak. Mudah kepanasan. Sering berkeringat bahkan dalam jumlah yang tidak wajar. Tekanan darah tinggi (hipertensi). Sementara itu, beberapa gejala yang bisa muncul akibat hormon tiroid terlalu rendah (hipotiroidisme) di antaranya: Sembelit. Berat badan meningkat tetapi nafsu makan menurun. Tubuh terasa lemah dan lelah. Depresi. Sensitif terhadap suhu dingin. Konsentrasi menurun. Kulit kering. Kesulitan menjalani aktivitas fisik. Diagnosis Penyakit Tiroid Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis terkait keluhan dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik untuk memastikan penyebab, salah satunya adalah memeriksa benjolan di leher. Apabila pemeriksaan penunjang dibutuhkan, maka dokter akan menganjurkan pasien untuk menjalani sejumlah tes berikut ini: Tes Darah Tes darah bertujuan untuk mengetahui fungsi kelenjar tiroid dengan mengukur kadar hormon tiroid. Melalui prosedur ini juga dokter dapat mengetahui apakah pasien mengalami hipotiroidisme atau hipertiroidisme. Biopsi Tujuan biopsi pada pasien penyakit tiroid adalah mengambil sampel jaringan tiroid untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium. Biasanya prosedur ini dijalankan oleh pasien yang dicurigai menderita kanker tiroid. Pemindaian Tes pemindaian dilakukan melalui USG tiroid atau nuklir tiroid. Tujuannya adalah mengetahui ukuran serta jenis benjolan yang dialami oleh pasien. Pengobatan Penyakit Tiroid Penanganan penyakit tiroid akan disesuaikan dengan jenis penyakit yang diderita oleh pasien. Apabila penyebab penyakit tiroid adalah kadar hormon yang tinggi, maka dokter akan memberikan sejumlah pengobatan, seperti: Memberikan obat antitiroid: Obat ini bermanfaat menghentikan produksi hormon dari kelenjar tiroid. Obat antitiroid yang biasanya diberikan pada penderita penyakit tiroid adalah propylthiouracil dan methimazole. Iodium radioaktif: Bermanfaat menghancurkan sel-sel tiroid sekaligus mencegah produksi hormon tiroid berlebih. Beta blocker: Dapat membantu mengendalikan gejala penyakit dan tidak berpengaruh pada produksi hormon tiroid. Apabila pengobatan di atas kurang efektif, biasanya dokter akan menyarankan pasien menjalani tiroidektomi (pembedahan kelenjar tiroid). Setelah menjalani prosedur ini, pasien harus mengonsumsi hormon pengganti tiroid seumur hidupnya. Sementara itu, bagi penderita penyakit tiroid akibat hormon tiroid yang terlalu rendah biasanya disarankan untuk menjalani terapi penggantian hormon. Pada terapi ini, dokter akan meresepkan obat hormon sintetis untuk memenuhi kebutuhan hormon tiroid. Komplikasi Penyakit Tiroid Beberapa komplikasi yang dapat dipicu oleh penyakit tiroid adalah: Krisis tiroid (kondisi yang terjadi akibat tingginya hormon tiroid). Koma miksedema (kondisi di mana hipotiroidisme tidak ditangani dengan baik sehingga memengaruhi fungsi otak). Retardasi mental atau penurunan fungsi kognitif pada anak. Apabila Anda merasakan gejala yang menyerupai penyakit tiroid, jangan ragu untuk mengonsultasikannya dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya dan mendapatkan penanganan secara tepat.

Tongue-tie (Ankyloglossia)

Oleh : Rahmi Suswanti, SKM, MM — Penyuluh Kesehatan Masyarakat Muda Tongue-tie (ankyloglossia) adalah kelainan pada frenulum lidah bayi sehingga berukuran terlalu pendek. Hal ini mengakibatkan lidah bayi menjadi tidak leluasa bergerak. Jika tidak segera ditangani, tongue-tie dapat menyebabkan bayi sulit menyusu, serta kesulitan berbicara, makan, dan menelan. Frenulum adalah jaringan tipis di bawah lidah bagian tengah yang menghubungkan lidah dengan dasar mulut. Normalnya, frenulum terpisah sebelum bayi lahir. Namun, pada bayi dengan tongue-tie, frenulum justru terbentuk dengan ukuran yang sangat pendek sehingga menyebabkan lidah tetap melekat dengan bagian dasar mulut. Tongue-tie merupakan kelainan kongenital yang diperkirakan terjadi pada 3–5% bayi yang baru lahir. Kondisi ini juga lebih umum terjadi pada bayi laki-laki daripada bayi perempuan. Penyebab Tongue-Tie Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab tongue-tie. Namun, pada beberapa kasus, bayi penderita tongue-tie memiliki orang tua dengan riwayat kondisi yang sama. Oleh sebab itu, ada dugaan tongue-tie terkait dengan faktor genetik. Gejala Tongue-Tie Bayi yang menderita tongue-tie umumnya memiliki gejala dan tanda berikut: Selain pada bayi, ibu menyusui juga bisa mengalami keluhan yang berkaitan dengan tongue-tie. Hal ini terjadi karena bayi tidak mampu menyusu dengan benar. Keluhan tersebut antara lain payudara merah, bengkak, nyeri, dan luka di puting payudara. Kapan harus ke dokter Lakukan pemeriksaan ke dokter jika bayi Anda menunjukkan gejala dan tanda-tanda di atas, terutama bila Anda juga mengalami gejala berupa: Perlu diketahui, tongue-tie bukanlah satu-satunya penyebab masalah dalam menyusui. Oleh sebab itu, pemeriksaan oleh dokter diperlukan agar bayi Anda mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Diagnosis Tongue-Tie Sebelum memeriksa kondisi bayi, dokter akan bertanya pada ibu bayi apakah ada masalah dalam menyusui bayinya. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada mulut bayi untuk melihat bentuk dan pergerakan lidahnya. Pada anak dengan kondisi tongue-tie, dokter akan meminta untuk menggerakkan lidah dan mengucapkan huruf tertentu, seperti R atau L. Pengobatan Tongue-Tie Pengobatan tongue-tie tergantung pada tingkat keparahannya. Jika bayi atau anak yang menderita tongue-tie masih bisa makan dengan baik, dokter akan menunggu dan memantau perkembangan kondisinya. Hal ini dikarenakan frenulum lidah bisa merenggang seiring waktu sehingga tongue-tie teratasi dengan sendirinya. Sementara pada tongue-tie yang sampai menyebabkan bayi sulit makan, dokter akan melakukan prosedur bedah yang jenisnya disesuaikan dengan tingkat keparahan pada bayi. Prosedur bedah tersebut antara lain: Frenotomi Frenotomi dilakukan pada tongue-tie yang tergolong ringan. Pada prosedur ini, dokter akan memotong bagian frenulum dengan satu sayatan menggunakan gunting steril atau pisau bedah. Frenotomi berlangsung cepat dan bisa dilakukan dengan atau tanpa obat bius. Perdarahan akibat frenotomi hanya sedikit sehingga bayi dapat langsung menyusu setelah prosedur selesai. Frenektomi Pada frenektomi, seluruh frenulum lidah dipotong dengan pisau bedah steril. Prosedur ini didahului dengan pemberian obat bius. Frenuloplasti Jika frenulum terlalu tebal untuk dipotong, dokter akan melakukan frenuloplasti. Pada prosedur ini, dokter akan memotong frenulum lidah dengan alat khusus lalu menjahit bekas lukanya. Jahitan ini akan terlepas dengan sendirinya setelah luka sembuh. Frenuloplasti dilakukan setelah pasien dibius terlebih dahulu. Pada beberapa kasus, tindakan ini dilakukan menggunakan laser. Pada masa pemulihan, pasien biasanya membutuhkan terapi wicara dan latihan lidah guna mengembalikan kemampuan pergerakan lidah. Komplikasi Tongue-Tie Tongue-tie dapat berpengaruh pada cara menelan, makan, dan bicara, sehingga dapat menimbulkan komplikasi, seperti: Masalah saat menyusu Bayi dengan tongue-tie bisa kesulitan saat menyusu. Alih-alih mengisap, bayi malah mengunyah puting payudara sehingga menimbulkan nyeri pada payudara ibunya. Selain itu, tongue-tie juga membuat bayi sulit mendapatkan asupan ASI yang cukup. Akibatnya, bayi dapat kekurangan nutrisi sehingga mengalami gangguan tumbuh kembang. Kesulitan dalam berbicara Tongue-tie bisa menyebabkan anak-anak mengalami kesulitan dalam mengucapkan huruf-huruf konsonan tertentu. Kesulitan melakukan aktivitas tertentu dengan mulut Bayi atau anak yang menderita tongue-tie dapat kesulitan melakukan gerakan sederhana yang mengandalkan lidah, seperti menjilat bibir. Kondisi mulut yang tidak higienis Tongue-tie dapat membuat lidah sulit membersihkan sisa makanan dari gigi. Kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan gigi serta pembengkakan dan iritasi pada gusi. Pencegahan Tongue-Tie Seperti yang telah disebutkan di atas, belum jelas apa yang menjadi penyebab tongue-tie. Oleh karena itu, belum diketahui pula bagaimana cara untuk mencegah kondisi ini. Segera lakukan konsultasi ke dokter bila bayi selalu kesulitan menyusu, atau jika ibu sering mengalami sakit payudara setelah menyusui.

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DI SEKOLAH

Oleh : Rahmi Suswanti, SKM, MM — Penyuluh Kesehatan Masyarakat Muda Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat. Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah yaitu : Mengingat jumlah anak di indonesia rata-rata 30% dari total penduduk Indonesia dan usia sekolah merupakan masa keemasan untuk menanamkan nilai-nilai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sehingga berpotensi sebagai agen perubahaan untuk mempromosikan PHBS, baik dilingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Jika tiap sekolah memiliki 20 kader kesehatan saja maka ada 5 juta kader kesehatan yang dapat membantu terlaksananya dua strategi utama Departemen Kesehatan Munculnya sebagai penyakit yang sering menyerang anak usia sekolah (usia 6-10), ternyata umumnya berkaitan dengan PHBS. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai PHBS disekolah merupakan kebutuhan mutlak dan dapat dilakukan melalui pedekatan usaha kesehatan Sekolah (UKS). PHBS disekolah adalah upaya untuk memberdayakan siswa, guru dan masyarakat lingkungan sekolah agar tahu dan mau serta mampu mempraktikan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan sekolah sehat. Kegiatan PHBS ini juga akan mendukung program/kegiatan pemerintah dibidang penilaian sekolah Adiwiyata.

Apa itu PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)?

Oleh : Rahmi Suswanti, SKM, MM — Penyuluh Kesehatan Masyarakat Muda PHBS adalah singkatan dari pola atau perilaku hidup bersih dan sehat. Lebih tepatnya, PHBS adalah sebuah gerakan yang dilakukan dengan menjaga kebersihan serta kesehatan tubuh maupun lingkungan sekitar. Perilaku hidup sehat ini dapat diterapkan di mana saja, mulai dari rumah, sekolah, lingkungan kerja, hingga tempat umum. Tujuan PHBS adalah untuk meningkatkan kualitas hidup melalui kegiatan yang berlandaskan atas kesadaran diri sendiri. Selain menjaga kualitas hidup diri sendiri, PHBS juga bertujuan untuk melindungi kesehatan orang terdekat serta melestarikan lingkungan sekitar. Indikator PHBS Kesuksesan gerakan PHBS dapat dilihat dari berbagai aktivitas yang dilakukan atas kesadaran diri sendiri. Adapun sejumlah kegiatan yang menjadi indikator dalam keberhasilan PHBS adalah sebagai berikut: 1. Cuci Tangan menggunakan Sabun dan Air Mengalir Salah satu contoh perilaku hidup bersih dan sehat adalah membiasakan diri untuk mencuci tangan dengan sabun serta air mengalir. Hal ini dilakukan untuk menjaga kebersihan tangan yang sering kali menjadi sarana penyebaran bakteri dan virus penyebab penyakit. Apabila tidak menemukan akses sabun dan air mengalir, pastikan untuk membersihkan tangan dengan hand sanitizer yang mengandung alkohol minimal 70%. 2. Jaga Kebersihan Toilet Menjaga kebersihan toilet juga menjadi indikator penting dalam gerakan perilaku hidup bersih dan sehat. Hal ini dikarenakan toilet kerap menjadi tempat berkumpulnya virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan tubuh. 3. Konsumsi Makanan Sehat Selama menjalani gerakan PHBS, penting bagi Anda untuk memperhatikan kebutuhan gizi tubuh. Anda dapat memenuhi kebutuhan gizi tersebut melalui konsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral. Selain itu, pastikan pula makanan yang Anda sajikan telah diolah dengan bersih dan higienis agar terhindar dari kontaminasi virus maupun bakteri patogen. 4. Olahraga secara Rutin Olahraga secara rutin diketahui dapat menjaga kebugaran tubuh serta meningkatkan sistem imunitas yang turut mencegah berbagai macam serangan penyakit. Tak hanya itu, rutin berolahraga juga mampu menurunkan stres yang berdampak pada kesehatan tubuh. Agar mendapatkan hasil yang optimal, Anda disarankan untuk berolahraga selama 30 menit setiap harinya. 5. Hindari Gaya Hidup Tidak Sehat Merokok adalah salah satu kebiasaan tak sehat yang perlu dihindari untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Pasalnya, kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, kanker mulut, hingga kanker paru. Selain merokok, gaya hidup tidak sehat yang harus dihindari selama menjalankan PHBS adalah sedentary lifestyle, kebiasaan begadang, serta konsumsi alkohol berlebih. 6. Jaga Kebersihan Lingkungan Sekitar Menjaga kebersihan lingkungan sekitar merupakan indikator PHBS yang penting untuk diperhatikan. Hal ini dapat diterapkan dengan membuang sampah pada tempatnya, membersihkan genangan air untuk membasmi jentik nyamuk, serta menggunakan air secukupnya. 7. Optimalkan Kesejahteraan Ibu dan Anak Tak hanya menerapkan pola hidup sehat pada diri sendiri, PHBS juga bisa dilakukan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak, seperti: Memberikan imunisasi untuk anak sesuai jadwal dan jenis imunisasi yang direkomendasikan. Memberikan ASI eksklusif. Melakukan persalinan dengan bantuan tenaga kesehatan terkait, seperti dokter atau bidan. Memantau proses tumbuh kembang anak secara berkala melalui layanan kesehatan terdekat. Manfaat PHBS Terdapat sejumlah manfaat PHBS yang bisa didapatkan, seperti mencegah infeksi penyakit tertentu, menjaga kebersihan lingkungan, hingga mengoptimalkan proses tumbuh kembang anak. Berikut penjelasannya. 1. Terhindar dari Penyakit Tujuan utama dilakukannya PHBS adalah untuk memastikan kebersihan dan kesehatan tubuh. Karena itu, gerakan PHBS dapat melindungi tubuh dari serangan berbagai macam virus dan bakteri penyebab penyakit tertentu, seperti diare, kolera, hingga tetanus. 2. Menjaga Kebersihan Lingkungan Selain menjaga kesehatan tubuh, gerakan PHBS juga dilakukan dengan memperhatikan kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar. Menerapkan PHBS di rumah membuat lingkungan tempat tinggal tersebut menjadi lebih aman dan nyaman untuk ditempati. 3. Meningkatkan Produktivitas Seperti yang telah diketahui, salah satu kegiatan dalam PHBS adalah menjaga kebersihan lingkungan. Hal tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas karena lingkungan yang bersih dan nyaman akan meningkatkan motivasi seseorang dalam beraktivitas. 4. Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak Manfaat PHBS yang tak kalah penting adalah turut mengoptimalkan proses tumbuh kembang anak. Pasalnya, menerapkan PHBS dalam kehidupan rumah tangga dapat mencegah berbagai macam serangan penyakit serta menurunkan risiko stunting atau masalah gizi kronis pada anak. Agar kualitas hidup tetap terjaga, penting bagi Anda untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat sebaik mungkin.