Day: December 3, 2019

Berikut hasil pencarian Anda. Jika Anda tidak menemukan yang Anda cari, coba gunakan kata kunci lain

PENURUNAN STUNTING PROVINSI BENGKULU

Oleh: Umi Badriyah, SKM., MM Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013, Provinsi Bengkulu, diperoleh data balita pendek sebesar 39,7% dan angka tertinggi ada di Kabupaten Kaur, 50,7%. Terjadi penurunan bila dibandingkan dengan hasil Riskesdas 2018 yaitu sebesar 28%. Penurunannya  selama lima tahun mencapai 11,7%. Hasil pemantauan status gizi (PSG)  tahun 2015 s.d. 2017 didapatkan angka yang terus beranjak naik dari 18,1%, 23% dan 29,5% (dapat dilihat pada gambar berikut) : Hasil  elektronik pencatatan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM)   yang diiput oleh tenaga enumerator tahun 2018, didapatkan angka 17,2% sebagaimana dapat dilihat pada diagram-diagram berikut: Bila melihat perkembangan stunting di Bengkulu selama tiga tahun terakhir berdasarkan data PSG dan e-PPGBM yang dilakukan rutin oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu dengan anggaran dana dari APBN terjadi penurunan angka di tahun 2018 untuk tingkat provinsi seperti terlihat dalam diagram berikut : Adapun perbedaan hasil dari data stunting  Riskesdas 2018 sebesar 28% dan dari hasil e-PPGBM 17,2% adalah semata karena perbedaan sampel yang digunakan dimana pada Riskesdas menggunakan sampel berdasarkan kerangka sampel Blok Sensus (BS) Susenas bulan Maret 2018 dari BPS sedangkan pada e-PPGBM adalah berdasarkan data yang telah diinput oleh enumerator di Provinsi Bengkulu tahun 2018 sampai batas waktu yang telah ditentukan dan didapatkan sebanyak 87.673 balita dan ini belum kesluruhan populasi. Dalam aplikasi e-PPGBM ini  terdapat sistem peringatan dini balita yang memerlukan penanganan khusus berdasarkan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB berupa tanda lonceng di pojok kanan atas dari aplikasi. Perbedaan dalam sebuah penelitian adalah hal yang biasa terjadi, disamping sebagai pembanding tentang sistem yang dipakai juga sebagai koreksi pada penelitian-penelitian selanjutnya. Adapun contoh halaman aplikasi e-PPGBM dapat dilihat pada gambar dibawah ini : Berbicara tentang stunting kita harus tahu terlebih dahulu tentang definisinya. Stunting adalah suatu kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek jika dibandingkan dengan anak normal seusianya. Kekurangan gizi kronis ini terjadi sejak bayi dalam kandungan dan masa awal setelah anak lahir, stunting baru nampak setelah anak usia dua tahun. Masalah gizi pada masa janin dan usia dini sebagai dampak jangka pendeknya adalah terganggunya perkembangan otak, pertumbuhan dan perkembangan organ tubuh, Dampak selanjutnya adalah terganggunya kemampuan kognitif dan pendidikannya serta tubuh menjadi cebol. Stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunkan produktifitas sehingga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan ketimpangan. Adapun penyebab Stunting antara lain : Praktek pengasuhan yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktek pemberian makan pada bayi dan anak. Terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC-Ante Natal Care, Post Natal dan pembelajaran dini yang berkualitas. Kurangnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi Stunting merupakan sebuah siklus yang akan berlangsung terus menerus jika tidak segera diatasi bila itu berawal dari anak perempuan  yang stunting,  maka saat dewasa dia akan tumbuh menjadi remaja putri yang kurang gizi. Selanjutnya jika dia berkeluarga dan kemudian hamil akan menjadi ibu hamil dengan kekurangan energi yang kronis/kurang gizi dan kemudian akan melahirkan bayi dengan berat badan lahir yang rendah, demikian siklus ini akan terus berulang, sehingga perlu untuk segera diatasi. Berdasarkan data yang ada dapat diketahui bagaimana kondisi konsumsi makanan ibu hamil dan balita tahun 2016-2017 yaitu bahwa dari lima ibu hamil di Indonesia satu diantaranya menderita kurang gizi, dan tujuh dari sepuluh ibu hamil tersebut makanannya kurang kalori dan protein. Untuk balita bahwa tujuh dari sepuluh balita makanannya kurang kalori dan lima dari sepuluh balita makanannya kurang protein, sungguh memprihatinkan. Adapun akar masalah dari hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya faktor politik, sosial dan budaya, kemudian faktor kemiskinan, kurangnya pemberdayaan perempuan serta dapat juga disebabkan oleh degradasi lingkungan. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan konvergensi program dari lintas program dan lintas sektor. Gerakan 1000 hari pertama kehidupan (HPK) atau sering juga disebut “PERIODE EMAS” haruslah diperhatikan dimana ibu hamil, bayi dan balita perlu mendapatkan asupan gizi yang memadai. Periode Emas ini dimulai sejak janin hingga anak berusia dua tahun. Periode pertama dimulai sejak masa kehamilan yaitu 270 hari selama kehamilan, masa ini merupakan periode sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat diperbaiki. Dampak tersebut tidak hanya pada pertumbuhan fisik, tetapi juga pada perkembangan mental dan kecerdasannya, yang pada usia dewasa terlihat dari ukuran fisik yang tidak optimal serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktifitas ekonomi. Periode selanjutnya adalah 730 hari setelah kelahiran dimana pada saat ini untuk mencapai tinggi dan berat badan yang optimal dibutuhkan seluruh zat gizi (makro dan mikro) secara seimbang,pemberian ASI ekslusif dan dilanjutkan dengan ASI serta makanan pendamping ASI. Pemberian susu formula pada rentang usia 0-6 bulan yang banyak dan terus menerus dapat menyebabkan kegemukan pada bayi, disebabkan karena susu formula banyak mengandung gula dan lemak, sedangkan anak usia 0-6 bulan organ pencernaannya juga belum sempurna. Selanjutnya setelah bayi berusia 6 bulan sudah dapat diberikan makanan pendamping ASI karena bayi sudah membutuhkan asupan gizi tambahan, dengan tetap memberikan  ASI sampai usia dua tahun. Pada tahapan usia ini diperlukan pemberdayaan perempuan agar dapat dengan telaten dan tekun memperkenalkan dan memberikan makanan yang beraneka ragam agar melengkapi kebutuhan gizinya. Bagaimana perkembangan penanggulangan stunting di Provinsi Bengkulu? TNP2K pada tahun 2018 telah menetapkan satu kabupaten sebagai lokus prioritas tahap I penanganan stunting di Provinsi Bengkulu yaitu Kabupaten Kaur, adapun penetapan lokus tersebut dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti jumlah penduduk, prevalensi stunting, tingkat kemiskinan dan jumlah penduduk miskin.  Kabupaten Kaur yang ditetapkan kemudian juga ditetapkan sepuluh desa sebagai lokus, yaitu: Desa Padang Tinggi Desa Pengubaian Desa Tanjung Betuah Desa Air batang Desa Mentiring II Desa Tuguk Desa Cucupan Desa Babat Desa Datar Lebar Desa Talang Jawi Kemudian dalam penetapan prioritas kabupaten dan desa tahap II tahun 2019 Provinsi Bengkulu mendapat tambahan lokus yaitu Kabupaten Bengkulu Utara dengan Desa yang ditetapkan sebagai berikut : Desa Air Padang Desa Ulak Tanding Desa Kinal Jaya Desa Jabi Desa Meok Desa Gembung Raya Desa Tebing Kandang Desa Talang Berantai Desa Taba Kulintang Desa Tanjung Alai Adapun tujuan penetapan lokus tersebut adalah agar setiap Kementerian terkait mengalokasikan program dan kegiatannya berupa kegiatan padat karya

Bidang Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu laksanakan Advokasi, Sosialisasi dan Koordinasi Pelaksanaan Imunisasi Campak Rubella Di Provinsi Bengkulu

memberikan perlindungan kepada anak dengan pemberian imunisasi maka cakupan imunisasi harus dipertahankan tinggi dan merata. Cakupan program yang tinggi ini harus diiringi dengan pelayanan yang berkualitas, pelayanan imunisasi yang sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang meliputi kapasitas petugas yang memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang program imunisasi, sarana dan prasarana yang memadai sesuai standar, pengelolaan logistic imunisasi, safe injection, pencatatan dan pelaporan  yang valid dan penanganan KIPI yang tepat. Target Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) tahun 2019 adalah sebesar 93 %. Diharapkan pada akhir tahun target tersebut akan tercapai. Untuk mencapai target tersebut, dalam penyelenggaraan program Imunisasi diperlukan dukungan para pengambil kebijakan dan peran serta masyarakat.  Perlunya advokasi dan koordinasi, pembinaan kader, pembinaan kepada kelompok binaan balita dan anak sekolah, dan/atau pembinaan organisasi atau lembaga swadaya masyarakat terkait memahami tentang kegiatan program imunisasi khususnya tentang pentingnya kegiatan Imunisasi MR. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan cakupan dan mutu imunisasi pada pelaksanaan imunisasi rutin, lanjutan dan BIAS. Adapun tujuan dari diselenggarakannya pertemuan ini adalah memberikan informasi, Advokasi, Koordinasi serta edukasi kepada para pengambil kebijakan pada lintas sektor dan lintas program yang terkait tentang program imunisasi, khususnya tentang pentingnya imunisasi MR untuk mencapai eliminasi campak dan pengendalian rubella / CRS tahun 2020. Kegiatan pertemuan ini telah dilaksanakan pada tanggal 25 s.d 27 September 2019 yang lalu yang mengambil tempat di Hotel Nala Sea Side Jln. Pariwisata No. 13, Kota Bengkulu dengan jumlah peserta sebanyak 74 orang yang terdiri dari peserta yang berasal dari Provinsi sebanyak 14 orang dan peserta yang berasal dari Kabupaten dan Kota sebanyak 60 orang. Adapun Alokasi peserta dapat dilihat dalam daftar dibawah ini : Peserta Provinsi : No Instansi Jumlah 1 Kepala Bidang yang membawahi Kesehatan di Biro Kesra Pemerintahan Provinsi Bengkulu 1 orang 2 Kepala Bidang Dikdas (membawahi siswa/i SD) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Nasional Provinsi Bengkulu 1 orang 3 Kepala Bidang yang membawahi siswa/i Sekolah Dasar di Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu 1 orang 4 Ketua IDAI Provinsi Bengkulu 1 orang 5 Ketua PKK Provinsi Bengkulu 1 orang 6 Ketua yayasan Aisyiyah Provinsi Bengkulu 1 orang 7 Kepala Seksi Promkes  Dinas Kesehatan  Provinsi Bengkulu 1 orang 8 Kepala Seksi Farmasi  Dinas Kesehatan  Provinsi Bengkulu 1 orang 9 Kepala Seksi KIA Dinas Kesehatan  Provinsi Bengkulu 1 orang 10 Staf Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu 5 orang   JUMLAH 14 orang Peserta keseluruhan Kabupaten/Kota :   Kepala Bidang yang membawahi Kesehatan Biro Kesra Pemda Kab/Kota : 1 orang Kepala Bidang Dikdas (yang membawahi siswa/i SD) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Nasional Kab/Kota          1 orang Kepala Bidang yang membawahi siswa/i Madrasah Ibtida’yah Kemenag Kab/Kota : 1 orang Ketua PKK Kabupaten/Kota : 1 orang Kepala Bidang/Kasi yang membawahi Program Imunisasi Dinkes Kab/Kota 1 orang Pengelola Program Imunisasi Dinkes Kab/Kota : 1 orang Dalam pertemuan ini juga di dukung oleh Narasumber dari Kementrian Kesehatan RI Jakarta, ITAGI / Komite Ahli Imunisasi, Komda KIPI provinsi Bengkulu, Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu yang sudah berkompeten yang terdiri dari Kepala Bidang P2P dan Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi dan Pengelola Program imunisasi yang sudah mengikuti TOT Program Imunisasi dengan materi-materi sebagai berikut : Strategi dan Kebijakan Nasional Program Kesehatan di Provinsi Bengkulu Komitmen dan Dukungan kementerian/Lembaga untuk Imunisasi MR menuju Eliminasi Urgensi Imunisasi MR dalam mencegah Komplikasi Campak dan CSR. Evaluasi Imunisasi Rutin dan MR di Provinsi Bengkulu Manajemen Mutu Tatalaksana Program Imunisasi Provinsi Bengkulu Tahun 2019 PD3I dan Upaya Tindak Lanjut. Setelah Pelaksanaan Pertemuan Advokasi, Sosialisasi dan Koordinasi Pelaksanaan Imunisasi MR di Provinsi Bengkulu Tahun 2019, di harapkan nantinya dapat mendongkrak capaian imunisasi secara lengkap dan merata minimal 95%. Disamping itu nantinya para petugas yang berasal dari Lintas Program yang keseluruhan berjumlah 74 orang setelah menerima keseluruhan materi pertemuan dapat meningkatkan cakupan imunisasi rutin lengkap dan juga mempunyai kreatifitas dan inovasi untuk menjaring dan mengarahkan masyarakat yang memiliki anak balita untuk mendatangi fasilitas kesehatan terutama posyandu untuk mendapat pelayanan imunisasi dan pelayanan kesehatan lainnya. Seluruh Siswa/i Sekolah Dasar Sederajat dapat diberikan imunisasi MR secara keseluruhan dengan intruksi, arahan dari Peserta Lintas Sektor yang sudah mendapat penjelasan di pertemuan ini. Ibu-ibu PKK tingkat kecamatan sampai ke ibu kader bisa menggerakkan masyarakat untuk mendapat imunisasi rutin lengkap. Terjalin koordinasi dan komitmen bersama untuk melakukan upaya tindak lanjut jika ditemukan kendala dan masalah. Dengan demikian diharapkan kedepannya sudah terjadi kekebalan individu dan kekebalan kelompok. Menyebarluaskan informasi pentingnya imunisasi anak usia 0 – 24 bulan untuk mencegah terjadinya PD3I. Setelah pertemuan peningkatan mutu pelayanan imunisasi ini dilaksanakan dan cakupan imunisasi rutin lengkap lebih dari 93%, diharapkan nantinya kekebalan individu dan kekebalan kelompok sudah terbentuk sehingga tidak ada lagi anak bayi – balita menderita atau terpapar penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi diantaranya Hepatitis, Polio, Tetanus, Peneumoni, Diftteri, TBC, Campak dan Rubella.  Itu artinya dengan imunisasi adalah cost yang efesien dan efective dalam hal waktu, anggaran dan tenaga dari ancaman penyakit PD3I bagi masyarakat Bengkulu.