Selamat datang di Website Resmi

SISTEM INFORMASI TERPADU KESEHATAN KERJA DAN OLAHRAGA DALAM UPAYA PERCEPATAN PELAKSANAAN KESEHATAN KERJA DAN OLAHRAGA

Berakhirnya rencana pembangunan lima tahun 2015 – 2019, dan dimulainya pembangunan lima tahun 2020 – 2024. Perlunya percepatan implementasi program kesehatan kerja dan olahraga yang akan mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat serta mendukung tercapainya manusia Indonesia yang sehat, bugar, produktif dan mampu berkompetisi. Program kesehatan kerja dan olahraga akan mendukung penurunan masalah kesehatan di Indonesia terutama obesitas, Penyakit Tidak Menular/PTM, Penyakit Menular/PM dan masalah Gizi termasuk stunting dan angka kematian Ibu.

Program Kesehatan Kerja dan Olahraga akan mendukung upaya kesehatan yang dikoordinasikan oleh Ditjen Kesehatan Masyarakat, Ditjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dan Ditjen Pelayanan Kesehatan.

Implementasi program kesehatan kerja dan olahraga diperlukan peran Pemerintah Daerah, Kementerian/Lembaga, Perguruan Tinggi, NGO/LSM, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan masyarakat serta dunia usaha.  Peran pemerintah daerah (provinsi, kabupaten/kota) serta fasyankes adalah sebagai koordinator dan implementator program.

Untuk melihat implementasi program kesehatan kerja dan olahraga, diperlukan indikator yang dapat menunjukan keberhasilan pelaksanaan dan upaya yang dilakukan oleh pemangku kepentingan disetiap tingkat administrasi.

Indikator yang ditetapkan harus dapat 1) menggambarkan pencapaian program secara nasional 2) menggambarkan peran tiap tingkat administrasi 3) memenuhi kaidah indikator terutama Spesific, Measureable (terukur), Achievable (prestasi), Realistic, Timely (SMART) dan 4) mendukung pelaksanaan program secara konsisten, dapat dibandingkan dan menyeluruh.

Untuk meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatansemesta dengan penekanan pada penguatan pelayanan kesehatan dasar  (PrimaryHealth Care)dan peningkatan upaya promotif dan preventifdidukung oleh inovasi dan pemanfaatan teknologi.

Tujuan Pembangunan Kesehatan adalahTerwujudnya Masyarakat Sehat, Produktif, Mandiri Dan Berkeadilan.

Sitko Hadir dalam mendukung visi dan misi presiden Jokowi sebagai inovasi sistem monitoring kesehatan kerja dan olahraga yang sebelumnya menggunakan sistem paper based yang banyak ketidak akuratan dan tidak dapat terintegrasi.

Pencatatan dan pelaporan data kesehatan kerja dan olahraga tertuang dalam sistem informasi kesehatan kerja dan olahraga (SITKO). Perubahan dilakukan sebagai bentuk respon terhadap perkembangan teknologi informasi serta penguatan sistem pelaporan kegiatan dan indikator kesehatan kerja  olahraga di setiap tingkatan serta kendala pengumpulan data terkait kesehatan kerja dan olahraga. Rancangan berbasis data terpadu terkait program dan indikator Kesehatan Kerja dan Olahraga yang diperoleh dari tingkat Puskesmas, Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat serta integrasi dengan program dan sektor lain terkait guna menyediakan data informasi secara lebih cepat dan akurat.

Tujuan Pengelolaan data berbasis web/elektronik untuk menggantikan pencatatan dan pelaporan kegiatan kesehatan kerja dan olahraga berbasis kertas Laporan Bulanan Kesehatan Pekerja dan Laporan Bulanan Kesehatan Olahraga (LBKP/LBKO) guna menyediakan data informasi secara lebih cepat dan akurat sebagai berikut :

  1. Real-Time Data:

data dapat dientri dari kapan pun dan dimana pun

  • Completeness:

Seluruh data indikator ditampilkan dalam satu halaman yaitu halaman dashboard.

  • Interconectivity:

data dari berbagai aplikasi/platform dapat tersabung ke SITKO melalui API

  • Ownership:

data yang terkumpul dapat dimanfaatkan seluas-luasnya oleh pengampu kebijakan di semua level.

Sistem informasi berbasis data terpadu terkait  program dan indikator Kesehatan Kerja dan  Olahraga. Data diperoleh dari tingkat  Puskesmas, Kabupaten/Kota, Provinsi dan   serta terintegrasi dengan program lain  guna menyediakan data informasi secara  lebih cepat dan akurat yang bertujuan untuk mempermudah sistem pelaporan kegiatan  kesehatan kerja dan olahraga di tiap tingkat  administrasi, menghubungkan data dan informasi dengan  sistem informasi program lain terkait, dan tersedianya data/informasi untuk perencanaan dan evaluasi program di tiap tingkat administrasi.

Manfaat dari sistem informasi kesehatan kerja dan olahraga adalah :

  1. Adanya data kesehatan kerja dan olahraga  sesuai indikator yang dicapai
  2. Adanya data Program Kesehatan Kerja (Pos  UKK, GP2SP, PAK dll)
  3. Adanya data Program Kesehatan Olahraga  (Kebugaran calon jamaah haji, kebugaran ASN,  kelompok olahraga dll)
  4. Adanya data dan informasi untuk perencanaan  dan evaluasi Program Kesehatan Kerja dan  Olahraga.

Analisis Penyebab Masalah dalam pelaporan Sistem Informasi Terpadu Kesehatan Kerja dan Olahraga adalah :

1.Puskesmas belum melaksanakan kesehatan kerja level 1 karena:

  • Puskesmas belum memiliki peta identifikasi bahaya dan risiko di puskesmas, dan
  • Peta wilayah kerja puskesmas.

2.Puskesmas belum melaksanakan kesehatan olahraga karena:

  • Tidak ada perencanaan kegiatan kesehatan olahraga
  • Tidak ada peregangan dan senam bersama

3.Tidak ada pembinaan kebjas pegawai puskesmas serta analisis hasil kebjas pegawai.

4.Masih banyak puskesmas belum melaporkan kegiatan kesehatan olahraga melalui        sitko, sehingga sulit untuk mencapai target yg telah ditetapkan oleh pusat.

5.Kab/kota melaksanakan kesehatan olahraga hanya bisa diperoleh dengan 10% puskesmas melaksanakan kesehatan olahraga.

Strategi dalam pencapaian Pelaporan Program Kesehatan Kerja dan Olahraga:
1. Mengundang Kabupaten/Kota untuk aplikasi SITKO dan diharapkan agar  

   kabupaten/kota juga meneruskannya ke tingkat puskesmas.
2.Mengajarkan puskesmas tentang aplikasi SITKO pada pertemuan kesehatan kerja di  

   kabupaten.
3.Membentuk grup SITKO kabupaten/kota dan puskesmas guna memudahkan

   koordinasi program.

4.Memberi feedback capaian program Kesehatan kerja dan olahraga dan  
   menshare capaian setiap saat, sehingga kabupaten/kota  berlomba-lomba utk input

   data.

Hambatan yang ditemui dalam pelaporan secara online adalah :

  1. Masih banyak puskesmas yang belum mengerti ttg aplikasi SITKO dan belum  

menginput data ke dalam aplikasi SITKO

  • Karena masa pandemi covid19 ini sehingga kegiatan di kabupaten/kota dan puskesmas  menjadi terhambat terutama kesehatan olahraga external

  3.  Kurangnya anggaran program kesjaor di puskesmas dan juga kabupaten/kota

  4.  PJ program yg masih silih berganti (tidak tetap) sehingga pencapaian program tidak

       maksimal

  •  Gangguan signal di tingkat kabupaten/kota dan puskesmas sehingga utk input data  

 jadi terganggu.

Oleh : Juniati, SKM

           (Jabfung Pembimbing Kesehatan Kerja Dinkes Provinsi Bengkulu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × two =