Selamat datang di Website Resmi

PERINGATAN HARI HYPERTENSI SE-DUNIA PROVINSI BENGKULU TAHUN 2019

Oleh: Yusniar Simarmata, SKM

Dalam rangka memperingati hari Hypertensi sedunia Tahun 2019 yang jatuh pada tanggal 15 Mei,  Dinas Kesehatan Provinsi  Bengkulu yang dimotori oleh  Bidang Pencegahan  dan Pengendalian Penyakit (P2P) dan Didang Kesehatan Masyarakat menggelar kegiatan deteksi dini risiko faktor (DDFR) penyakit tidak menular (PTM).  Kegiatannya dilaksanakan pada 28 Mei 2019. Sasarannya adalah pengemudi  angkutan  umum lebaran antar kota dan antar provinisi.  

Menurut Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular, kegiatan ini secara umum bertujuan pencegahan dan penemuan dini faktor risiko PTM dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat PTM.  Secara khusus bertujuan:

  1. Melakukan deteksi dini dan pemantauan factor risiko penyakit tidak menular (PTM).

  2. Menindaklanjuti secara dini faktor risiko yang ditemukan melalui konseling kesehatan dan segera merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Bertempat di Terminal Sungai Hitam Kota Bengkulu, terdaftar 109  (seratus sembilan) orang menjadi sasaran pemeriksaan DDFR PTM. Adapun pesertanya berasal dari PO. Damri, PO. Putra Raflesia, PO. Putra Simas, PO.SAN, PO. Sriwijaya.

Pemeriksaan dilaksanakan oleh tim Deteksi Dini Faktor Risiko PTM terdiri dari tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, RS Bhayangkara Bengkulu dan Puskesmas Anggut Atas Kota Bengkulu.

Hasil pemeriksaan Deteksi Dini Faktor Risiko PTM Pengemudi Angkutan Umum Lebaran antar Kota dan antar Provinisi Bengkulu Tahun 2019 dalam Rangka memperingati Hari Hipertensi se-Dunia di Provinsi Bengkulu tanggal 28 Mei 2019,yaitu:

NO U R A I A N JUMLAH %
1

Deteksi Dini Faktor Risiko PTM Pengemudi Angkutan Umum Lebaran antar Kota dan antar Provinisi Bengkulu Tahun 2019 dalam Rangka memperingati Hari Hipertensi se-Dunia di Provinsi Bengkulu tanggal 28 Mei 2019

109 orang  
2 Peserta yang diperiksa dengan hasil pengukuran tensi darah  Sistole ≥ 140 mmHg   32 orang 29,36
3 Peserta yang diperiksa dengan hasil pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS) ≥ 200 mgdl      2 orang 1,83
4 Peserta yang diperiksa dengan hasil Kolesterol Total  ≥ 190 mgdl   46  orang 42,20
5 Peserta yang diperiksa dengan hasil yang mengalami peningkatan pada pemeriksaan Asam Urat      19 orang 17,43
6 Peserta yang diperiksa dengan hasil yang merokok     90  orang 82,56
7 Peserta yang diperiksa dengan hasil tidak konsumsi buah dan sayur     63 orang 57,80
8 Peserta yang diperiksa dengan hasil Lingkar Perut > 90      28 orang 25,68
9 Peserta yang diperiksa dengan hasil IMT > 23     56 orang 51,38
10 Peserta yang diperiksa dengan hasil IMT < 18        1 orang 0,91

Berdasarkan hasil DDFR PTM dapat disimpulkan bahwa 29,36% peserta yang rentan mengalami hypertensi, 1,83% peserta berisiko mengalami penyakit Diabetes Mellitus dan 42,20% mengalami peningkatan kolesterol dalam darah, 51,38% peserta mengalami obesitas, 82,56% peserta merokok dan hanya 39,45% peserta yang memakan buah dan sayur.

Dengan dilakukannya Deteksi Dini Faktor Risiko PTM, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular. Dewasa ini kejadian Penyakit Tidak Menular (PTM) meningkat secara signifikan dan telah menjadi epidemi global. PTM merupakan ‘silent disease’ yang menjadi penyebab kematian terbanyak diseluruh dunia. PTM yang utama adalah penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes, kanker, dan penyakit pernafasan kronik serta cedera dan kekerasan.

PTM umumnya dikenal sebagai penyakit kronis dan penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup. Perilaku merokok, konsumsi alkohol dan diet yang tidak sehat serta kurangnya aktifitas fisik merupakan faktor risiko yang dapat menyebabkan 80% kematian akibat PTM. Kita perlu waspada juga untuk PTM, karena angkanya bisa sama dengan kasus gizi buruk. Catatan Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi PTM mengalami kenaikan dari sebelumnya. Beberapa penyakit kronis yang tercatat di antaranya kanker, stroke, gangguan ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi.

Data PTM global, menurut WHO, tiga dari lima penduduk meniggal akibat PTM. Pada Tahun 2010, WHO melaporkan bahwa PTM diperkirakan meningkatkan kematian sebesar 17% dalam dekade mendatang. Pada Tahun 2030, penyakit ini diproyeksikan mengancam kehidupan 52 juta orang. Setiap tahun, 9 juta orang berusia dibawah 60 tahun meninggal akibat PTM. Di kawasan Asia Tenggara, kematian yang disebabkan penyakit ini diperkirakan meningkat dari 2,6 juta menjadi 4,2 juta.

Di Indonesia, PTM menjadi penyebab terbanyak kematian penduduk. Berdasarkan data Riskesdas Tahun 2018 proporsi Penyakit Tidak Menular (PTM) khususnya Penyakit Diabetes Mellitus (DM) dan Stroke mengalami peningkatan dari Tahun 2013 yaitu untuk penyakit DM dari 2,1 % pada Tahun 2013 menjadi 8,4 % pada Tahun 2018 dan untuk penyakit Stroke dari 12,1 % pada Tahun 2013 menjadi 18,3  % pada Tahun 2018.

Menjelang berakhirnya periode RPJMN 2015-2019 dalam upaya pengendalian penyakit tidak menular (PTM), capaian prevalensi tekanan darah tinggi, prevalensi obesitas pada penduduk usia lebih dari 18 tahun, dan prevalensi merokok penduduk usia ≤ 18 tahun masih lebih tinggi dari target yang ditetapkan. Tingginya prevalensi penyakit tidak menular disebabkan oleh faktor risiko perilaku dan lingkungan seperti kurangnya aktivitas fisik, kurangnya konsumsi sayur dan buah, merokok, dan lain sebagainya. Untuk mengoptimalkan upaya pengendalian faktor risiko PTM, Pemerintah mencanangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Gerakan yang melibatkan lintas sektor ini ditujukan untuk meningkatkan perilaku hidup sehat yang didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana serta peningkatan lingkungan hidup sehat.

Berbagai upaya yang telah dilakukan ini, tentunya menghadapi berbagai tantangan khususnya koordinasi dan penguatan intervensi sensitif serta konvergensi dan keberlanjutan program masih perlu menjadi perhatian bersama oleh berbagai pemangku kepentingan, sektor pemerintah, swasta maupun masyarakat. Menjadi tanggung jawab kita bersama, karena upaya pencegahan dan pengendalian PTM  sbagaimana tercantum dalam Undang-undang RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 158 ayat 1 yang menyatakan bahwa pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat melakukan upaya pencegahan, pengendalian, dan penanganan PTM beserta akibat yang ditimbulkannya.

Salah satu upaya tersebut adalah mencegah faktor risiko dengan mengkampanyekan perilaku hidup sehat yaitu CERDIK (Cek kesehatan, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitasfisik, Diet sehat, Istirahat cukup dan Kelola stress), sehingga diharapkan dapat mengurangi angka morbiditas dan mortalitas yang disebabkan penyakit tidak menular di masyarakat. Upaya tersebut melibatkan berbagai pihak terkait. Berbagai pihak tersebut harus menyadari, peduli, dan berperan dalam pengendalian PTM. Hal tersebut menunjukkan bahwa upaya advokasi  merupakan kegiatan yang harus dilakukan dengan intensif dan berkesinambungan untuk membangun komitmen dan aksi konkrit dalam pengendalian PTM bersama dari seluruh elemen masyarakat yang peduli terhadap masalah ancaman akibat PTM, salah satunya melalui Posbindu PTM. Posbindu merupakan kegiatan yang melibatkan masyarakat dalam kegiatan deteksi dini, pemantauan dan tindak lanjut faktor risiko PTM  secara mandiri, terpadu, rutin dan periodik/ berkesinambungan dibawah binaan Puskesmas.

Berdasarkan hasil Kegiatan Deteksi Dini Faktor Risiko PTM Pengemudi Angkutan  Umum Lebaran antar Kota dan antar Provinisi Bengkulu Tahun 2019 dalam Rangka memperingati Hari Hipertensi se-Dunia di Provinsi Bengkulu tanggal 28 Mei 2019, dapat disampaikan beberapa saran sebagai berikut:

  1. Perlu diadakan Kegiatan Deteksi Dini Faktor Risiko PTM setiap bulan untuk pemeriksaan Tekanan darah dan secara rutin berkesinambungan setiap 3 bulan sekali untuk faktor risiko PTM bagi Pengemudi Angkutan  Umum Lebaran antar Kota dan antar Provinisi Bengkulu.

  2. Pendekatan keluarga dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) sebagai strategi untuk perubahan perilaku keluarga dan masyarakat khususnya dalam pengenalan diri terhadap risiko penyakit
  3. Koordinasi dan penguatan intervensi sensitif serta konvergensi dan keberlanjutan program bersama oleh berbagai pemangku kepentingan, sektor pemerintah, swasta maupun masyarakat  dengan harapan turut berperan melaksanakan Deteksi Dini Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular
  4. Komitmen yang tinggi pemangku kepentingan, sektor pemerintah, swasta maupun masyarakat untuk ikut berperan serta dalam bekerja bersama dalam meningkatkan penaggulangan Penyakit Tidak Menular.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 − five =