Lomba Gapura Dalam Rangka HUT RI ke 73

Info Lengkap Silahkan Klik disini

Selanjutnya…

Profil Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu

Oleh: Supardi, SH., M.Kes

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu yang dilantik oleh Gubernur Bengkulu pada 29 Maret 2017 adalah H. Herwan Antoni, SKM., M.Kes., M.Si. Sebelumnya beliau menjabat Kepala Dinas Kesehatn Kota Bengkulu dan  terpilih setelah mengikuti proses lelang jabatan yang digelar Pemerintah Provinsi Bengkulu.

Dilahirkan di Desa Tunas Harapan Kabupaten Rejang Lebong empat puluh lima tahun yang lalu dari pasangan petani H. Zainul Bakri  dan Hj. Dalima. Mengenyam pendidikan sekolah dasar sampai dengan SLTA di Curup, yaitu: SDN 23 Tunas Harapan Curup tamat tahun 1986; SMPN 1 Curup tamat tahun 1989; SMAN 1 Curup tahun 1992. Melanjutkan jenjang pendidikan D III Gizi di Akademi Gizi Depkes Palembang, tamat tahun 1995.

Meniti karir sebagai CPNS dengan pangkat golongan II/b dan ditugaskan di Puskesmas Muara Aman pada tahun 1997 sebagai tenaga gizi puskesmas. Selanjutnya berkesempatan mengikuti tugas belajar di Universitas Indonesia dan memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat tahun 2002. Kembali mendapat kesempatan tugas belajar di Universitas Gadjah Mada tahun 2005 dan menyadang gelar Magister Kesehatan Masyarakat pada tahun 2005.

Sekembalinya dari pendidikan beliu dipercaya menjadi Kepala Seksi Kesga dan Gizi  di Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong tepatnya 26 Oktober 2005. Disela-sela kesibukannya beliau menyempatkan diri mengikuti pendidikan Magister Pemerintahan Daerah STIAMI Jakarta yang lulus Tahun 2008. Jabatan berikutnya adalah Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dan Farmasi 28 Oktober 2009, sebagai Sekretaris Dinas Kesehatan pada 22 November 2010 dan menjadi PLT. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong pada 27 September 2011.

Suami dari Mardliyataini. HS, SST, SKM  yang berprofesi sebagai ASN kesehatan ini,  dilantik sebagai Kepla Dinas Kesehatan Kota Bengkulu pada 12 Januari 2015 dan bertahan sekitar dua tahun hingga akhirnya dilantik menjadi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu pada 29 Maret 2017.

Prinsip yang diyakininya ialah bekerja dengan penuh dedikasi, disiplin dan amanah yang menghantarkan ayah dari 3 orang anak, yakni: 1) Zahran Dzaki Salsabil  yang berstatur pelajar SLTA; 2) M. Irsyad Alfarouq berstatus sebagai murid SD IT Rabani Bengkulu dan Arifah Zakiyyah Urfa  meraih jabatan fungsional teknis tertinggi di Provinsi Bengkulu.

 

Motto:

  1. Bekerja dengan penuh dedikasi, disiplin dan amanah.
  2. All out dalam setiap mengikuti kegiatan apapun.

 

Curikulum vitae:

Nama             : H. Herwan Antoni, SKM.,M.Kes., M.Si

Ttl                : Tunas Harapan Kec. Curup, 08-10-1973

Pendidikan :   S2 Magister Pemerintahan Daerah STIAMI Jakarta Tahun  2008

S2 Magiister Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada 2005

S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia 2002

SMAN 1 Curup Tahun 1992

SMPN 1 Curup Tahun 1989

SDN 23 Simpang Empat Curup Tahun 1986

Diklat        :   1.    Dikat PIM IV Tahun 2007

  1. Diklat PIM II Tahun 2016
  2. Diklat Teknis Enumerator PMT-AS Tahun 1998
  3. Diklat Teknis Rujukan Kasus Gizi Puskesmas Tahun 1998
  4. Diklat Teknis Pojok Gizi Puskesmas Tahun 1998
  5. Diklat Teknis Konseling Gizi bagi Petugas Puskesmas Tahun 1998
  6. Diklat Teknis Pengadaan Barang dan Jasa Proyrk DHS 1-ADB Provinsi Bengkulu Tahun 2007
  7. Diklat Teknis Manajemen Mutu dan Pelayanan Kesehatan Tahun 2008
  8. Diklat Teknis Riskesdas Tahun 2010
  9. Diklat Teknis Training Of Surveyor Metode Tahun 2010
  10. Diklat Teknis STBM tahun 2011

 

Riwayat Jabatan :

  1. Kepala Seksi Gizi dan Institusi Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong 26-10-2005 s.d. 28-11-2009.
  2. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dan Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong 28-11-2009 s.d. 19-10-2010.
  3. Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong 19-10-2010 s.d. 27-09-2011
  4. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong 27-09-2011 s.d. 15-04-2013
  5. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu 12-01-2015 s.d. 06 April
  6. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu o6 April 2017 sampai dengan sekarang.

 

 

Alamat      :   Rumah Dinas Kesehatan Jalan Indra Giri No. 2 Padang Harapan Bengkulu.

Istri         :   Mardliyataini HS, SST, SKM (ASN Pemprov. Bengkulu)

Anak         :   3 orang (Zahran Dzaki Salsabil M. Irsyad Alfarouq dan Arifah Dzakiyyah Ulfa).

 

 

Peningkatan Upaya Kesehatan Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Dermayu Melalui Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)

Salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan di Indonesia adalah puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat). Puskesmas adalah unit pelaksana pembangunan kesehatan di wilayah kecamatan. Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Puskesmas dengan Desa sangat berkaitan dalam pencapaian tingkat kesehatan masyarakat yang optimal.

Desa adalah pemukiman manusia dengan populasi antara beberapa ratus hingga beberapa ribu jiwa dan berlokasi di daerah pedesaan. Secara administratif Indonesia, Desa adalah pembagian wilayah administratif yang berada di bawah kecamatan dan dipimpin oleh kepala Desa. Sebuah Desa secara administratif terdiri dari beberapa kampung atau dusun. Di dalam perdesaan masih sangat banyak masalah kesehatan yang perlu di perbaiki dan dimusyawahkan bersama dengan pihak kesehatan yakni MMD (Musyawarah Masyarakat Desa} dalam memberi solusi dalam memperbaiki masalah yang terdapat di Desa. Kegiatan MMD ini merupakan tindak lanjut dari Survei Mawas Diri (SMD). SMD adalah survey yang dilakukan secara rutin untuk mengetahui permasalahan kesehatan di masyarakat. Dalam SMD di wilayah kerja Puskesmas Dermayu menggunakan berupa kuesioner yang dipertanyakan langsung dengan masyarakat, dimanaPuskesmas Dermayu terdapat 9 Desa 1 Kelurahan. Informasi yang di dapatkan melalui survey ini sangat berguna bagi identifikasi masalah dan masukan untuk pemecahan masalah kesehatan di masyarakat.

Saya sebagai promotor kesehatan di UPTD Puskesmas Dermayu Kabupaten Seluma bengkulu, akan menceritakan perjalanan saya menjadi promotor kesehatan. Pada tahun 2017 tahun pertama saya menjadi promotor kesehatan, saya cukup sulit untuk menjalankan profesi saya, Alhamdulillah saya memiliki senior dan Kepala Puskesmas yang selalu membimbing dan mendukung saya dalam menjalankan setiap kegiatan.

Pada bulan Februari 2017, saya dan rekan promkes melaksanakan SMD di 9 Desa dan 1 Kelurahan, dan Desa turut terlibat dalam SMD ini. Alhamdulillah SMD dapat dukungan yang baik dari kepala Desa beserta perangkatnya, sehingga berjalan dengan lancar dan mendapatkan hasil permasalahan yang ditemukan di Desa. Permasalahan tersebut akan dibahas dalam MMD.

Bulan April 2017 Puskesmas bekerjasama dengan Desa melaksanakan MMD di seluruh Desa/kelurahan wilayah kerja Puskesmas Dermayu. Dalam kegiatan ini melibatkan seluruh Lintas Sektor dan dihadiri perwakilan masyarakat.

 

 

 

 

Dalam pembahasan yang diangkat yakni sebagai berikut :
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2. Memberi bayi ASI Ekslusif
3. Menimbang balita setiap bulan
4. Menggunakan air bersih
5. Mencuci tangandengan air bersih dan sabun
6. Menggunakan jamban sehat
7. Memberantas jentik nyamuk dirumah
8. Makan buah dan sayur setiaphari
9. Melakukan aktifitas setiap hari
10. Tidak merokok di dalam rumah
11. Keluarga menjadi anggota JKN

Tujuan dari MMD adalah sebagai berikut :

1.Mengenal masalah kesehatan di wilayahnya
2. Bersepakat untuk menanggulangi masalah kesehatan melalui pelaksanaan Desa siaga dan Poskesdes
3. Menyusun rencana kerja untuk menanggulangi masalah kesehatan, melaksanakan Desa siaga dan Poskesdes

(Kepala Puskesmas Dermayu saat menyampaikan kata sambutan)

(Pembacaan hasil Survei Mawas Diri)

Dalam kegiatan ini Kepala puskesmas Dermayu mengharapkan sekali adanya kerjasama yang baik dengan Desa dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Beliau juga menyampaikan kepada lintas sektor untuk tidak ragu meminta bantuan kepada Puskesmas khususnya pada tim Prromkes dalam segi apa pun, misal penyuluhan kesehatan, pembinaan kader, dan lain lainnya.

Setelah pelaksanaan MMD di dapati masalah kesehatan yang ada di 9 Desa dan 1 kelurahan diwilayah kerja Puskesmas Dermayu yang sangat prioritas adalah sebagai berikut

1. Masih ada beberapa Desa yang masyarakatnya belum memiliki jamban. Disini kami meminta Desa untuk jambanisasi dengan mengalokasikan anggaran dana Desa.

2. Masih rendahnya pemberian ASI Ekslusif pada bayi. Disini lintas sektor meminta kepada pihak Puskesmas untuk lebih sering memberikan pengetahuan tentang ASI Ekslusif dan langsung memantau ke lapangan pada Ibu yang baru melahirkan

3. 73,4% prilaku merokok masih dalam rumah. Diharapkan kepada lintas sektor membuat perdes dilarang merokok dalam rumah, karena rokok sangat membahayakan anggota keluarga lainnya

4. Masih ada masyarakat yang tidak terlindungi oleh asuransi kesehatan, kepada lintas sektor agar dapat melakukan pendataan ulang dan menyarankan masyarakat untuk membuat asuransi kesehatan sesuai dengan kemampuannya

5. Kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang pembuangan sampah. Diharapkan Desa membuat Perdes tidak membuang sampah ke sembarangan tempat
Setiap Desa yang kami datangi,apresiasi peserta MMD sangat baik dan mereka sangat antusias untukmemperbaiki permasalahan yang ada. Di akhir acara para lintas sektor menyampaikankesuksesan Desa dalam bidang kesehatan tidak lepas dari bimbingan dan bantuan dari pihak Puskesmas. Kami dari pihak Puskesmas berterima kasih atas undangannya, kami akan selalu berusaha untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan serta berusaha merubah perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat secara mandiri. (Oleh : Henda Lestiana)

( Acara diakhiri poto bersama, Salam GERMAS)

Pengembangan Model Inovasi Penurunan AKI dan AKB Provinsi Bengkulu Tahun 2018

Kegiatan pertemuan Pengembangan Model Inovasi Penurunan AKI dan AKB Provinsi Bengkulu Tahun 2018 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu digelar di Aula Hotel Nala Sea Side Pantai Panjang Kota Bengkulu (13/5/18) selama 3 hari.

Kegiatan pertemuan ini di ikuti oleh 40 (empat puluh) orang peserta yang berasal dari Dinas Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Provinsi Bengkulu, Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Puskesmas di Kabupaten dengan Jumlah Kematian Ibu dan Bayi Tertinggi, Puskesmas Nusa Indah Kota Bengkulu.

Acara ini bertujuan agar terciptanya model inovasi pengembangan percepatan penurunan AKI dan AKB di Provinsi Bengkulu. Dan secara lebih spesifik bertujuan untuk mengetahui permasalahan dan kendala dalam percepatan penurunan Angka Kematian Ibu serta permasalahan dan kendala dalam percepatan penurunan Angka Kematian Anak.

Dalam pertemuan ini di isi oleh pemateri/narasumber yang berasal dari Lembaga Administrasi Negara RI (LAN RI), Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Dinas Kesehatan Kabupaten Lebong, Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, dan Pengelola Program Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu.

Dari pengalaman era MDGs (2000 – 2015), Indonesia ternyata belum berhasil menurunkan angka kematian ibu, akses kepada sanitasi dan air minum, dan penurunan prevalensi AIDS dan HIV. Hal ini disebabkan karena pemerintah daerha tidak aktif terlibat di dalam pelaksanaan MDGs. Juga karena pemerintah daerah kurang didukung. Salah satu upaya untuk mendorong keberhasilan SDGs di daerah adalah melalui penyediaan informasi yang cukup bagi pemerintah daerah.

Sasaran pembangunan kesehatan yang akan dicapai pada 2025 adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat yang ditunjukkan oleh meningkatnya Umur Harapan Hidup, menurunnya Angka Kematian Bayi, menurunnya Angka Kematian Ibu, menurunnya prevalensi gizi kurang pada balita. Tujuan Renstra Kementerian Kesehatan pada tahun 2015 – 2019, yaitu :

  1. Meningkatnya status kesehatan masyarakat
  2. Meningkatnya daya tanggap (responsive) dan perlindungan masyarakat terhadap risiko sosial dan finansial di bidang kesehatan

Beberapa wilayah di Indonesia masih mengalami kendala dalam menurunkan AKI dan AKB, dimana terlihat bahwa peran pemerintah daerah sangat menentukan keberhasilan dalam upaya penurunan AKI dan AKB. Semakin responsif/tanggap suatu pemerintah daerah maka penurunan AKI dan AKB akan semakin mudah dicapai. Pemerintah Provinsi Bengkulu mesti mencari metode inovasi dalm percepatan penurunan AKI dan AKB. Memperharikan hal tersebut maka dipandang perlu untuk mencari pengembangan inovasi dalam penurunan Angka Kematan Ibu dan Angka Kematian Bayi di Provinsi Bengkulu.

Sedangkan kendala dan permasalahan yang ada saat ini yaitu masih tingginya Angka Kematian Ibu, Kematian Bayi dan Prevalensi Balita Stunting.

Pertemuan Advokasi Penggunaan Dana Desa Untuk Peningkatan Kesehatan Masyarakat Tingkat Provinsi Tahun 2018

Pertemuan Advokasi Penggunaan Dana Desa Untuk Peningkatan Kesehatan Masyarakat Tingkat Provinsi Tahun 2018 digelar di Hotel Nala Sea Side Pantai Panjang Kota Bengkulu selama 3 hari yang dimulai pada selasa (08/5/18).

Upaya peningkatan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan dapat diwujudkan antara lain melalui keaktifan Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) sebagai wahana pemberdayaan masyarakat yang dibentuk atas dasar kebutuhan masyarakat, dikelola oleh, dari untuk dan bersama masyarakat. Tujuannya agar masyarakat mampu mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi secara mandiri dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan lingkungan yang sehat dan kondusif.

Pengembangan UKBM yang menggunakan dana desa perlu dirancang dan dituangkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes), Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa dan Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes) sesuai kewenangan skala desa, analisa kebutuhan prioritas dan sumber daya yang dimiliki desa.

Peraturan Kemendes Nomor 19 Tahun 2017 mengatur secara detil tentang prioritas dana desa tahun 2018. Penetapan prioritas penggunaan dana desa ini bertujuan sebagai pedoman dan acuan bagi penyelenggaraan kewenangan, acuan untuk Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota khususnya di Provinsi Bengkulu dalam menyusun pedoman teknis penggunaan atau pemanfaatan Dana Desa dan acuan bagi Pemerintah Daerah Pusat dalam pemantauan dan evaluasi pelaksanaan penggunaan atau pemanfaatan dana desa.

Issue penurunan prevalensi stunting yang di melibatkan banyak pihak termasuk perangkat desa dengan penggunaan dana desa menjadikan penting dilakukan Advokasi Dalam Penggunaan Dana Desa Untuk Meningkatkan Kesehatan Masyarakat di Provinsi Bengkulu khususnya untuk lokasi fokus Kabupaten Kaur dan Kabupaten Bengkulu Utara.

Kegiatan ini merupakan kegiatan untuk mengadvokasi penggunaan dana desa antar lintas program dan lintas sektor terkait tentang prioritas penggunaan dana desa untuk meningkatkan kesehatan masyarakat tahun 2018 khususnya lokus prevalensi penurunan stunting di Kabupaten Kaur dan Kabupaten Bengkulu Utara.

Pertemuan ini secara lebih spesifik bertujuan untuk sosialisasi, Advokasi, mengenai pedoman umum pemanfaatan dana desa khususnya lokus prevalensi penurunan stunting di Kabupaten Kaur dan Kabupaten Bengkulu Utara. Melakukan advokasi terhadap lintas sektor terkait mengenai pemanfaatan dana desa khususnya lokus prevalensi penurunan stunting di Kabupaten Kaur dan Kabupaten Bengkulu Utara serta perencanaan pemanfaatan dana desa dengan bekerja sama antar lintas sektor dan lintas program terkait khususnya lokus prevalensi penurunan stunting di Kabupaten Kaur dan Kabupaten Bengkulu Utara.

Pertemuan Advokasi Penggunaan Dana Desa Untuk Peningkatan Kesehatan Masyarakat Di Provinsi Bengkulu Tahun 2018  di ikuti oleh 40 orang dari 10 Kabupaten/kota diantaranya :

  • 11 (sebelas) orang Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten/Kota Se-Provinsi Bengkulu
  • 9 (sembilan) orang Kepala Desa Lokus Penurunan Prevalensi Stunting di Kabupaten Bengkulu Utara
  • 5 (lima) orang Kepala Puskesmas di Wilayah Lokus Penurunan Prevalensi Stunting di Kabupaten Bengkulu Utara
  • 9 (sembilan) orang Kepala Desa Lokus Penurunan Prevalensi Stunting di Kabupaten Kaur
  • 6 (enam) orang Kepala Puskesmas di Wilayah Lokus Penurunan Prevalensi Stunting di Kabupaten Kaur

Untuk asal peserta secara detilnya yaitu ;

Dinas PMD Kabupaten Bengkulu Tengah
Dinas PMD Kabupaten Kepahiang
Dinas PMD Kabupaten Kepahiang
Dinas PMD Kabupaten Bengkulu Selatan
Dinas PMD Kabupaten Rejang Lebong
Dinas PMD Kabupaten Lebong
Dinas PMD Kabupaten Kaur
Dinas PMD Kabupaten Bengkulu Utara
Dinas PMD Kota Bengkulu
Kepala PKM Karang Pulau Kab. B/U
Kepala PKM Tj Agung Palik Kab. B/U
Kepala PKM Air Padang Kab. B/U
Kepala PKM D4 Ketahun Kab. B/U
Staf PKM Dusun Curup Kab. B/U
Kasi Pemerintahan Desa Padang Kala Kec. Air Padang Kab. B/U
Kepala Desa Bukit Harapan Kab. B/U
Sekretaris Desa Sawang Lebar Kab. B/U
Kepala PKM Bintuhan Kabupaten Kaur
Kepala PKM Tanjung Kemuning Kab. Kaur
Kepala PKM Luas Kab. Kaur
Kepala PKM Lungkang Kule Kab. Kaur
Kepala PKM Bintuhan Kab. Kaur
Staf Puskesmas Nasal Kab. Kaur
Kepala Desa Datar Lebar II Kab. Kaur
Kepala Desa Cucupan Kab. Kaur
Kepala Desa Babat Kab. Kaur
Kasi Pemerintahan Desa Masria Baru Kabupaten Kaur
Kepala Desa Pengubaian Kab. Kaur
Kepala Desa Tuguk kec. Luas Kab. Kaur

Hanya 29 (dua puluh sembilan) orang peserta pertemuan yang hadir pada pelaksanaan pertemuan, sementara 11 (sebelas) orang lagi tidak hadir sampai pelaksanaan pertemuan berakhir.

Dalam pertemuan ini telah mengundang beberapa Narasumber dari berbagai macam bidang yang berasal dari :

  • Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI
  • Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu
  • Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Bengkulu
  • Kepala Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Bengkulu
  • Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu
  • Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu
  • Pengelola Program

Dinas Kesehatan Gelar Rapat Koordinasi Program DAK Non Fisik BOK Provinsi Bengkulu Tahun 2018

Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu menggelar Pertemuan Rapat Koordinasi Program DAK Non Fisik BOK Provinsi Bengkulu pada Minggu (29/7/18) di Nala Sea Side Hotel Pantai Panjang Kota Bengkulu.

Acara tersebut dibuka oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Azhar. SH, M.Kes pagi minggu tersebut. Azhar mengatakan ; Penunjang kegiatan program sangatlah penting didukung dengan usulan dana yang dapat melengkapi kekurangan dana program yang ada. Untuk itu beliau menambahkan ; seyogyanya para penyusun dana harus memperhatikan usulan yang diajukan jangan sampai terjadi tumpang tindih yang menyebabkan dana tidak dapat digunakan. Beliau juga mengingatkan dalam pengusulan dana harus memperhatikan aspek-aspek se—efisien dan se-efektif mungkin imbuhnya

Pertemuan ini juga dilengkapi oleh narasumber yang handal dan professional dalam bidangnya antara lain :

  • Ibu Dr. Mularsih Restianingrum, MKM dari Biro Perencanaan dan Anggaran Kementerian Kesehatan RI
  • Bapak DR. Ir. Bambang Setiaji, SKM, M.Kes dari Sesditjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI. Namun karena sesuatu hal beliau tidak bisa hadir mengisi acara tersebut, sehingga materi beliau disampaikan oleh Narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu yaitu Bapak Eri Murianto, SKM, MM
  • Bapak Azhar, SH, M.Kes dari Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu

Peserta pertemuan ini berjumlah 47 (Empat Puluh Tujuh) orang dan ditambah dengan 5 orang Pelaksana Kegiatan yaitu sebagai berikut  :

Kasubbag Program, Informasi & Hukum Dinkes RL
Kasi Kesega & Gizi Dinkes RL
Staf Subbag Program, Informasi & hukum Dinkes RL
Staf Keuangan & Pengelolaan Aset Dinkes RL
Kasi Kesega & Gizi Dinkes BKL Utara
Staf Subbag Perencanaan  Dinkes BKL Utara
Staf Kesga dan Gizi Dinkes BKL Utara
Staf Subbag Perencanaan  Dinkes BKL Utara
Kasubbag Program & Informasi Dinkes Kepahiang
Staf Program & Informasi Dinkes Kepahiang
Staf Seksi Yankes & Jamkes Dinkes Kepahiang
Staf Kesga Dinkes Kepahiang
Kasubbag Perencanaan & Keuangan Dinkes BKL Selatan
Staf Perencanaan & Keuangan Dinkes BKL Selatan
Staf Perencanaan & Keuangan Dinkes BKL Selatan
Staf KIA dan Gizi Dinkes BKL Selatan
Kasubbag Perencanaan & Keuangan Dinkes Kaur
Staf Perencanaan & Keuangan Dinkes Kaur
Kasi Yankes Dinkes Kaur
Kasi Kesga & Gizi Dinkes Kaur
Kasubb Perencanaan & Keuangan Dinkes Lebong
Pengelola BOK Dinkes Lebong
Staf Pengelola Perencanaan Kab.Lebong
Pengelola Jampersal Dinkes Kab.Lebong
Kasubag Perencanaan & Keuangan Dinkes Mukomuko
Staf Perencanaan & Keuangan Dinkes Mukomuko
Pengelola BOK Dinkes Mukomuko
Pengelola Jampersal Dinkes Mukomuko
Kasubag Perencanaan & Keuangan Dinkes BKL Tengah
Staf Perencanaan & Keuangan Dinkes BKL Tengah
Pegelola BOK Dinkes BKL Tengah
Pengelola Jampersal Dinkes BKL Tengah
Kasubbag Informasi & Humas Dinkes Seluma
Kasi Sumber Daya Manusia & Kesehatan Dinkes Seluma
Staf Seksi Kesga & Gizi Dinkes Seluma
Staf Informasi & Humas Dinkes Seluma
Pengelola BOK Kota Bengkulu
Pengelola Jampersal Kota Bengkulu
Kasubbag Program Informasi dan Humas
Staf Subbag Program dan Humas
Staf Kesga & Gizi Dinkes Prov.BKL
Staf PTM & Keswa Dinkes Prov. BKL
Staf SDMK Dinkes Prov.BKL
Staf Labkesda Prov.BKL
Staf Bapelkes Provinsi BKL
Staf Subbag PEP Dinkes Prov.BKL

PENYAKIT JANTUNG KORONER

Penyakit jantung koroner merupakan kasus utama penyebab kematian dan kesakitan pada manusia. Meskipun tindakan pencegahan sudah dilakukan seperti pengaturan makanan (diet), menurunkan kolesterol dan perawatan badan, diabetes dan hipertensi, penyakit jantung koroner ini tetap menjadi masalah utama kesehatan. Masalah utama pada penyakit jantung koroner adalah aterosklerosis koroner. Merupakan penyakit progresif yang terjadi secara bertahap yaitu penebalan dinding arteri koroner. Aterosklerosis koroner dianggap sebagai proses pasif karena sebagian besar dihasilkan oleh kolesterol yang berbeda pada dinding arteri (Yuet Wai Kan, 2000).

Penyakit jantung koroner merupakan pembunuh nomor satu di negara-negara maju dan dapat juga terjadi di negara-negara berkembang. Organisasi kesehatan dunia (WHO) telah mengemukakan fakta bahwa penyakit jantung koroner (PJK) merupakan epidemi modern dan tidak dapat dihindari oleh faktor penuaan. Diperkirakan bahwa jika insiden PJK mencapai nol maka dapat meningkatkan harapan hidup 3% sampai 9% (Shivaramakrishna, 2010).

Gambaran kasus di atas menunjukkan pentingnya penyakit ini yang belum mendapat perhatian mengenai besarny resiko seseorang, ketidakmampuan, hilangnya pekerjaan, dan pada saat masuk rumah sakit. Pada dekade sekarang sejak konferensi klinis terakhir oleh New York Heart Association atau asosiasi kesehatan New York menyatakan subjek ini, dari sejumlah lokakrya telah mengeluarkan informasi baru yang penting mengenai penyakit ini, cara pencegahan dan kontrol. Hal ini dinyatakan dalam besarnya perubahan yang jelas secara klinis dari PJK dan banyaknya faktor yang mungkin relevan, besarnya jumlah pasien yang ikut, kelompok yang akan termasuk dalam semua kasus PJK yang timbul pada populasi umum dengan karakteristik jelas.

Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan salah satu dari banyak penyakit yang mematikan dan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Data statistik dunia melaporkan tentang insiden terbesar dan prevalensi PJK di dunia ternyata semakin meningkat. Menurut WHO, diperkirakan pada tahun 2005 terdapat 17,5 juta orang meninggal karena penyakit kardiovaskuler, mewakili 30% dari seluruh kasus kematian di dunia. Dari kematian ini, 7,6 juta diantaranya terkena serangan jantung dan 5,7 juta diantaranya stroke (Cristoper. C, 2010).

Beban PJK meningkat di India. Diperkirakan prevalensi PJK adalah sebesar 3-4% di daerah pedesaan dan 8-11% di daerah perkotaan diantaranya adalah usia di atas 20 tahun, mewakili dua kali lipat di daerah pedesaan dan enam kali lipat di daerah perkotaan selama empat dekade terakhir. Pada tahun 2003 di India mencapai 29,8 juta orang diperkirakan menderita PJK, 14,1 juta diantaranya adalah di daerah perkotaan dan 15,7 juta di daerah pedesaan (Shivaramakrishna, 2010).

Hal ini diperkirakan dua kali lipat dalam dua dekade mendatang, menjadikannya penyebab utama terbesar kematian pada tahun 2020. Sementara penyebab utama PJK di India masih diperdebatkan, dari sudut pandang kesehatan masyarakat terlihat jelas bahwa peralihan pada pola makan (diet) dan gaya hidup dengan urbanisasi dapat menjadi potensi meningkatnya resiko terkena PJK (Shivaramakrishna, 2010).

KELUHAN DAN GEJALA PENYAKIT

Semua pasien PJK memiliki pengalaman dan tanda-tanda secara fisik dan gejala PJK dari waktu ke waktu yaitu mengalami perasaan nyeri di dada, kegelisahan atau perasaan sakit pada kaki, pinggang, perut, tulang rusuk, rahang, sendi, tulang belakang, tenggorokan dan tulang leher belakang, merasa lemah, lelah dan kehilanagn energi, nafas pendek, pusing, sakit kepala, tidak mampu untuk melakukan pekerjaan dengan normal sebagai akibat dari obesitas. Semua pasien PJK yang mendapat pengobatan atau perwatan fisik sebelumnya sudah melakukan pengobatan mengenai asma, kegemukan, tidak menentunya detak jantung, penyakit pendarahan jantung, paru-paru, ginjal atau masalah pada spinal, rasa sakit pada kaki, diabetes atau arthritis.

Sebagian besar dari pasien PJK telah aktif dengan kehidupan mereka sehari-hari, tetapi serangan jantung koroner membuatnya tidak aktif, tidur, lemah, tidak berdaya dan tergantung pada pengobatan-pengobatan dan keluarga maupun tetangga untuk mendapatkan dukungan. Secara psikologi, pasien PJK mengalami ketakutan yang luar biasa, kegelisahan, khawatir dan depresi. Sementara beberapa yang lain menjalani keadaan normal pikiran dan mendengarkan berita-berita baru dari statusnya yang positif terkena PJK. Sebagian besar dari pasien PJK merasa bosan dengan kehidupannya, berlebihan dan di bawah emosional, mudah marah dan bermusuhan

PEMERIKSAAN PENUNJANG (DIAGNOSIS)

Diagnosis untuk penyakit jantung koroner dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik, anamnesis. Pemeriksaan USG jantung dapat dilakukan dengan ekokardiografi. Sistem ekokardiografi dapat menampilkan, menganalisa dan menangkap hati secara penuh dalam satu detak jantung. Perkembangan teknologi telah menciptakan alat baru yaitu Computed Tomography (CT) yang sudah lama berperan penting dalam mendeteksi dini penyakit selama bertahun-tahun. Semakin berkembangnya teknologi, sehingga dapat menciptakan generasi baru dengan CT scanner yang dapat melakukan CT angiografi koroner (CTA) dengan mengurangi dosis radiasi pada pemeriksaan klinis secara rutin.

Selain dengan CT juga dengan menggunakan tes in vitro di laboratorium, melalui penggunaan biomarker baru yang terutama dalam perawatan darurat dapat mempengaruhi dan mendukung keputusan klinis. Pada gagal jantung penggunaan natriuretik beredar-peptida B (BNP) sangat relevan karena tingkat biomarker ini adalah indikator yang baik untuk mengetahui sejauh mana fungsi jantung terganggu. BNP digunakan baik untuk diagnosis awal dan untuk pemantauan terapi. Pada beberapa pasien, serangan jantung menjadi penyebab langsung insufiensi jantung, sehingga deteksi cepat dari infark miokard sangat penting dalam mencegah bertambah parahnya kerusakan miokard dan kegagalan jantung selanjutnya (Ekinci, 2010).

FAKTOR RISIKO

Faktor resiko utama pada PJK yaitu kolesterol tinggi, tingginya tekanan darah dan merokok. Kedua, faktor risiko mencakup terganggunya metabolisme glukosa sehingga menyebabkan insulin kembali sistance dan dalam beberapa kasus diabetes. Pemahaman baru menemukan penyebab lain yang dapat mengidentifikasi risiko penyakit jantung koroner seperti konsentrasi fibrinogen dan C-reaktif protein dalam darah.

Beberapa faktor psikososial berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner yaitu untuk bukti kuat seperti stress kerja, kurangnya integrasi sosial, depresi dan gejala depresi dengan sugestif sedangkan untuk bukti lemah seperti marah, konflik atau perselisihan dan kegelisahan. Faktor ekonomi, pendidikan, isolasi sosial, dan faktor-faktor psikososial yang lainnya merupakan penyebab tidak langsung penyakit jantung koroner. Mereka tidak mempengaruhi penyakit patologi secara l

angsung tetapi melakukannya melalui proses yang lebih proksimal.

CARA PENCEGAHAN

Banyak upaya yang dilakukan oleh negara berkembang untuk menjadi lebih baik, yaitu dilaksanakan pengadaan makanan dan program gizi, program aktivitas fisik atau olahraga, anti merokok, program anti hipertensi yang sebaiknya dipromosikan dengan segera.

Secara primer, program pencegahan secara primordial mendapat prioritas tinggi sejak itu dan dapat diraih oleh populasi yang besar. Strategi ini meli

batkan peran ibu dalam pendidikan kesehatan. Yang kedua, seseorang dengan risiko tinggi dapat dicegah dengan melakukan pelayanan kesehatan ke rumah sakit secara murah dan hal itu sebaiknya lebih ditingkatkan.

CARA PENGOBATAN

Pada prinsipnya pengobatan PJK ditujukan agar terjadi keseimbangan lagi antara kebutuhan oksigen jantung dengan penyediaannya. Aliran darah melalui arteri kronaria harus kembali ada dan lancar untuk jantung. Pengobatan awal biasanya segera diberikan tablet Aspirin yang harus dikunyah. Pemberian obat ini akan mengurangi pembentukan bekuan darah di dalam arteri koroner. Pengobatan penyakit jantung koroner adalah meningkatkan suplai (pemberian obat-obatan nitrat, antagonis kalsium) dan mengurangi demand (pemberian beta bloker) dan yang penting mengendalikan risiko utama seperti kadar gula darah bagi penderita kencing manis, optimalisasi tekanan darah, kontrol kolesterol dan berhenti merokok.

Jika dengan pengobatan tidak dapat mengurangi keluhan sakit dada, maka harus dilakukan tindakan untuk membuka pembuluh koroner yang menyempit secara intervensi perkutan atau tindakan bedah pintas koroner (CABG). Intervensi perkutan yaitu tindakan intervensi penggunaan kateter halus yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah untuk dilakukan balonisasi yang dilanjutkan ring (stent) intrakoroner.

REHABILITATIF

Beberapa penyakit yang disebabkan oleh kerusakan jantung seperti penyakit pembuluh darah berat seringkali membutuhkan terapi penanganan di luar terapi pengobatan meliputi kardiologi dan pembedahan. Sampai sekarang, pergantian katup dengan operasi jantung dianjurkan dengan terapi pendekatan kasus ini, tetapi banyak pasien lanjut usia bersamaan dengan penyakit ini juga sangat beresiko. Penanaman katup nadi prothesis menjadi alternatif untuk pasien dan dapat memberikan reaksi secara tepat untuk perbaikan parameter kardiak. Secara keseluruhan, penyediaan peralatan teknik yang dibutuhkan untuk akomodasi berbagai bidang di suatu laboratorium mungkin diizinkan untuk kualitas terbaik dan lebih terjangkau, baik untuk pasien maupun institusi.

PROGNOSIS

Depresi pada pasien setelah mengalami miokardinal infarksion tampak gejala prognosis yang lebih penting dari penyakit arteri koroner. Walaupun gejala utamanya berlainan dengan peristiwa depresi yang tidak luar biasa setelah miokardinal infarksion, gejala depresi ini lebih umum. Terdapat hubungan antara kejadian depresi dan resiko, pengaruh alami dalam waktu yang panjang dan kejadian depresi pada jarak waktu yang teratur. Hal ini menunjukkan bahwa depresi berlangsung terus menerus pada karakteristik psikologi. Komplikasi iskemia dan infark antara lain gagal jantung kongestik, schock kardiogenik, disfungsi otot papilaris defek septum vebtrikel, repture pendarahan masif di kantong jantung (dinding nekrotik yang tipis pecah tamponade jantung), aneurisme ventrikel, tromboembolisme, pericardium perikarditis, sindrom dressless dan aritmia (Anonim, 2010).

KESIMPULAN

Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah penyakit yang menyerang organ jantung. Gejala dan keluhan dari PJK hampir sama dengan gejala yang dimiliki oleh penyakit jantung secara umum. Penyakit jantung koroner juga salah satu penyakit tidak menular. Kejadian PJK terjadi karena adanya faktor resiko antara lain adalah tekanan darah tinggi (hipertensi), tingginya kolesterol, gaya hidup yang kurang aktivitas fisik (olahraga), diabetes, riwayat PJK pada keluarga, merokok, konsumsi alkohol dan faktor sosial ekonomi lainnya. Penyakit jantiung koroner ini dapat dicegah dengan melakukan pola hidup sehat dan menghindari faktor-faktor resiko seperti pola makan yang sehat, meurunkan kolesterol, melakukan aktivitas fisik, olahraga secara teratur dan menghindari stress kerja.

SARAN

  1. Perlunya upaya kesehatan bagi penderita penyakit jantung koroner yakni melaksanakan upaya promotif, perilaku hidup sehat, upaya preventif (pencegahan), upaya kuratif dan upaya rehabilitatif (pengobatan).
  2. Perlunya program alternatif yang lebih memperhatikan aspek psikologis penderita penyakit jantung koroner dengan cara mengintegrasikan dengan program pemerintah lainnya misalnya kegiatan rutin senam jantung sehat seminggu sekali.
  3. Perlunya sosialisasi terhadap seluruh kelompok umur masayarakat agar lebih memahami karakteristik penderita jantung koroner serta faktor resiko dan juga karakteristik penyakit pada penderita.

 

Kegiatan PIS-PK Dalam Menumbuhkan Kesadaran Hidup Sehat

PIS-PK ini adalah program wajib yang harus dilaksanakan oleh Puskesmas. Kemenkes menargetkan tahun 2019 semua Puskesmas sudah melaksanakan kegiatan ini.

Sudahkah kalian tahu atau mendengar PIS-PK (Program Indonesia Sehat Pendekatan Keluarga)? Saya yakin, pembaca sudah tahu tentang program yang lagi nge-hits ini.

Bagi yang belum tahu, PIS-PK adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh Puskesmas dengan melakukan kunjungan ke setiap kepala keluarga yang ada di seluruh wilayah kerja Puskesmas dengan harapan dapat mengetahui kondisi kesehatan masyarakat.

 

Dengan adanya PIS-PK ini pula bisa membantu Puskesmas dalam merencanakan suatu kegiatan atau intervensi kepada masyarakat.

PIS-PK ini adalah program wajib yang harus dilaksanakan oleh Puskesmas. Kementrian Kesehatan menargetkan tahun 2019 semua Puskesmas sudah melaksanakan kegiatan ini.

Petugas Puskesmas akan melakukan pendataan dari rumah satu ke rumah yang lain. Dalam pendataan tersebut Petugas Puskesmas akan menanyakan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap kepala keluarga. dalam kegiatan ini pula setiap anggota keluarga yang berumur >15 tahun akan dilakukan pengukuran tekanan darah.

Selain melakukan pendataan dan pengukuran, petugas Puskesmas juga melakukan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) kepada keluarga disesuaikan dengan permasalahan kesehatan prioritas yang ditemukan.

 

Beberapa kemungkinan kendala yang biasa ditemukan selama pendataan yaitu:

Pertama, ada kepala keluarga yang tidak ada di rumah sehingga harus siap jika menemui hambatan seperti ini. Siap untuk kembali menemui kepala keluarga yang dimaksud.

Kedua, nama yang tidak dikenal oleh masyarakat sehingga petugas harus mencari.

Ketiga, nama KK yang masuk ke dalam list kelompok berada satu rumah dengan KK yang di data oleh tim lain, padahal di dalam data Puskesmas bahwa rumah tersebut hanya 1 KK. Kejadian semacam ini menjadi saran untuk Puskesmas untuk terus melakukan koordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan sehingga data yang dimiliki Puskesmas bisa up to date.

Keempat, beberapa KK yang di datangi menunjukkan sikap yang tidak bisa diajak bekerja sama. Seolah mereka tidak percaya kepada petugas Puskesmas. Untuk itu disarankan membawa Surat Tugas.

Dengan melakukan pendataan semacam ini, Puskesmas juga merasa diuntungkan, Mengapa? Karena bisa melakukan pembaharuan data (seharusnya)

Serba Serbi Imunisasi

Selama saya bekerja di beberapa puskesmas, ada banyak pertanyaan dari ibu-ibu (sesekali juga dari bapak-bapak) mengenai imunisasi. Bahkan beberapa kali saya mendapatkan orang tua yang menolak anaknya diimunisasi dengan berbagai alasan. Padahal imunisasi merupakan hak anak untuk hidup sehat dan bertumbuh kembang secara layak. Disitu saya merasa sedih..

Tujuan saya menulis di sini adalah untuk memberikan sedikit informasi mengenai pertanyaan yang biasa diajukan masyarakat kepada tenaga kesehatan tentang imunisasi.

Mengapa perlu imunisasi?.

Imunisasi merupakan upaya untuk meningkatkan kekebalan tubuh secara aktif terhadap suatu penyakit melalui pemberian vaksin (kuman yang mati atau dilemahkan) untuk memicu produksi antibodi agar tubuh tahan terhadap penyakit tertentu, seperti polio, hepatitis B, TBC, cacar, difteri dan lain-lain.

 

Anak yang tidak diimunisasi lengkap tidak mempunyai kekebalan spesifik terhadap penyakit-penyakit berbahaya, sehingga mereka mudah tertular penyakit tersebut dan menularkannya ke anak-anak lain. Parahnya penyakit tersebut bisa mewabah ke berbagai tempat, menyebabkan cacat hingga kematian pada anak.

Apakah imunisasi aman dilakukan?

AMAN. Para ilmuwan terus bekerja untuk membuat vaksin lebih aman dari waktu ke waktu. Sebelum mendapat lisensi dan diedarkan, vaksin telah melalui tahap uji klinis untuk menjamin keamanannya.

Bagaimana hukum imunisasi?

Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan Fatwa Nomor 4 Tahun 2016 mengenai imunisasi. Beberapa poin penting di dalamnya menyatakan bahwa imunisasi pada dasarnya diperbolehkan (MUBAH) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu namun wajib menggunakan vaksin yang HALAL dan SUCI.

Dalam hal jika ada indikasi keharaman, hukumnya tetap boleh diberikan pada kondisi darurat (bisa menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa) dan belum ditemukan bahan vaksin serupa yang halal dan suci.

Bisakah ASI, makanan bergizi dan suplemen herbal menggantikan imunisasi?

TIDAK BISA. Karena kekebalan yang dibentuk sangatlah berbeda. ASI, asupan gizi dan herbal hanya memperkuat daya tahan tubuh secara umum karena tidak membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu. Sedangkan imunisasi merangsang pembentukan antibodi yang spesifik terhadap kuman atau virus tertentu, sehingga bekerja lebih cepat dan efektif untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya.

Anak saya awalnya sehat. Setelah diimunisasi, anak saya menjadi demam, bengkak kemerahan di lokasi suntikan dan menjadi rewel. Apakah itu berbahaya?

TIDAK BERBAHAYA. Demam, bengkak kemerahan dan nyeri pada lokasi suntikan merupakan reaksi wajar setelah vaksin masuk ke dalam tubuh. Efek negatif ini pun tidak akan selalu terjadi pada setiap orang, karena setiap orang memiliki kondisi spesifik dan berbeda dengan individu lain.

Yang perlu diketahui adalah apa tindakan yang harus dilakukan ketika gejala itu terjadi. Anak bisa diberikan obat demam (parasetamol) sesuai dosis yang dianjurkan untuk menurunkan demam dan nyeri. Sedangkan untuk bengkak dan kemerahan pada bekas suntikan bisa dikompres dengan air hangat.

Umumnya keluhan tersebut akan hilang dalam 1 sampai 2 hari. Bila keluhan belum berhenti setelah 2 hari, atau anak demam lebih dari 39 derajat dan tidak turun dengan pemberian obat demam, silahkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terdekat.

Anak saya sudah diimunisasi, tapi kenapa masih tertular penyakit yang sama?

Perlindungan vaksin memang tidak 100 %. Bayi dan balita yang telah diimunisasi kemungkinan kecil masih bisa tertular penyakit tersebut, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Sedangkan bayi balita yang belum diimunisasi lengkap bila tertular penyakit tersebut bisa mengalami sakit yang lebih berat, berisiko terkena cacat hingga kematian.

Anak teman saya tidak diimunisasi, tapi sampai besar dia sehat-sehat saja… Jadi mending anak saya gak usah diimunisasi juga…

Kemungkinan anak tersebut belum pernah terpapar dengan kuman atau virus penyebab penyakit tersebut. Namun tidak ada yang bisa menjamin bahwa seumur hidup kita tidak terpapar kuman atau virus berbahaya. Ketika secara kebetulan anak tersebut terinfeksi penyakit yang disebabkan oleh kuman atau virus berbahaya, kemungkinan penyakit yang diderita akan lebih berat dibandingkan anak yang telah diimunisasi sebelumnya. Yang lebih parah, anak tersebut bisa menularkan penyakitnya pada orang lain hingga akhirnya menjadi wabah.

Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?

Dimana imunisasi bisa diperoleh?

Di puskesmas, posyandu, bidan praktek swasta, rumah sakit dan dokter spesialis anak.

Apa saja jenis imunisasi yang perlu diberikan untuk anak?

Untuk jenis imunisasi dan jadwal pemberiannya, silahkan dibaca pada gambar di bawah (berdasarkan Permenkes No. 12 Tahun 2017).

Nah… apakah Bapak Ibu masih ragu untuk memberikan imunisasi pada si buah hati? Yuk segera bawa anak kita ke fasilitas kesehatan terdekat untuk diimunisasi demi mewujudkan generasi yang sehat dan cerdas di masa yang akan datang.

Salam Sehat
dr. Fatimah Radhi, M.Kes

REFERENSI
Permenkes No. 12 Tahun 2017
Fatwa Majelis Ulama Indonesia No: 04 Tahun 2016

TUBEKTOMI : KEGUNAAN, PROSEDUR DAN EFEK SAMPING

Tubektomi adalah salah satu bentuk kontrasepsi mantap (Kontap) dengan cara memotong saluran tuba. Tuba fallopi sendiri merupakan saluran tempat berjalannya sel telur dari ovarium menuju ke uterus atau rahim. Ada banyak cara untuk mencegah terjadinya kehamilan, baik dengan cara alamiah maupun dengan alat kontrasepsi yang umumnya hanya bersifat sementara. Pada kontrasepsi alamiah, hubungan seksual tidak boleh dilakukan pada saat masa subur wanita sehingga kemungkinan sel sperma bertemu dengan sel telur sangat kecil.

 

Tubektomi

 

Sedangkan dengan bantuan alat kontrasepsi, tujuannya hanya mencegah kehamilan pada saat alat kontrasepsi tersebut digunakan. Setelah pemakaian alat kontrasepsi dihentikan, maka kesuburan akan kembali normal. Mekanisme kerja alat yang digunakan bermacam-macam. Ada yang mengatur dari fungsi hormon sampai mengganggu jalan masuknya sperma ke dalam rahim, sehingga sperma tidak dapat membuahi sel telur.

 

Beberapa contoh kontrasepsi sementara:

  1. IUD atau Spiral KB,
  2. pil KB,
  3. suntik KB,
  4. susuk
  5. Kondom pria dan wanita.

 

Lalu, bagi wanita yang sudah memutuskan untuk tidak mau hamil lagi dan tidak ingin ketergantungan dengan alat kontrasepsi, maka dapat dilakukan metode kontrasepsi yang bersifat permanen, yaitu prosedur tubektomi atau sterilisasi.

 

 

Arti Kata Tubektomi

Berdasarkan dari asal namanya, yaitu tube dari kata tuba fallopi dan tomi yang berarti potong, maka tubektomi berarti memotong saluran tuba fallopi. Tuba fallopi sendiri merupakan saluran tempat berjalannya sel telur dari ovarium menuju ke uterus atau rahim. Terdapat sepasang di kiri-kanan dengan panjang sekitar 10 cm, menghubungkan antara ovarium dengan uterus. Tubektomi identik dengan vasektomi pada pria.

Dengan dipotongnya saluran tuba fallopi ini, diharapkan sel telur tidak dapat masuk ke dalam uterus dan mencegah terjadinya proses pembuahan (bertemunya sel telur dengan sperma). Apabila sudah dipotong maka saluran tuba fallopi tidak dapat dikembalikan lagi seperti semula, oleh karena itulah prosedur tubektomi termasuk metode kontrasepsi yang bersifat permanen.

 

Kegunaan Tubektomi

Mencegah terjadinya kehamilan yang bersifat permanen. Oleh karena itu wanita yang akan menjalani prosedur ini harus benar-benar yakin jika dirinya tidak mau hamil lagi. Dokter juga wajib memberikan layanan konseling dan juga penjelasan selengkap-lengkapnya terhadap pasien, sangat dibutuhkan agar pasien tidak menyesal di kemudian hari. Pada wanita yang masih ingin memiliki anak, sebaiknya menggunakan alternatif pilihan alat kontrasepsi lain, selain tindakan tubektomi.