GERD (Gastro-esophageal Reflux Disease) : Bukan Sakit Maag Biasa

Saya sering mendapat pertanyaan sudah minum obat maag ( Antasida) tetapi belum sembuh. Keluhannya seperti perut perih di sebelah kanan atau kiri. Terasa seperti perih diuluh hati dan disertai perasaan terbakar, jantung berdebar, dada sesak.

Mereka umumnya penasaran sakit apa dan sudah bolak-balik ke dokter tetapi sering kambuhan dan tidak pernah benar-benar sembuh.  Sebernarnya mereka yang punya keluhan seperti ini sakit apa sih? jawabannya GERD.

GERD disebut Gastroesophageal reflux disease. Sedikit berbagi tips dari saya bahwa pengobatan GERD dengan terapi Proton pump inhibitors seperti omeprazole, esomeprazole, pantoprazole, lansoprazole, bahkan rabeprazole) atau dikombinasi dengan Gastric H2 receptor blockers ( Famotidine, Ranitidine). Bisa juga dengan bantuan Antibiotik dan sedikit obat penenang. Sebaiknya ke dokter untuk menentukan pengobatan yang tepat dan pengobatan tuntasnya nya berlangsung selama 2-3 bulan. Beberapa literatur menyebut 4-8 minggu dan mungkin bisa lebih tergantung dari tingkat sakitnya. Mintalah nasehat dari dokter untuk mengobati ini dengan benar dan mengubah pola makan menjadi lebih sehat dan teratur. Semoga sehat selalu.

Penyakit Terbanyak Dalam Kurun 5 Tahun di Indonesia

1. Obesitas
Kelebihan berat badan merupakan pemicu penyakit seperti hipertensi, diabetes, jantung karena timbunan lemak dapat mengganggu fungsi organ. Obesitas dapat menyebabkan berbagai masalah ortopedik seperti nyeri punggung dan nyeri sendi (lutut, pinggul, pergelangan kaki).
2. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyakit yang disebabkan oleh gigitan Nyamuk Aedes Aegypti ini menimbulkan gejala demam akut, mual, muntah, nyeri tulang, bercak merah di kulit. DBD membahayakan karena dapat menurunkan level trombosit penderita dengan drastis.


3. Gagal Ginjal
Penyakit ini merupakan kelanjutan dari batu ginjal yang semakin parah sehingga penderita harus melaksanakan cuci darah seumur hidup karena ginjal gagal berfungsi.
4. Katarak
Penyakit mata yang disebabkan kekeruhan lensa mata sehingga pandangan berkurang akibat paparan sinar ultraviolet, penggunaan obat seperti steroid, proses penuaan, dan diabetes.
5. Hepatitis
Penyakit yang menyerang organ hati ini terjadi karena infeksi virus, obat-obatan, dan alkohol dengan gejala mata dan kulit berwarna kuning, demam tinggi, mual, nyeri perut. Suntik Vaksin Hepatitis A membantu memberikan kekebalan dari penyakit ini.
6. Tifus
Penyakit yang disebabkan oleh Bakteri Salmonella dan menyerang saluran pencernaan ketika imunitas tubuh melemah, pola makan yang tidak teratur, dan tingkat kelelahan yang tinggi.
7. Jantung Koroner 
Adalah satu dari 20 Penyakit Terbanyak Di Indonesia yang merupakan pembunuh nomor satu di dunia. Gejala yang ditimbulkan yaitu denyut jantung tidak teratur, mual, nyeri, tubuh berkeringat, dan sesak di bagian dada. Penyakit ini terjadi karena pembuluh darah ke jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan.


8. Tuberkolosis (TBC)
Penyakit yang disebabkan oleh Kuman TBC ini menyebabkan penderita mengalami batuk berkepanjangan, sesak nafas, nyeri dada, dan dahak berdarah. Penderita harus menjalani terapi pengobatan selama 6 bulan tanpa henti agar TBC tidak pernah kambuh lagi dan penderita tidak berpotensi menularkan penyakit kepada orang lain.
9. Batu Ginjal
Kurang minum air putih, sering duduk lama, sering menahan buang air kecil dalam waktu lama, serta konsumsi zat purin secara berlebihan menyebabkan penumpukan batu/kristal di dalam kandung kemih dan menyumbat saluran kemih. Pada stadium awal penderita cukup diberikan antibiotik dan diuretik dan selanjutnya penderita harus menjalankan kebiasaan baik yaitu minum air putih 1,5-2 liter perhari dan jangan menahan berkemih.
10. Diabetes Mellitus (Kencing Manis)
Penumpukan kadar gula dalam darah menyebabkan gangguan metabolisme dan produksi Insulin. Anda perlu waspada jika mengalami luka yang sulit kering. Diabetes sesungguhnya tidak berbahaya namun komplikasi yang ditimbulkanlah yang menyebabkan kematian.
11. Hipertensi/Tekanan Darah Tinggi
Penyakit ini disebabkan oleh konsumsi makanan berlemak/berkolesterol tinggi berlebihan serta kurangnya aktivitas fisik/olahraga. Hipertensi membahayakan karena menyebabkan stroke, gagal jantung, serangan jantung akibat penumpukan lemak dalam darah.


12. Stroke
Pola hidup yang tidak seimbang antara bekerja, berolahraga, dan beristirahat serta kebiasaan buruk seperti merokok dan kecanduan alkohol meningkatkan angka penderita Stroke setiap tahuannya. Penderita diabetes, hipertensi, asam urat harus waspada terhadap Stroke. Pasien sering terlambat ditangani karena baru dibawa ke rumah sakit setelah terjadi serangan Stroke.
13. Kanker
Penyakit ini semakin menggejala karena faktor meningkatnya konsumsi makanan cepat saji, polusi udara, tingkat stres tinggi. Kemoterapi seringkali menjadi pilihan satu-satunya bagi penderita kanker untuk menghentikan pertumbuhan sel yang tidak terkendali. Kanker payudara dan kanker serviks masih menjadi “silent killer” bagi wanita Indonesia.
14. Penyakit Paru Kronis
Kebiasaan merokok masyarakat Indonesia serta banyaknya warga yang tinggal di kawasan industri dan pemukiman padat penduduk mengakibatkan tingginya angka Penderita Paru Kronis.
15. Diare
Separuh penduduk Indonesia masih tinggal di kawasan kumuh dan tidak memiliki sanitasi yang baik. Sayangnya, penanganan Diare sering tidak serius sehingga banyak menyebabkan kematian pada anak dan balita.
16. Tumor
Penyakit yang banyak menyerang wanita di perkotaan ini dikarenakan toilet yang tidak higienis, tingkat stres yang tinggi, dan konsumsi makanan berpengawet/berMSG secara berlebihan. Tumor harus segera diatasi agar tidak berkembang menjadi tumor ganas atau kanker.
17. Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA)
Penyakit yang banyak balita dan anak-anak ini terjadi karena perubahan cuaca dan mengakibatkan penderita mengalami kesulitan bernafas, batuk-batuk, dan nyeri dada.
18. Flu Burung
Penyakit yang disebabkan oleh Virus Avian Influenza ini dapat menular melalui udara, makanan/minuman, dan sentuhan dengan penderita atau kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi. Penyakit ini harus segera ditangani karena virus berkembang dengan cepat.


19. Autisme
Gangguan perkembangan yang menyebabkan anak sulit berkomunikasi dan bersosialisasi ini disinyalir terjadi karena selama proses kehamilan ibu banyak terpapar zat beracun dan radikal bebas yang menyebabkan kelainan saraf pada anak.
20. HIV/AIDS
Penyakit yang belum ada obat dan vaksinnya ini ditularkan melalui hubungan seksual tidak aman tanpa pengaman, transfusi darah, dan penggunaan jarum suntik pada narkoba suntik/tato/tindik. Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Penanggulangan HIV/AIDS dengan deteksi dini dan pemberian obat ARV (Antiretroviral) dapat memperpanjang harapan hidup penderita.
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menangani 20 Penyakit Terbanyak di Indonesia ini diantaranya dengan pengendalian masalah tembakau melalui penetapan kawasan tanpa rokok, pengaturan makanan berisiko dengan kandungan gula/garam/lemak tinggi, dan promosi perilaku hidup bersih dan sehat.


Namun, upaya pemerintah tidak akan ada artinya bila masyarakat tidak mendukung dengan menjaga kesehatan masing-masing dalam menghindari  20 Penyakit Terbanyak di Indonesia  . Kesehatan sangat mahal harganya karena itu mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Selain itu, miliki asuransi kesehatan untuk melindungi kesehatan Anda dan keluarga dalam jangka panjang sekaligus berfungsi sebagai tabungan dan investasi.

sumber: buletinsehat.com


Fakta menarik tentang 20 Penyakit Terbanyak Di Indonesia adalah penyakit tersebut bukanlah termasuk kategori Penyakit Tidak Menular (PTM). Penyebab kematian tertinggi dari seluruh penyebab kematian adalah hipertensi (31,7%), diabetes (30,3%), stroke (15,9%), kanker, cedera (7,5%), jantung (7,2%), dan penyakit paru obstruktif kronis yang umumnya menyerang usia produktif. Penyakit-penyakit tersebut dipicu oleh berbagai faktor risiko diantaranya gaya hidup tidak sehat, kurang aktivitas fisik, diet yang tidak sehat, merokok, dan lainnya.
Riset Departemen Kesehatan RI menunjukkan bahwa penduduk usia produktif di Indonesia sebanyak 93,6% kurang konsumsi sayur dan buah, 48,2% kurang aktivitas fisik, dan 34,7% merokok setiap hari. Peningkatan angka penderita penyakit ini berdampak negatif bagi ekonomi dan produktivitas karena pengobatannya memerlukan biaya besar dan waktu lama. Diantara penyakit tersebut sebagian besar adalah penyakit kronis yang bisa menyebabkan bencana finansial (kebangkrutan/terbelit hutang) pada diri penderita dan keluarganya.

Dunia Kesehatan di Era Dunia Teknologi Informasi

DI era milenial, hidup orang bergantung pada dunia teknologi. Sampai-sampai untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal pun harus akses lewat Internet.

Hal itu sangat sulit dipungkiri, pesatnya perkembangan teknologi membuat beberapa orang tidak boleh ketinggalan. Termasuk penyedia jasa layanan kesehatan seperti Rumah Sakit. Ada sistem yang mengatur dengan basis teknologi.

CEO Lippo Group yang membawahi Siloam Hospital Dr James T Riady mengakui, sistem pelayanan di bidang kesehatan semakin hari bertambah pesat. Majunya era digitalisasi bisa membuat orang jadi lebih praktis saat berobat atau sekedar konsultasi dengan dokter.

“Pada akhirnya dunia medis dan kesehatan akan bergeser ke dalam dunia digital. Itu artinya sistem digitalisasi sangat berperan,” ujarnya kepada Okezone.

Dia menambahkan, dalam mengakses pelayanan kesehatan dari segi apapun, pasien kini mudah menggunakan situs daring dalam mencari informasi apapun di dunia kesehatan.

Smartphone bahkan saat ini benda yang tak pernah ketinggalan di bawa pergi kemanapun. Dengan mudahnya seseorang mengakses kebutuhan hidupnya, termasuk saat menjalani gaya hidup sehat.

Menurutnya, seseorang jadi lebih efisien mendapatkan informasi seputar kesehatan lewat dunia maya. Tapi Anda harus cerdas memilih untuk menghindari informasi hoax.

“Smartphone benar-benar menjembatani sistem digitalisasi pada lingkup kesehatan. Sehingga terciptalah efisiensi akses dan tingkat kepedulian bagi pasien dan keluarganya,” terangnya.

Sayangnya, perkembangan teknologi yang semakin pesat, sebagian masyarakat belum dapat menikmatinya. Ada beberapa kendala yang dihadapi, sehingga masyarakat belum puas atau mengalami hal lain.

“Teknik tidak hanya sebatas sistem dan data. Hal positif ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat, ” pungkasnya.

Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menargetkan tahun 2015 untuk meningkatkan layanan kesehatan masyarakat berbasis informasi teknologi (IT). Tentu hal ini tidak hanya berlaku di Rumah Sakit, tetapi juga di seluruh Puskesmas di Indonesia.

Untuk mewujudkan target itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menyatakan dukungannya atas usulan Menkes tersebut. Oleh karena itu, mantan Direktur Telkom itu menyatakan paling lambat semua bisa selesai di tahun 2015.

“Kami catat beberapa hal. Contoh bagaimana seluruh puskesmas di Indonesia bisa terhubung dengan Kemenkes secara langsung (dengan internet). Targetnya paling lama 2015 sudah selesai,” tutur Menteri Rudiantara kepada wartawan di Gedung Kemenkes RI, Jakarta.

Tambahnya, secara infrastruktur saat ini hampir seluruh kecamatan di Indonesia sudah memiliki layanan internet yang dapat diakses setiap saat. Tetapi teknis harus segera dibenahi agar masyarakat semakin puas dengan layanan kesehatan yang selama ini telah berjalan.

“Secara infrastruktur di lapangan seluruh kecamatan punya internet. Tinggal bagaimana di lapangan dihubungkan saja, karena itu bagian dari pelayanan masyarakat,” imbuhnya

Pasien jadi tambah mudah mendapatkan layanan dan mendapatkan akses cepat. Pasien juga nantinya tidak perlu datang ke Rumah Sakit dan harus menghadapi antrean yang panjang.

Kalau sering mengantre datang ke rumah sakit untuk sekedar registrasi atau melakukan pembayaran, tentu membuat orang jadi malas. Karenanya, setiap rumah sakit seharusnya berusaha mengandalkan sistem teknologi yang canggih agar memudahkan pasien.

Lebih mengembangkan pelayanan kesehatan bersumberdaya masyarakat

Struktur kemasyarakatan yang ada dalam masyarakat yang mampu menjangkau per keluarga secara langsung adalah RT, untuk itu perlu upaya menggandeng kelompok masyarakat ini. Posyandu dan Posyandu Lansia mungkin salah satu contoh yang sudah ada, dan sangat mungkin untuk dikembangkan dalam model lain misalnya penyuluhan Pola Hidup Sehat dan Bersih yang tentu akan lebih efektif jika dilakukan dan diawasi langsung oleh lingkungan. Petugas kesehatan tinggal keliling sesekali waktu untuk memberikan bekal teknisnya.

Memanfaatkan Teknologi Informasi

Banyak hal dalam kegiatan pelayana kesehatan masyarakat bisa memanfaatkan teknologi informasi. SIK, SIMPUS, website, dll adalah salah satu bentuk pemanfaatannya. Yang tak kalah penting adalah bagaimana memaksimalkan aplikasi-aplikasi yang sudah ada tersebut. Jangan sampai aplikasi dibangun kemudian dibiarkan saja dan hanya sebagai koleksi. Teknologi informasi adalah jalur pintas untuk memangkas kendala kesulitas akses wilayah, dan mempercepat komunikasi data.

Membangun jalur komunikasi langsung dengan masyarakat

Struktur birokrasi yang panjang sering kali menjadi kendala bagi pimpinan untuk mengetahui secara cepat data dari masyarakat, dan sebaliknya juga masyarakat juga susah untuk memberikan masukan ataupun koreksi kepada pihak pengambil kebijakan. Teknologi informasi bisa dimanfaatkan untuk mengatasi kendala ini. Produk yang bisa digunakan antara lain :

1. SMS Gateway

HP telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, tak peduli golongan apa saja. Karena ini SMS Gateway menjadi pilihan menarik untuk menampung informasi dan kritik dari masyarakat secara langsung.

2. Website yang uptodate

Hampir semua instansi sudah memiliki website, hanya saja sering kali hanya sekedar ada dan jarang diupdate. Agar lebih bermanfaat seharusnya website dikelola secara khusus dan secara harian memberikan informasi ataupun panduan kepada masyarakat tentang visi misi yang dituju oleh dinas kesehatan.

Pelucuran e-Kes Menuju Pelayanan Optimalisasi dan Berbasis Informasi Teknologi

Kemajuan teknologi menuntut kita untuk beradaptasi, hal ini di lakukan dalam upaya peningkatan kerja dan pelayanan yang lebih optimal hal ini selaras dengan menteri kesehatan nila farid moeloek  menargetkan meningkatkan layanan kesehatan masyarakat berbasis informasi teknologi (it) tentu hal ini tidak hanya berlaku di rumah sakit  tetapi juga di seluruh puskesmas di indonesia

Menurut data riset fasilitas kesehatan (Risfaskes) kondisi infrastruktur di rumah sakit jauh berbeda dengan puskesmas apalagi di era jkn  baru ada 1.227 rs di indonesia menggunakan aplikasi indonesia case base group (ina-cbg) sistem tersebut sudah menghitung layanan yang akan terima pasien sekaligus pengobatannya hingga dinyatakan sembuh.

Ini juga yang di inginkan oleh Gubernur Provinsi Bengkulu Rohidin Mersyah guna meningkatakan pelayanan prima, pemerintah harus hadir lebih awal dan terdepan apalagi yang terkait dengan data dan informasi.

Sebagai Leading Sektor Kesehatan Dinas Kesehatan di bawah kepemimpinan  Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Herwan Antoni terus akan menciptakan sektor-sektor kesehatan terutama pelayanan kesehatan sudah berbasis Informasi Teknologi.

Di provinsi bengkulu tercatat ada 179 puskesmas dan 23 rumah sakit yang tersebar di 10 kabupaten kota. Dari data ini Dinas Kesehatan Proviinsi Bengkulu melalui Sub Bidang Perencanaan Evaluasi dan Pelaporan  menargetkan semua pelayanan kesehatan sudah mulai berbasis IT. Dari data berbasi IT nantinya  semua data dan informasi yang terkait jumlah dan pelayanan akan terakses dengan cepat sehingga di dapat informasi yang cepat dan akurat.

Peluncuran  data Dinas Kesehatan Provinsi dan Nasional ke 54 di halaman kantor gubernur bengkulu hadir dalam acara ini seluruh OPD dan Instansi seluruh di lingkungan pemerintah provinsi.





Menteri Kesehatan RI Hadiri Rakerkesda Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu “Kolaborasi Provinsi Dan Kabupaten/Kota Dengan Dukungan Pusat Dalam Penguatan Pelayanan Kesehatan Menuju Cakupan Pelayanan Kesehatan Semesta”

Rakerkesda  Provinsi Bengkulu merupakan kalender kerja tahunan  Dinas Kesehatan Provinsi dalam rangka untuk menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang dalam pembangunan kesehatan di wilayah provinsi bengkulu.

beberapa hari lalu Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu telah menggelar Rapat Kerja Kesehatan Daerah Tingkat Provinsi  Tahun 2019  yang melibatkan  Dinas Kesehatan  se-Kabupaten/Kota yang di gelar selama 3 hari mulai dari tanggal 12 Maret hingga 14 Maret 2019.

Hari pertama, rapat kerja kesehatan daerah provinsi bengkulu tahun 2019 dengan tema yang di ambil adalah Kolaborasi Provinsi  Dan  Kabupaten/Kota Dengan Dukungan Pusat Dalam Penguatan Pelayanan Kesehatan Menuju Cakupan  Pelayanan Kesehatan Semesta. Rakerkesda  di awali dengan pebahasan 5 isue pokok strategis bersama Dinas Kesehatan se-Kabupaten Kota se-Provinsi Bengkulu dengan menghadirkan  Narasumber  dari  jajaran Kementerian Kesehatan RI di antaranya  Direktur Pelayanan Kefarmasian Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dengan moderator Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Azhar,SH,M.Kes di dampingi oleh seluruh Kepala Bidang di antaranya: Kepala Bidang Kesmas Nelly Alesa,SKM,M.Si, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dokter Gigi Edriwan Mansyur dan Kepala Bidang P2p Lisenty Bahar.

Hari kedua  masih  dengan pembahasan isue strategis di  lanjutkan rapat pleno  antar bidang  atau  kelompok yang nanti akan  di susun dalam rancangan aksi daerah 2019 kali ini yang menjadi narasumbernya adalah dr.Kirana Pritasari Dirjen  Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI.

Memasuki hari ketiga Rakerkesda Provinsi Bengkulu Tahun 2019 ini di hadiri langsung  orang nomor satu di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Rapat Kerja Kesehatan  Daerah Provinsi Bengkulu kali  ini merupakan agenda terbesar  tahun 2019. Selain beberapa dirjen dan staf ahli dan pejabat di lingkungan Kementerian Kesehatan RI hadir juga Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof.DR,Dr,Nila Djuwita Anfasa Moeloek, Gubernur Provinsi  Bengkulu Dr,H,Rohidin Mersyah Kepala Dinas Kesehaatan Provinsi Bengkulu H.Herwan Antoni,Skm.M.Kes,M.Si dan seluruh Kepala Dinas Kesehatan dan Pejabat  Kabupaten/Kota Se-provinsi Bengkulu dalam gelaran Rapat Kerja Kesehatan Provinsi Bengkulu  Tahun 2019  merupakan tindak lanjut  dari  Rapat Kerja Kesehatan Nasional yang di gelar beberapa bulan Februari  lalu di Kota Tangerang Provinsi Banten,  Ada 5 pokok isue  strategis  kesehatan yang perlu menjadi fokus pemerintah pusat dan daerah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan di Indonesia terkhusus di Provinsi Bengkulu.

Sistem rujukan berjenjang yang di lakukan secara on line ke lima isue yang menjadi pembahasan secara nasional dan sistem rujukan berjenjang yang dapat di emplementasikan yang tertuang dalam rencana aksi derah raflesia.

Rencana Aksi Daerah Raflesia Meliputi:

1. Remaja putri,wanita usia subur danibu hamil di berikan tablet tambah darah.

2. Anak di berikan asi ekslusif,imunisasi,vitamin,obat cacing dan stimulasi deteksi instervensi dan tumbuh kembang.

3. Fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan mampu mengatasi  masalah gizi fokus pada 1000 hari pertama kehidupan melalui  pendekatan keluarga yang terintegrasi.

4. Lakukan gerakan masyarakat hidup sehat pada siklus kehidupan

5. Edukasi  gizi keluarga melalui pemberdayaan  kearifan lokal.

6. Survelensi gizi di lakukan secara aktif di posyandu

7. Intervensi secara kasus ibu hamil,gizi kurang dan gizi buruk yang komprehensif.

8. Akses air bersih dan sanitasi lingkungan yang tersedia dan memenuhi syarat kesehatan

Lima isue strategis  tersebut adalah :

1. Penurunan angka kematian ibu dan bayi dan balita  (AKI-AKM)

2. Menurukan prepalensi Stunting

3. Eleminsai TBC

4. Peningkatan cakupan kwalitas imunisasi

5. Penurunan penyakit tidak menular (PTM)

Khusus provinsi bengkulu di tambah 1 tugas pokok yakni sistem rujukan berjenjang yang di lakukan secara on line

Leukemia, Limfoma dan Myeloma,,, “Mitos dan Fakta Kanker Darah”

Tanggal 15 September diperingati sebagai hari kanker limfoma sedunia. Hari ini diperingati untuk membantu orang agar lebih waspada terhadap kankernomor tujuh yang sering diderita orang Indonesia ini.

 

Kanker limfoma sendiri termasuk dalam jenis kanker darah yang menyerang limfosit atau kelenjar getah bening. Namun jenis kanker darah ini tak cuma kanker limfoma, tapi juga ada leukemia dan juga myeloma.


Kanker darah merupakan jenis kanker yang menyerang jaringan pembentuk darah sehingga menghambat kemampuan tubuh melawan infeksi. Kanker darah ini dapat diobati dengan perawatan yang tepat.


Namun, beragam mitos masih berseliweran mengenai kanker darah. Kesalahpahaman itu sering kali dipercaya dan justru memperburuk keadaan para penderita dan keluarga pasien kanker darah.



Berikut merupakan mitos dan fakta yang benar seputar kanker darah.



1. Leukemia sama dengan kanker darah? Selama ini, masyarakat memahami leukemia sama dengan kanker darah. Namun, pernyataan ini tak sepenuhnya benar.

 

“Pernyataan itu sebagian benar, sebagian lagi salah. Yang benar adalah leukemia adalah salah satu tipe dari kanker darah. Ada beberapa tipe dari kanker darah, bukan hanya leukimia saja,” kata Konsultan Senior Hematologi di Parkway Cancer Center (PCC) Singapura Lim ZiYi saat berbincang dengan media di Jakarta.



Dokter ahli hematologi atau ilmu yang mempelajari darah itu menjelaskan ada tiga tipe kanker darah yang banyak ditemui. Selain leukimia, terdapat jenis kanker darah limfoma dan myeloma.

Leukemia berkaitan dengan kanker pada sel darah putih dan banyak menyerang anak-anak dan jarang pada orang dewasa. Sedangkan limfoma merupakan kanker darah yang menyerang limfosit. Kanker ini dikenal juga nama kanker kelenjar getah bening yang umum terjadi pada orang dewasa. Sementara myeloma merupakan kanker pada sel plasma.


“Meski kasus kanker darah ini jarang, jumlah penderitanya perlahan meningkat,” ujar ZiYi.

 


ZiYi menyebut tiga jenis kanker ini memiliki subtipe yang jumlahnya dapat mencapai ratusan buah dan berpengaruh pada jenis pengobatan yang bakal dijalani.

2. Kanker darah merupakan penyakit keturunan? Informasi yang juga simpang siur di masyarakat adalah kanker darah merupakan penyakit yang diturunkan oleh orang tua kepada anaknya. Akan tetapi, ini hanya mitos belaka.



Konsultan Hematologi PCC lainnya, Colin Phipps Diong menjelaskan kanker darah memang merupakan penyakit genetik tapi tidak diturunkan oleh orang tua kepada anaknya.

“Ini bukan salah orang tua. Tidak, penyakit ini tidak diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Penderita yang hamil, bayinya akan baik-baik saja. Tidak seperti jenis kanker lain,” kata Phipps.


Phipps menyebut perubahan gen pada penderita kanker darah terjadi secara spontan dan tiba-tiba. Perubahan ini tidak diturunkan, melainkan terjadi ketika sudah dikembangkan dalam tubuh.


Hingga saat ini, tak diketahui secara pasti apa yang menyebabkan terjadinya perubahan sel darah menjadi sel kanker itu. Beberapa penelitian mengaitkan dengan beberapa faktor seperti lingkungan, pola makan dan stres.


“Kanker darah tidak bisa dikaitkan dengan hal lain seperti merokok pada kanker paru atau alkohol pada liver,” ujar Phipps.



3. Baru bisa dideteksi pada stadium akhir? Masyarakat sering kali cemas lantaran menganggap kanker darah baru dapat diketahui pada stadium akhir. Namun, menurut Phipps, kanker darah bisa dideteksi dini dengan memeriksakan gejala yang kerap timbul.


Gejala itu meliputi demam yang berkepanjangan, berat badan yang turun drastis, dan muncul pembengkakan pada getah bening untuk jenis limfoma. Jika merasa memiliki gejala ini, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.



“Pengecekan kesehatan dapat mengetahui kondisi darah dan kenker dalam tubuh,” ucap Phipps.


Di sisi lain, Phipps menjelaskan pada kanker darah tak ada istilah penanganan yang terlambat.  Dokter umumnya tak lagi mengenal istilah stadium seperti kanker lain lantaran kanker darah terjadi pada darah yang beredar di seluruh tubuh.

 


“Pada leukemia stadium 1,2,3, atau 4 tak lagi penting. Kami memeriksakan kondisi dan melihat penanganan yang tepat. Tak ada pula istilah kanker darah tak bisa disembuhkan atau sama dengan hukuman mati,” tutur Phipps.


4. Hanya keluarga yang bisa donor sumsum tulang belakang?
Salah satu metode pengobatan kanker darah adalah dengan donor sumsum tulang belakang. Kabar yang beredar donor ini mesti berasal dari keluarga.



Phipps menjelaskan sumber terbaik memang berasal dari saudara kandung. Sumber lainnya bisa didapat dari anak atau orang tua. Namun, sumsum tulang belakang ini juga bisa diperoleh dari orang lain yang tidak memiliki hubungan darah.



Beberapa stok sumsum tulang belakang atau stok darah tali pusar tersimpan di bank darah tali pusat dan bisa dipakai di seluruh dunia. 



Phipps juga menyebut tak ada efek samping yang berkepanjangan bagi pendonor. Mereka hanya bakal merasa sakit dan kelelahan paling lama sepekan setelah proses donor. Saat ini, kemajuan teknologi juga membuat proses donor tak memerlukan operasi yang berat.

 


5. Vitamin C dapat setop Leukemia?

Menurut ZiYi, tak ada data atau bukti yang menunjukkan dosis vitamin C yang tinggi dapat menyetop progres leukemia. Alih-alih menyembuhkan, dosis yang salah dari vitamin C itu justru dapat memperparah keadaan.


ZiYi menyarankan agar penderita leukemia mengonsumsi asupan yang tepat sesuai takaran gizi yang sudah disarankan dokter agar dapat mempercepat penyembuhan.

ADVOKASI DANA DESA UNTUK KESEHATAN RAKYAT

UKBM atau Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat merupakan unit-unit kesehatan yang dikelola langsung oleh masyarakat, sudah sepatutnya mendapat manfaat dari kehadiran ADD. Seperti diketahui didesa sudah berkembang berbagai kegiatan UKBM seperti Poskesdes, Posyandu, Posyandu Lansia, Posbindu, Posmaldes, Pos TB dan sebagainya. Namun demikian perkembangan UKBM yang ada didesa hingga saat ini masih banyak mengalami kendala serta permasalahan sehingga dukungan ADD diharapkan dapat mampu membantu permasalahan yang dihadapi oleh UKBM pada umumnya.

Dorongan untuk dapat mengalokasikan minimal 10% ADD bagi kegiatan UKBM tentunya harus didukung oleh semua pihak terkait. Tak terkecuali juga Pengurus Forum Kesehatan Masyarakat Desa (FKMD) serta kader berbagai macam UKBM yang ada. Sehingga masyarakat peduli kesehatan tidak hanya menjadi penonton terhadap pembagian kue ADD. Peran pendamping/fasilitator desa maupun petugas kesehatan diharapkan juga mampu mengawal ADD yang berpihak bagi program kesehatan di desa.

Yang harus sesegera mungkin dilakukan adalah mengaktifkan kembali Forum Kesehatan Masyarakat Desa (FKMD) yang selama ini mati suri, untuk memulai kembali pola Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) sebagai wahana diskusi permasalahan kesehatan di masing-masing desa, sehingga diharapkan kegiatan kesehatan yang muncul di APBDesa merupakan upaya untuk mengentaskan persoalan kesehatan serta mengurangi disparitas status kesehatan penduduk didesa,  khususnya dalam upaya mendorong ketersediaan sarana yang menjadi faktor pemungkin (enabling factors) bagi kegiatan kesehatan didesa.

Tenaga Kontrak Menemui Kepala Desa  sekecamatan Seginim Satu Persatu Untuk Melakukan Advokasi Dana Desa,  kepala desa sangat merespon dengan baik dan  Menjelaskan usulan Mengenai Dana Desa Untuk Kesehatan Seperti:

  1. Pemerian makanan tambahan di posyandu
  2. Insintif kader
  3. Pembelian alkes untuk cek kesehatan secara sederhana ( alat cek gula darah, kolestrol dll.)
  4. Sunatan Masal
  5. Pemebelian mesin foging dan obatnya dll.

Kepala desa bersedia menganggarkan dana desa untuk dibidang kesehatan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi dana desa.

ADVOKASI DANA DESA KE KADES DUSUN TENGAH UNTUK UKBM

Setelah Advokasi Kades,seLanjutnya Menghadiri Undangan Rapat Kerja Pembangunan Desa (RKP DES)  kota bumi baru dengan di hadiri oleh kasi PMD, BABINSA, POLSEK, PUSKESMAS, tokoh agama, tokoh adat, dan masyrakat setempat Dan Mendapatkan Waktu Untuk Menjelaskan Dengan Masyarakat Mengenai Dana Desa Untuk UKBM. Tenaga Kontrak menjelaskan lage mengenai usulan dan manfat dari hal- hal yang di usulkan bagi masyarakat setempat, misalnya adannya insintef kader, dengan adanya kader posyandu balita, lansia KB dll maka kegiatan seperti posyandu akan berlajalan dengan lancar dan semakin meningkat, begitu juga manfaat pembelian mesin foging dan obatnya akan menjadikan desa itu mandiri dalam memberantas nyamuk yang bisa menyebabkan malaria. Dalam hal ini di lakukan perangkingan/diprioritaskan mana yang llebih penting berdasarkan azaz manfaatnya bagi masyarakat  untuk tahun 2018.

Beberapa  hal yang sudah dsampaikan oleh tenaga kontrak baik pada waktu advokasi dan rapat RKP desa kepala desa dan perangkat desa sangat antusias dan senang apa yang telah saya sampaikan dan mereka menyetujui beberapa hal usulan dari saya, seperti pembelian mesin voging, anggaran untuk makanan tambahan posyandu, insintif kader dll. 

Workshop Teknis Percepatan Akreditasi Puskesmas Bagi Tenaga Kesehatan Tingkat Provinsi

Workshop Teknis Percepatan Akreditasi Puskesmas Bagi Tenaga Kesehatan Tingkat   Provinsi ini dilaksanakan di Hotel Madeline Bengkulu, Jalan Bhakti Husada Lingkar Barat Kota Bengkulu.

Kegiatan ini bertujuan agar lebih memahami konsep akreditasi FKTP dan komitmen  dari Dinas Kesehatan Kab/Kota dan Puskesmas. Namun secara khusus pertemuan ini bertujuan untuk menggalang komitmen Dinkes Kab/Kota dalam melaksanakan akreditasi FKTP dan agar dapat mengidentifikasi masalah pendampingan pra dan post akreditasi serta mencari solusi dari masalah tersebut.

Untuk itu Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu mengadakan kegiatan tersebut tanggal 30 Juli s.d 01 Agustus 2018 yang lalu.

Agar memperoleh hasil yang baik, Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu khususnya Seksi Sumber Daya Manusia Kesehatan dan Akreditasi melakukan beberapa persiapan sebelum pelaksanaan Workshop, baik itu persiapan teknis maupun persiapan administratif diantaranya Seksi Sumber Daya Manusia Kesehatan dan Akreditasi telah melibatkan unsur – unsur terkait seperti Kementrian Kesehatan bagian Ditjen Pelayanan Kesehatan, Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota  agar Workshop  dapat berjalan lancar.

Narasumber pada kegiatan ini sudah sesuai dengan kualifikasi dan materi Workshop yang dibutuhkan secara professional dengan bidangnya diantaranya ;  Ruri Purwandani, SP dari Ditjen Pelayanan Kementrian Kesehatan RI, dan Narasumber dari internal Dinkes Provinsi Bengkulu yaitu  bapak Azhar, SH, M.Kes, Bapak Drg. H. Edriwan Mansyur, MM, Ibu Dr. Hj. Astri Hernasari, MM, dan Ibu Sumidartianah, S.Kep. Ns, MM.

Adapun kualifikasi peserta pertemuan  sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan dengan kriteria :

  • Pendamping Akreditasi Puskesmas (Pendamping UKM, UKP dan Admin) Se-kabupaten/Kota Bengkulu.
    • Penanggung jawab Akreditasi Puskesmas dari masing-masing seksi yang ada  di Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu.

Peserta pertemuan ini berjumlah 44 Orang yang terdiri dari 3 (tiga ) orang dari masing-masing Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan 14 orang dari Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu.



PERTEMUAN EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA PROVINSI BENGKULU

Penyelenggaraan Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) adalah Kementerian Kesehatan bersama dengan pemangku kepentingan (stake holders) terkait diantaranya pemerintah daerah, asosiasi institusi pendidikan kedokteran Indonesia (AIPKI), Asosiasi rumah sakit daerah (ARSADA), dan pihak terkait lainnya. Pelaksana Program adalah Komite Internsip Dokter Indonesia (KIDI), baik ditingkat pusat maupun daerah yang dibentuk berdasarkan SK Menteri kesehatan Republik Indonesia. Tugas Utama KIDI adalah melakukan koordinasi pelaksanaan PIDI dan mengambil langkah penyelamatan kegiatan bila terjadi hal-hal yang berpotensi mengganggu kelancaran proses pelaksanaan PIDI tersebut.

Internsip adalah proses pemantapan mutu profesi dokter untuk menerapkan kompetensi yang di peroleh selama pendidikan, secara terintegrasi, komperhensif, mandiri serta menggunakan pendekatan kedokteran keluarga dalam rangka pemahiran dan penyelarasan antara hasil pendidikan dengan praktik di lapangan. Program Internsip merupakan tahap pelatihan keprofesian pra-registrasi berbasis kompetensi pelayanan primer guna memahirkan kompetensi yang telah dicapai setelah memperoleh kualifikasi sebagai dokter melalui pendidikan kedokteran dasar. Di Indonesia PIDI dilaksanakan oleh Komite Internsip Dokter Indonesia (KIDI) yang berada di tingkat pusat dan provinsi.

Adapun organisasi pelaksana Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) terdiri dari :

  • Komite Internsip Dokter Indonesia (KIDI) pusat terdiri atas unsur-unsur Kemenkes, KKI, Kolegium Dokter, Institusi Pendidikan Kedokteran, IDI, dan Asosiasi Rumah Sakit.
  • Komite Internsip Dokter Indonesia Provinsi yang telah dibentuk di 34 propinsi terdiri atas unsur-unsur Pemerintah Daerah, Dinas Kesehatan Provinsi, Institusi Pendidikan Kedokteran yang berada di Provinsi tersebut, IDI Wilayah, dan Perwakilan RS Daerah.

Setiap Peserta Internsip berhak didampingi oleh seorang dokter yang memenuhi kriteria sebagai berikut :

  • Dokter yang masih aktif praktek minimum 2 tahun
  • Bersedia mengikuti pelatihan pendamping
  • Bersedia secara aktif melakukan tugas pendampingan yang perannya antara lain; Role Mode, Motivator, Teman Sejawat untuk berkonsultasi, Penilai.

Peserta program Internsip adalah dokter baru lulus Program Pendidikan Dokter berbasis kompetensi yang akan menjalankan praktik kedokteran dan/atau mengikuti pendidikan dokter spesialis.

Kegiatan ini telah dilaksanakan selama 4 hari pada bulan Oktober 2018 yang lalu di Grage Hotel Bengkulu.

Kegiatan ini bertujuan untuk :

  • Mengevaluasi kegiatan Dokter Internsip yang Sudah Dilakukan tahun sebelumnya di wahana masing-masing Kab/Kota.
  • Meningkatkan pemahaman para dokter pendamping terhadap tugas dan fungsi masing-masing stateholder di dalam Pelaksanaan Program Internsip Dokter Indonesia  sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  • Meningkatkan koordinasi terhadap implementasi, pembinaan dan pengawasan kegiatan Internsip yang berlangsung terintegrasi di daerah.
  • Mendapatkan masukan terhadap regulasi yang telah ada dan hal-hal yang dipandang perlu bagi terselenggaranya keterpaduan antar stakeholder dalam Program Internsip Dokter Indonesia.
  • Untuk mengetahui sejauh mana pelaksaan Program Internsip Dokter Indonesia dalam menjalankan tugas di Rumah Sakit dan Puskesmas wahana masing-masing.

Dalam kegiatan pertemuan ini di isi oleh Narasumber yang telah berpengalaman di bidangnya, diantaranya Narasumber dari Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan Sumber Daya Manusia Kesehatan RI, KIDI Provinsi Bengkulu, Sekretariat PIDI Provinsi Bengkulu dan lainnya lagi. Narasumber tersebut memaparkan tentang Agenda Pertemuan Evaluasi Program Internsip Dokter Indonesia tahun 2018 oleh Ketua KIDI Pusat, KIDI Provinsi Bengkulu dilanjutkan paparan mengenai Perkembangan Program Internsip sampai dengan tahun 2018. Juga di bahas mengenai Honor Dokter Pendamping dari Sekretariat PIDI Provinsi Bengkulu

Kegiatan Pertemuan ini di biayai oleh dana DIPA APBN Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDMK Badan PPSDM Kesehatan Kementerian Kesehatan RI TA 2018

Adapun kegiatan pertemuan ini di ikuti oleh peserta sebanyak 91 orang, dengan alokasi peserta sebagai berikut :

  1. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota       : 10 Orang
  2. Direktur RSUD Kab/Kota                                   : 14 Orang
  3. Dokter Pendamping Kab                                   : 27 orang
  4. Dokter pendamping Kota                                  : 15 orang
  5. Sekretariat KIDI Prov                                      :   7 orang
  6. Anggota KIDI Prov                                             :   4 orang
  7. Kepala Puskesmas Kab/Kota                          :  14 orang

Total                                                               : 91 orang   

Dengan diadakannya pertemuan Evaluasi Pelaksanaan Program  Internsip Dokter Indonesia Provinsi Bengkulu Tahun 2018 diharapkan mendapatkan permasalahan yang ada di masing-masing wahana Internsip sehingga dihasilkan pemecahan masalah yang kongkrit. Selain itu diperolehnya gambaran pelaksanaan PIDI di provinsi Bengkulu sebagai dasar kebijakan dalam menyusun strategi perbaikan pelaksanaan PIDI yang akan datang.

PERTEMUAN PEMBINAAN DAN EVALUASI DAN PELAKSANAAN BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN (BOK) PROVINSI BENGKULU TAHUN 2018



Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah sebagai salah satu sumber pembiayaan bagi daerah dalam pelaksanaan desentralisasi, diantaranya untuk meningkatkan pembangunan kesehatan sehingga tersedia pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau dan berkualitas sebagaimana yang telah diamatkan Undang undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Belanja DAK diprioritaskan untuk mendanai kegiatan fisik dan dapat pula digunakan untuk kegiatan non fisik sesuai Undang undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah

Pada tahun 2018 pemerintah telah mengalokasikan anggaran DAK Bidang Kesehatan  termasuk untuk pembangunan kesehatan di Provinsi Bengkulu baik untuk kegiatan fisik maupun non fisik yang pengelolaannya diserahkan kepada bupati/walikota yang secara teknis dilakukan oleh kepala dinas kesehatan kab/kota serta direktur rumah sakit daerah.  Pada tahun 2018 selain DAK Non Fisik bidang kesehatan di kab/kota, pemerintah juga mengalokasikan DAK Non Fisik Bidang Kesehatan di Provinsi Bengkulu yang secara teknis dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu dalam mendukung upaya pembangunan kesehatan di kab/kota dalam kegiatan upaya kesehatan masyarakat tersier yang disebut DAK Non Fisik BOK.

        Alokasi DAK Non Fisik BOK tahun 2018 baik UKM primer, sekunder dan tersier cenderung meningkat.  Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu mengadakan kegiatan Pertemuan Pembinaan dan Evaluasi Pelaksanaan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) tanggal 30 November sampai dengan 01 Desember 2018.

Secara umum kegiatan ini bertujuan agar terlaksananya Pembinaan dan evaluasi pelaksanaan BOK dan Jampersal pada UKM primer, sekunder dan tersier. Dan secara spesifik agar tersosialisasinya Petunjuk Teknis Pelaksanaan BOK dan jampersal tahun 2019, terlaksananya evaluasi pelaksanaan BOK dan jampersal tahun 2018.

Kegiatan ini di laksanakan berdasarkan DPPA OPD Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Nomor 1.02.01.07.06.5.2 Tanggal 26  Oktober 2018 dan Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Nomor 6869/440.II.2.Kes/XI/2018 Tanggal 27 November 2018. Kegiatan ini telah dilaksanakan selama 2 (dua) hari yaitu dimulai pada tanggal 30 November sampai dengan tanggal 1 Desember  2018 yang lalu yang bertempat di Hotel Nala Sea Side Jl. Pantai Panjang Kota Bengkulu.

Dalam kegiatan ini di dukung oleh narasumber professional sesuai bidangnya, diantaranya dari Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI yaitu Bpk. Ario Baskoro, M.Sc (MHM) yang menyampaikan materi tentang “Petunjuk Teknis Pelaksanaan BOK dan Jampersal Tahun 2019”. Dari Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Bpk. H. Herwan Antoni, SKM, M.Kes, M.Si yang memberikan materi mengenai “Standar Teknis Penerapan SPM Bidang Kesehatan, kemudian Bpk. Azhar, SH, M.Kes (Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu) menyampaikan materi mengenai “Evaluasi Pelaksanaan Jampersal Kabupaten/Kota dan Provinsi Bengkulu, dan Bpk. Eri Murianto, SKM, MM selaku PPTK Kegiatan DAK Non Fisik memandu dan menyusun Rencana Tindak Lanjut Pertemuan hingga mendapatkan kesimpulan dan kesepakatan pertemuan tersebut.

Sedangkan Narasumber dari Kabupaten/Kota disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan terpilih berdasarkan pengiriman laporan yang tercepat (tepat waktu) diantaranya dari Kabupaten Bengkulu Utara, Rejang Lebong, Kepahiang dan Kota Bengkulu.

Dari Kabupaten Bengkulu Utara disampaikan oleh Bpk. Drg Adi Fitridin, M.Kes, dari Kabupaten Rejang Lebong disampaikan oleh Bpk. Syamsir, SKM, MKM, dari Kabupaten Kepahiang disampaikan oleh Bpk. Saprialis Gani, SKM serta dari Dinas Kesehatan Kota disampaikan oleh Susilawati, S.Sos, SKM, M.Kes yang masing-masing pemateri tersebut menyampaikan bahasan Hasil Evaluasi Pelaksanaan BOK dan Jampersal di Kabupaten/Kota masing-masing.

Adapun peserta dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh 30 (tiga puluh) orang yang berasal dari Kabupaten/Kota dengan masing masing kab/kota 3 (tiga)  orang yang terdiri dari : 1 (satu) orang pejabat/staf pengelola BOK Dinas Kesehatan Kab/Kota. 1 (satu) orang pejabat/staf pengelola Jampersal  Dinas Kesehatan Kab/Kota, dan 1 (satu) orang pejabat/staf pengelola evaluasi dan pelaporan Dinas Kesehatan Kab/Kota dan ditambah dengan 5 (lima) orang peserta dari Dinkes Provinsi Bengkulu yang juga sebagai pelaksana kegiatan.

Kegiatan pertemuan ini didanai dari DAK Non Fisik Bidang Kesehatan Dinas Kesehatan  Provinsi Bengkulu tahun Anggaran 2018 dengan Nomor DPPA OPD 1.02.01.07.06.5.2 Tahun 2018.