Selamat datang di Website Resmi

MENKES RI KUNJUNGI BENGKULU DALAM RANGKA VAKSINASI COVID-19 MASSAL DAN LAUNCHING KBS

Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Budi Gunadi Sadikin), melaksanakan kunjungan kerja ke Provinsi Bengkulu, memenuhi undangan Gubernur Bengkulu terkait pelaksanaan vaksinasi  Covid-19 massal tahap 2 bagi pelayan publik sekaligus launching Kartu Bengkulu Sehat (KBS) Provinsi Bengkulu sebagai tindak lanjut merealisasikan program 100 hari Gubernur dan Wakil Gubernur Bengkulu.

Kunjungan kerja tersebut bertepatan hari libur Isra Miraj tanggal 11 Maret 2021. Menkes tiba di Bandara Fatmawati Soekarno sekira pukul 07.50 dengan pesawat Citilink dan disambut langsung Gubernur Bengkulu (Rohidin Mersyah) didampingi anggota DPR RI Dapil Bengkulu H. Elva Hartati. Selanjutnya rombongan Menteri Kesehatan istirahat dan sarapan di ruang VIP Bandara.

Pukul 09.00 WIB Menteri Kesehatan tiba di Auditorium Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Prosesi acara dimulai, diawali dengan laporan ketua panitia  yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu (H. Herwan Antoni, SKM., M.Kes., M.Si. Dalam laporannya disampaikan tujuan dari kegiatan ini sebagai upaya mengakselerasi capaian program vaksinasi Covid-19 di Provinsi Bengkulu.

Selanjutnya, Gubernur Bengkulu menyampaikan sambutannya,”Seperti yang sama sama kita ketahui, bahwa pemerintah pusat, provinsi kabupaten dan kota pada saat ini focus pada upaya percepatan penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi melalui program vaksinasi secara bertahap dan khususnya pada saat ini telah kita memulai pada sasaran pelayanan publik. Secara keseluruhan jumlah sasaran vaksinasi Provinsi Bengkulu 1,4 juta iiwa yang tersebar di 10 kabupaten/kota ditargetkan selesai pada akhir tahun ini. Tentu kesuksesan program ini memerlukan dukungan semua pihak terutama sosialisasi secara massif tentang manfaat vaksinasi. Saya selaku Gubernur sebagai perwakilan pemerintah pusat bersama bupati/walikota siap mensukseskan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 dan berharap dukungan penuh pemerintah pusat khususnya Kementerian Kesehatanuntuk memenuhi ketersediaan vaksin secara bertahap”.

Pada hari ini juga mengawali tugas Saya sebagai Gubernur melaunching 18 program prioritas 100 hari kerja pemerintahan Saya bersama Wakil Gubernur yaitu Kartu Bengkulu Sejahtera (KBS), berupa Kartu Indonesia Sehat bagi masyarakat Bengkulu yang belum terdaftar sebagai peserta jaminan kesehatan nasional dan belum dijamin oleh pemerintah kabupaten/kota yang dibiayai dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Provinsi Bengkulu Tahun 2021 dengan kepesertaan 33.743 jiwa.

Saya ucapkan terima kasih atas kehadiran Bapak Menkes beserta rombongan, kiranya Bapak berkenan dapat mengunjungi pelaksanaan pelayanan vaksinasi massal, peletakkan batu pertama Rumah Sakit Universitas Bengkulu dan Fakultas Kedokteran, dan kami berharap  Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu untuk diambil alih oleh Kementerian Kesehatan, sebagaimana telah kami usulkan pada massa Menteri Kesehatan  (Ibu Nila Moeloek). Dalam kesempatan ini juga kami ucapkan terima kasih kepada jajaran kesehatan yang telah sukses melaksanakan vaksinasi tahap I dan hari ini melaksanakan vasiknasi massal tahap II pada pelayan publik.

Selanjutnya, Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Budi Gunadi Sadikin) dalam arahannya menjelaskan mengapa  orang yang sudah disuntik vaksin masih bisa terpapar virus corona atau Covid-19. “Ada pesan yang harus saya sampaikan. Vaksinasi tidak langsung membuat bapak ibu jadi superman,” ujarnya, Menurutnya, vaksin yang sudah disuntikkan ke tubuh baru bekerja efektif 28 hari setelah penyuntikan dosis kedua.
Untuk itu, penerima vaksin harus tetap mematuhi protokol kesehatan, yaitu  menggunakan masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan, serta menghindari kerumunan. “Jadi kalau sudah divaksin jangan merasa sudah aman,”  Beliau juga  mengingatkan bahwa penanganan pandemi tidak hanya bergantung pada vaksin, tapi protokol kesehatan juga bagian penting dari sebagai upaya mencegah dan memutus rantai penularan Covid-19.

Menteri Kesehatan juga mengapresiasi program kerja Gubernur dan Wakil Gubernur Bengkulu, Menurutnya, KBS akan berguna bagi masyarakat kurang mampu yang belum mendapatkan bantuan sosial dan kesehatan dari pemerintah pusat, seperti JKN-KIS, PKH, KIP dan sebagainya. Sehingga inisiatif Pak Gubernur adalah menggunakan APBD untuk bisa memberikan jaminan kesehatan masyarakat kurang mampu yang belum terkaper oleh program pemerintah pusat. Buat saya itu penting dan saya mendukung sekali. Selain itu dengan adanya program KBS juga bisa mengevaluasi data masyarakat penerima manfaat dan juga program bantuan pemerintah agar lebih tepat sasaran. Dengan demikian kita bisa mengevaluasi, data yang kita miliki itu sama atau tidak. Saya rasa rekonsiliasi data itu penting,  sebagai bahan cross check supaya tidak terjadi tumpang tindih atau salah sasaran dan data penerima memang membutuhkan, jangan sampai pemerintah berikan bantuan tapi tidak pas ke sasarannya.

Dalam kesempatan ini, hadir juga penerima program KBS bernama Asmi Darnawati warga Kelurahan Sawah Lebar, Kota Bengkulu, yang mengaku sangat terbantu dengan adanya program ini. “Kami sangat tertolong karena adanya kartu ini. Selama ini untuk berobat kami kesusahan. Terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Bengkulu telah peduli terhadap kami yang tidak mampu”.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu menyebutkan, masyarakat kurang mampu yang terdaftar sebagai penerima program KBS tercatat sebanyak 33.743 peserta. Rinciannya: Kabupaten Kaur 2.302 peserta; Bengkulu Selatan 2.951 peserta; Seluma 3.808 peserta; Kota Bengkulu 6.119 peserta; Bengkulu Tengah 2.068 peserta; Bengkulu Utara 4.853 peserta; Kepahiang 2.697 peserta; Rejang Lebong 4.843 peserta; Lebong 1.884 peserta; dan Mukomuko 2.218 peserta.

Foto bersama setelah meninjau proses vaksinasi Covid-19 massal

Menkes tinjau proses vaksinasi

Kepala Dinas Kesehatan (ditengan) dan didampingi Pejabat Eselon III berpose bersama setelah vaksinasi massal selesai.

Setelah prosesi penyambutan Menteri Kesehatan RI didampingi Gubernur Bengkulu, dan Anggota DPR RI meninjau proses pelayanan vaksinasi massal bagi pelayan publik tahap II yang digelar di Auditorium dan halaman  Poltekkes Kemenkes Bengkulu yang dipersiapkan tenda dalam ukuran besar. 1000 orang menjadi sasaran vaksinasi.   Bagi yang telah divaksin dipersilahkan istirahat di ruang tunggu selama 30 menit. Mereka disediakan sneck dan minum panas dingin. Situasi inilah yang kami manfaatkan untuk melakukan komunikasi, informasi dan edukasi terkait mengapa harus divaksin dan apa manfaat vaksin Covid-19. Edukasi tersebut kami lakukan melalui pemutaran video informasi tentang penerapan protokol kesehatan. Selain itu, seluruh penerima vaksin kami bagi leaflet mengapa harus vaksin dan manfaatnya.

Berikut ini leafletnya:

Text Box: Meskipun telah divaksin, namun tetap terapkan protokol kesehatan, yaitu:  Pakai masker, Cuci tangan pakai sabun, Selalu bawa hand sanitizer, Jaga jarak, Hindari kerumunan.

Menkes RI dan Gubernur Bengkulu mensuport penerima vaksin

Selesai meninjau kegiatan vaksinasi Covid-19 massal, Menkes meninjau lokasi Rumah Sakit Pendidikan Universitas Bengkulu dan melakukan peletakkan batu pertama pembangunan. Selanjutnya meninjau pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Puskesmas Jalan Gedang Kota Bengkulu. Kemudian Menkes mengakhiri kunjungan kerja ke Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu.

Dihadapan Menteri Kesehatan RI, Gubernur Bengkulu menyampaikan paparan terkait RSKJ Soeprapto Bengkulu.  Diawali dengan status pendapatan, dimana sebanyak 75 persen anggaran biaya RSKJ ini masih disubsisdi oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu dari APBD Provinsi Bengkulu yang hanya berkisar 3, 4 triliun.  Celah fiskal kita sangat kecil jika dibandingkan dengan APBD kabupaten/kota yang ada di kepulauan Jawa”.  Gubernur berharap Menkes  dapat mengakomodir keinginan Pemprov Bengkulu agar Rumah Sakit Jiwa Soeprapto Bengkulu ini dapat bantuan kucuran dana dari pemerintah pusat. Karena RSKJ Soeprapto ini,  bukan hanya melayani pasien dari dalam provinsi saja, tapi juga pasien yang berasal dari provinsi lainnya. Selain itu, kondisi aset bangunan dan lahan yang dimiliki RSKJ Soeprapto tersebut sangat luas,  baik dan reprentatif menjadi rumah sakit untuk menampung seluruh pasien sakit jiwa maupun pasien ketergantungan obat. Dijelaskannya lahan yang dimiliki baru dimanfaatkan sekitar 14,9 hektar dari total lahan  17,67 hektar dengan status lahan sudah clear and clean.

Menkes menyatakan salut kepada Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah yang menampung dan merawat pasien sakit jiwa, dan pasien gelandangan psikotik yang bukan hanya berasal dari Provinsi Bengkulu saja. “Terus terang, saya untuk pertama kali melihat pasien rumah sakit jiwa ini. Saya kagumlah kepada pak gubernur yang memiliki rasa sosial tinggi sekali untuk merawat pasien sakit jiwa dari seluruh Sumatera ini”. Beliau juga kagum akan bangunan dan luas lahan yang dimiliki RSKJ Soeprapto Bengkulu dan berharap Rumah Sakit Jiwa yang dimiliki Provinsi Bengkulu ini yang menjadi aset daerah dan dapat dipertahankan, sehingga kedepannya dapat mengatasi persoalan sosial dan menaikkan pendapatan daerah.

Menkes menampung yang menjadi keinginan Gubernur Bengkulu untuk pengembangan dan peningkatan pelayanan RSKJ Soeprapto Bengkulu tersebut. “Sudah kita pikirkan untuk diakomodir, dari Permenkes juga sudah ada untuk rumah sakit khusus jiwa sebanyak 40 persen dapat digunakan bagi pelayanan umum. Sehingga nanti bisa kita disain agar dapat disubsisdi porsi untuk rumah sakit khusus jiwa ini”.

Ditulis oleh: Supardi, SH., M.Kes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fourteen + four =