Selamat datang di Website Resmi

MENGENALKAN OBAT TRADISIONAL PADA GENERASI MILENIAL

Oleh: Sutanto, SKep

Diantara kegiatan yang dapat dilakukan Puskesmas dalam Upaya Sosialisasi Kepmenkes Nomor HK.01.07/Menkes/187/2017 mengenai Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia, adalah dengan pembicaraan Informal dengan tokoh masyarakat salah satunya saat MMD (Musyawarah Masyarakat Desa). Dari pembicaraan itu terungkap bahwa ternyata penggunaan obat tradisional di Desa Sumber Urip Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong Propinsi Bengkulu ini telah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu, warisan budaya dari generasi ke generasi.

Dibawah Pimpinan Ns. Aandrah, S.Kep, Puskesmas yang terletak di lereng Bukit Kaba ini, mengalami fenomena bahwa dahulunya, setiap rumah warga memiliki jenis tanaman obat tradisional yang cukup beraneka ragam.  Tanaman obat tersebut dimanfaatkan saat ada anggota keluarga yang sakit dan saling melengkapi antara satu rumah dengan rumah yang lain. Mereka juga memiliki resep ramuan untuk berbagai jenis penyakit yang lazim menyerang warga seperti diare, mual, muntah, sakit perut, demam dan sebagainya. Mereka juga memiliki ramuan khusus untuk menjaga kesehatan atau menghilangkan capek, lelah dan pegal-pegal. Apalagi daerah ini terletak di lereng Bukit Kaba, salah satu gunung berapi aktif, yang memiliki suhu relatif dingin dan berkabut di pagi hari, dengan mata pencaharian sebagian besar penduduknya adalah sebagai petani.

Saat ini masih ditemukan rumah-rumah warga terutama yang memiliki anggota keluarga berusia diatas 40 tahun, tetapi jenis tanaman obatnya sudah jauh berkurang. Yang masih sering dijumpai tinggal sebatas Jahe, Kunyit, Kencur, dan Sirih. Dengan alasan lebih praktis dan menghemat waktu, menggunakan obat-obat modern yang bisa didapat dengan mudah di warung-warung terdekat menjadi substitusinya.

Kondisi ini dikhawatirkan akan membuat tradisi penggunaan obat tradisional menjadi hilang/punah, terutama dikalangan generasi milenial yang paparan terhadap obat tradisional sangat minim. Untuk itu diperlukan upaya mengenalkan obat tradisional di kalangan anak muda sebagai alternatif lain selain penggunaan obat-obat kimia untuk mengatasi berbagai penyakit ataupun sebagai minuman penjaga kesehatan.

PENGUMPULAN DATA

Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan mendata dan mewawancara pembuat dan penjual jamu tradisional, mengenai jenis-jenis jamu yang mereka buat dan populer ditengah masyarakat. Dari 8 orang pembuat dan penjual Jamu yang di wawancara, hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 1

Jenis Jamu yang paling diminati Masyarakat

No Jenis Jamu Bahan Dasar Manfaat Dibuat oleh:
1 Bandrek Jahe, Gula Aren Menghangatkan badan 8
2 Kunir Asem Kunyit, Asam Jawa Gangguan Pencernaan 8
3 Beras Kencur Kencur, Beras Penambah Nafsu Makan 8
4 Temu Lawak Temu Lawak Pegal linu 7
5 Sambiloto Sambiloto Masuk angin 6

Berdasarkan data diatas, maka 4 Jenis jamu yang meliputi Bandrek, Kunir Asam, Beras Kencur dan Temu lawak disepakati untuk dibuat dan di jadikan minuman resmi untuk setiap tamu/pengunjung di Puskesmas, meniru konsep welcome drink yang biasanya disajikan oleh hotel-hotel berbintang.

Untuk tahap awal, penyajian minuman ini dapat dilakukan setiap hari Jumat dengan bergantian jenis jamu yang disajikan. Mengenai Jadwal penyajian Jamu dapat di lihat pada tabel 2 berikut.

Tabel 2

Jadwal Penyajian Jamu Tradisional

No Jumat Ke: Jenis Jamu Penanggung Jawab
1 I Bandrek PTM
2 II Kunir Asem Promkes
3 III Beras Kencur KIA
4 IV Temu Lawak P2P

Untuk menghasilkan rasa yang lebih nyaman di lidah, beberapa jenis jamu dibuat dengan mengurangi komposisi bahan utama, serta penambahan gula aren dan garam. Tentu saja hal ini akan berdampak pada khasiatnya, tetapi mengingat ini adalah proses pengenalan, maka kenyamanan rasa menjadi lebih prioritas. 

Langkah berikutnya, mengajarkan dan langsung mempraktekkan pembuatan Beberapa jenis Jamu ini saat Posyandu Remaja. Setiap peserta posyandu diajak turut berperan aktif dengan membawa bahan pembuatan jamu ndari rumah masing-masing, kemudian diolah bersama sambil mendiskusikan manfaat dari jenis jamu yang akan dibuat dan kelebihannya di bandingkan obat modern yang mengandung bahan kimia dan memiliki efek samping jangka panjang yang cukup banyak. Cara ini terbukti cukup efektif dibandingkan dengan ketika peserta hanya mendengarkan penyuluhan saja.

Diharapkan kegiatan ini dapat terus ditingkatkan baik frekwensi penyajian maupun jenis jamu tradisional yang di sajikan, sehingga tujuan awal mengenalkan dan melestarikan obat tradisional khususnya jamu pada generasi muda dapat terlaksana.

( Sutanto, Pemerhati masalah promosi kesehatan, tinggal di Rejang Lebong )

* Tulisan ini mendapat penghargaan ditampilkan dalam bentuk Presentasi Poster dalam acara Jambore Nasional Pelayanan Kesehatan II, Aston Kartika Grogol Jakarta, 4-7 Nopember 2019 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 − twelve =