Selamat datang di Website Resmi

Mengenal Laboratorium PCR Rujukan COVID-19 RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu

Saat ini, RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu telah memiliki gedung laboratorium rujukan covid-19 yang diresmikan awal februari 2021 yang lalu oleh Gubernur Bengkulu (Dr. Rohidin Mersyah, MMA). Setiap hari menerima kiriman spesimen beberapa daerah kabupaten dan Kota Bengkulu sendiri. Pemeriksaan dengan metode PCR merupakan hal yang sangat penting dalam menegakkan diagnosa penyakit yang disebabkan corona virus. Metode  dipakai adalah PCR karena metode paling akurat untuk  mendeteksi COVID-19 untuk saat ini.

Berdasarkan sumber dari Dinas Kominfo  dan Statistik Provinsi Bengkulu, sampai saat ini lebih dari 8 ribuan pasien terkonfirmasi yang tersebar di kota dan kabupaten di wilayah Provinsi Bengkulu. Jumlah total  yang telah diperiksa di laboratorium rujukan Covid-19 RSMY dari januari hingga Mei 2021 sebanyak 11.313 specimen. Meningkatnya angka specimen yang harus diperiksa dari hari ke hari, maka sangatlah  penting  peranan laboratorium PCR sebagai salah satu syarat penunjang yang paling utama dalam menegakkan diagnosa penyakit yang disebabkan Coronavirus ini. Wabah penyakit yang dapat menyebabkan kematian secara cepat diseluruh dunia.

Pada awal kasus Covid-19 berkembang di Provinsi Bengkulu, specimen pemeriksaan PCR masih dikirim ke Balitbangkes Palembang. Kemudian Laboratorium Rujukan Covid 19 RSUD dr. M. Yunus mulai beroperasi sejak 28 Mei 2020. Dengan berakhirnya masa pinjam pakai alat PCR dengan BPOM Provinsi Bengkulu maka diperlukan pengadaan sarana dan prasarana agar pemeriksaan Covid-19 di Provinsi Bengkulu dapat tetap berlanjut. Pengujian harus dilakukan di laboratorium yang memenuhi kriteria BSL 2 (WHO, 2020), dengan kriteria: 1) Memiliki Biosafety cabinet Level II A2, mencegah virus menginfeksi penguji; 2) Ruang utama bertekanan negative, mencegah virus keluar lingkungan; 3) Memiliki autoclave (alat pemusnah limbah), limbah virus dapat langsung dimusnahkan; 4) Pemantauan suhu, tekanan, kelembaban, limbah, CCTV secara otomatis 24 jam (Building   automation system), menjamin keamanan lingkungan laboratorium; 5) Memenuhi standar laboratorium pengujian :    alur pengujian satu arah (unidirectional flow), mencegah kontaminan saat proses pengujian dan sistem pencatatan sampel dan pelaporan hasil yang terintegrasi

Selain didukung alat sesuai standar dan SDM yang berkompeten,  tidak kalah pentingnya, sarana dan prasarana yang mendukung seperti alat pelindung Diri (APD) petugas harus sesuai dengan standar yang telah ditentukan agar petugas tidak terpapar virus dan menjaga keselamatan petugas dalam berkerja. Serta system pengadministrasian yang baik untuk  pencatatan dan pelaporan.

Dalam operasionalnya, Kepala Laboratorium Rujukan Covid-19 RSMY dr. Mulyadi, M.Sc Sp.PK dibantu 20 orang anggota tim koordinasi dengan Universitas Bengkulu dan Pemerintah Provinsi Bengkulu yang berkompeten dan handal di bidangnya seperti supervisor, quality control, operator operasional dan pranata laboratorium serta petugas administrasi yang siap siaga bertugas setiap hari. Karena RSMY merupakan rumah sakit rujukan Provinsi Bengkulu, maka RSMY harus siap menerima kedatangan specimen dan pasien yang tidak bisa kita prediksi jumlahnya. Kemudian hasil pemeriksaan harus selesai dan dilaporkan setiap hari kepada Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Bengkulu.

(YN/pkrsrsmy/052021)

PCR atau polymerase chain reaction adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Saat ini, PCR juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit COVID-19, yaitu dengan mendeteksi material genetik virus Corona

Selain untuk mendiagnosis sejumlah penyakit di atas, tes PCR juga digunakan untuk mendeteksi virus Corona penyebab COVID-19. COVID-19 adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang lebih sering disebut virus Corona. Virus Corona penyebab COVID-19 ini merupakan jenis virus RNA.

Tes PCR untuk Mendiagnosis COVID-19

Prosedur pemeriksaan diawali dengan pengambilan sampel dahak, lendir, atau cairan dari nasofaring (bagian antara hidung dan tenggorokan), orofaring (bagian antara mulut dan tenggorokan), atau paru-paru pasien yang diduga terinfeksi virus Corona.

Pengambilan sampel dahak ini dilakukan dengan metode swab, yang prosedurnya memakan waktu sekitar 15 detik dan tidak menimbulkan rasa sakit. Selanjutnya, sampel dahak akan diteliti di laboratorium.

Nah, karena virus Corona penyebab COVID-19 merupakan virus RNA, deteksi virus ini dengan tes PCR akan diawali dengan proses konversi (perubahan) RNA yang ditemukan di sampel menjadi DNA.

Proses mengubah RNA virus menjadi DNA dilakukan dengan enzim reverse-transcriptase, sehingga teknik pemeriksaan virus RNA dengan mengubahnya dulu menjadi DNA dan mendeteksinya dengan PCR disebut reverse-transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR).

Setelah RNA diubah menjadi DNA, barulah alat PCR akan melakukan amplifikasi atau perbanyakan materi genetik ini sehingga bisa terdeteksi. Jika mesin PCR mendeteksi RNA virus Corona di sampel dahak atau lendir yang diperiksa, maka hasilnya dikatakan positif.

Tes PCR untuk Memastikan Hasil Rapid Test

Selain tes PCR, mungkin Anda pernah mendengar tes serologi rapid test atau deteksi virus Corona melalui alat GeNose untuk COVID-19. Sebenarnya, rapid test bukanlah tes untuk mendiagnosis COVID-19. Rapid test hanyalah pemeriksaan penyaring atau skrining untuk mendeteksi keberadaan antibodi IgM dan IgG yang dihasilkan tubuh ketika terpapar virus Corona.

Perlu diketahui, pembentukan antibodi IgM dan IgG membutuhkan waktu yang cukup lama, bisa hingga 2–4 minggu setelah virus masuk ke dalam tubuh. Oleh sebab itu, hasil negatif pada rapid test tidak bisa dijadikan penentu seseorang tidak terinfeksi virus Corona.

Hasil positif pada rapid test juga tidak bisa dijadikan penentu bahwa seseorang terinfeksi virus Corona. Hal ini karena antibodi yang terdeteksi bisa saja IgM dan IgG yang dibentuk oleh tubuh karena infeksi virus yang lain, termasuk virus dari kelompok coronavirus selain SARS-CoV-2. Hasil seperti ini dikatakan hasil positif palsu (false positive).

Di sinilah pentingnya melakukan tes PCR. Tes PCR akan memastikan hasil dari rapid test. Sampai saat ini, tes PCR merupakan pemeriksaan diagnostik yang dianggap paling akurat untuk memastikan apakah seseorang menderita COVID-19 atau tidak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

12 − seven =