Selamat datang di Website Resmi

Membangun Indonesia Sehat dari Pinggiran

 

“Membangun Indonesia dari pinggiran”,  demikianlah disampaikan Pak Presiden Jokowi pada pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia pada Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di Ruang Rapat Paripurna DPR-MPR, Jakarta, Kamis (16/08/2018). Bukan sekedar slogan belaka beliau semasa pemerintahannya sudah membuktikan perkataannya dengan mengeksekusi penggelontoran dana desa. Sebagian dana desa tersebut digunakan  untuk kesehatan di desa setempat. Semua instansi ikut bergerak membangun Indonesia dari pinggiran, termasuk Puskesmas juga turut  serta membangun Indonesia dari pinggiran dalam bidang kesehatan.

 

 

Perkenalkan kami dari Puskesmas Perawatan Batik Nau Kecamatan Batik Nau Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu. Di Puskesmas kami masih masuk dalam kategori daerah terpencil atau pinggiran. Meski kami dikategorikan daerah terpencil atau pinggiran tapi semangat kami tetap sama seperti daerah perkotaan. Nama Kepala Puskesmas Perawatan Batik Nau adalah dr. Kerinadi Pinem,MM, beliau adalah sosok pemimpin yang dapat diteladani, giat bekerja, gaul orangnya dan selalu memperhatikan bawahan serta peduli pada masyarakat wilayah kerjanya. Wajar saja bila beliau  mendapatkan perdikat Dokter Teladan se-Provinsi Bengkulu. Lalu ada Ibu Indah Wahyuni sebagai penanggung jawab Promosi Kesehatan dan saya sendiri Syafriadi,SKM sebagai tenaga promosi kesehatan.  Selain itu Puskemas Perawatan Batik Nau terdapat tenaga Nusantara Sehat (drg.Ginanjar Rachmat Nugraha, Mislia,A.Md.KL sebagai tenaga Kesehatan Lingkungan, Andi Kurniawan,SKM sebagai staff Promotor Kesehatan, Eva Fahmila,A.Md.Gz. sebagai Tenaga Gizi dan Administrasi, dan terakhir  ada Eva Siburian, Amd. Farm penanggung jawab apotik. Mereka semua mendobrak untuk kemajuan Puskesmas Perawatan Batik Nau dan masyarakat sekitarnya.

 

Jika kita membahas tentang Program Kesehatan maka tidak terlepas dari kegiatan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PISPK).  Adapun hasil pendataan melalui aplikasi Keluarga Sehat setelah, setelah diolah secara manual di microsoft excel maka jadilah seperti berikut ini:

Prioritas masalah di Kecamatan Batik Nau Tahun 2019:

  1. Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur                                            :
    11,98%
  2. Penderita tuberkulosis paru
    mendapatkan pengobatan sesuai standar                      :
    18,48%
  3. Anggota keluarga tidak ada
    yang merokok                                                                               :
    28,90%
  4. Penderita gangguan jiwa
    mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan           :
    35,29%
  5. Keluarga mengikuti program
    Keluarga Berencana (KB)                                                       :
    46,09%
  6. Keluarga sudah menjadi
    anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)                           :
    54,27%
  7. Keluarga mempunyai akses
    atau menggunakan jamban sehat                                        :
    76,14%
  8. Ibu melakukan persalinan di
    fasilitas kesehatan                                                                     :
    84,00%
  9. Keluarga mempunyai akses
    sarana air bersih                                                                          :
    84,61%
  10. Balita mendapatkan
    pematauan pertumbuhan                                                                      :
    87,44%
  11. Bayi mendapat air susu ibu
    (ASI) eksklusif                                                                                :
    95,20%
  12. Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap                                                                                     :
    100,00%

 

Dari data tersebut maka kami dapat membuat program kesehatan untuk tahun 2020 agar permasalah prioritas menghilang, dan mendapatkan Indeks Keluarga Sehat lebih dari 0,800 (>0,800). Kami juga melaksanakan kagiatan yang disebut Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) agar mensinkronkan dana desa untuk kesehatan dengan masalah kegiatan puskesmas/permasalahan kesehatan yang ada di desa tersebut. Setelah masyarakat desa setempat sepakat maka hasilnya akan di ajukan ke Pemerintah Daerah untuk di proses lebih lanjut, apakah pengajuan itu di setujui atau di tolak. Jika pengajuan tersebut disetujui maka akan terlaksanakannya program kesehatan yang telah di sepakati untuk tahun 2020, seperti salah satunya Program pembuatan jamban bagi warga yang tergolong tidak mampu.

 

Kami juga melaksanakan olahraga (aktifitas fisik) sebagai implementasi gerakan masyarakat hidup sehat yang dilakukan terjadwal di beberapa titik dan beberapa lokasi/tatanan seperti: olahraga untuk anak sekolah, olahraga untuk lansia. Pada tahun 2020 kami juga ingin melaksanakan olahraga untuk ibu hamil. Setelah melaksanakan olahraga kami biasanya memberikan makanan sehat untuk masyarakat atau peserta olahraga, tentu kami pun juga ikut makan bersama dengan perserta yang mengikuti olahraga tersebut.

 

Kegiatan kami selanjutnya kami memiliki Posyandu Anak, Posyandu Lansia dan Posyandu remaja. Di dalam Posyandu Anak kami memiliki kegiatan seperti pada posyandu biasanya yaitu penimbangan, ukur panjang atau tinggi anak, pemberian vitamin A, pemberian Imunisasi lengkap, untuk tahun 2020. Selanjutnya kami berencana membuat inovasi seperti perlombaan yang rajin ke posyandu, atau menghias posyandu seperti acara ulang tahun agar anak senang berada di posyandu.

 

Di Posyandu Lansia kegiatan kami yaitu melakukan check up kesehatan seperti mengukur tensi, olahraga germas lansia, memberikan penyuluhan dan pengobatan bagi yang terkena penyakit hypertensi dan penyakit lainnya yang harus di beri obat secara rutin. Posyandu Remaja yaitu Pos Pelayanan Terpadu untuk anak remaja yang mana anak remaja sebenarnya sangat rentan terhadap penyakit, baik secara fisik, sosial dan batin. Di masa ini anak-anak sangat bergelora jiwa mudanya dan emosinya sangat tidak setabil untuk itu kita butuh membimbing mereka supaya mereka tidak melakukan hal-hal yang bersifat negativ seperti melakukan sek bebas, dan merokok. Disini kami memiliki kegiatan seperti bertukar cerita, memotivasi, dan melakukan kegiatan bersifat positif lainnya.

 

Mungkin hanya ini yang dapat kami sampaikan sebenarnya masih banyak sekali program-program yang kami lakukan meski kami banyak kekurangan dan kesulitan untuk melaksanakan karena kesulitan internet, kesulitan sinyal hp, dan kesulitan jalan karena masih banyak jalan yang sulit dilalui. Sebagai kata penutup kami dapat sampaikan.

“Meski
Kami Dari Pinggiran Tapi Kami Tetap Semangat Untuk Membangun Indonesia Sehat”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 − ten =