Selamat datang di Website Resmi

HYGIENE SANITASI PANGAN (HSP)

Oleh : Heni Agustati, SKM. M.Ling

Hygiene sanitasi makanan adalah upaya untuk mengendalikan faktor makanan, orang, tempat dan perlengkapannya yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan (Kepmenkes 715 Tahun 2013)  Setiap orang yang terlibat dalam rantai pangan wajib mengendalikan risiko bahaya pada pangan, baik yang berasal dari bahan, peralatan, sarana produksi, maupun dari perseorangan sehingga keamanan pangan terjamin (UU Pangan No 18 Tahun 2012). Setiap orang yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan kegiatan pada rantai pangan yang meliputi proses produksi, penyimpanan, pengangkutan, dan peredaran pangan wajib memenuhi persyaratan sanitasi (PP No.28 Tahun 2004 Tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan). Pengelolaan makanan pada jasaboga harus menerapkan prinsip higiene sanitasi makanan mulai dari pemilihan bahan makanan sampai dengan penyajian makanan (Permenkes 1096 Tahun 2011).

http://img.bisnis.com/posts/2013/06/20/146193/130620_anaksd-jajanan.jpg
http://aaikhwan.files.wordpress.com/2013/05/cilok.jpg

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya juga merupakan bagian dari hak asasi manusia. salah satunya adalah mengonsumsi pangan yang aman dikonsumsi. perlindungan konsumen dari peredaran pangan yang tidak aman merupakan jaminan yang harus didapat masyarakat sebagai konsumen. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UU Perlindungan Konsumen) Pasal 4. Kondisi ini mengisyaratkan betapa pentingnya penanganan terkait masalah pangan agar pangan yang dikonsumsi masyarakat aman. Keamanan pangan merupakan persyaratan mutlak untuk suatu produk pangan.

Untuk menjamin pangan yang tersedia di masyarakat aman dikonsumsi dan menghindari resiko gangguan kesehatan oleh Penyakit Bawaan Makanan (PBM) merupakan penyakit yang menular atau keracunan yang disebabkan oleh mikroba atau agen yang masuk ke dalam badan melalui makanan yang dikonsumsi yang mungkin ditularkan kepada masyarakat melalui faktor seperti binatang, peralatan/tangan, air/makanan dan lingkungan.  maka diperlukan penyelenggaraan keamanan pangan sampai ketangan konsumen, mulai dari tahap pemilihan bahan baku yang akan diolah, Penyimpanan bahan makanan sesuai dengan ketahanannya (sayur, ikan/daging, telur, susu, tempe, tahu dll), pengolahan makanan (memasaknya), pengangkutan makanan siap saji, penyimpanan makanan yang telah di masak dan penyajian makanan.   

Makanan tidak layak konsumsi telah menyebabkan berbagai kasus keracunan. Kejadian keracunan makanan ini, selain menyebabkan sakit dan kematian, dapat juga mengakibatkan kerugian ekonomis yang sangat besar Di sisi lain, kondisi yang membahayakan kesehatan dan jiwa konsumen setelah mengonsumsi pangan yang tidak aman menunjukkan masih lemahnya kedudukan masyarakat sebagai konsumen. Hal ini dikarenakan faktor kurangnya informasi dan pengetahuan tentang pangan yang aman dikonsumsi dan dampak yang dapat terjadi jika mengonsumsi pangan yang tidak aman.

            Menurut WHO, keamanan pangan (food safety) adalah suatu ilmu yang membahas tentang persiapan, penanganan, dan penyimpanan makanan atau minuman agar tidak terkontaminasi oleh bahan fisik, biologi, dan kimia, sehingga dapat mengurangi potensi terjadinya sakit akibat bahaya pangan. Kontaminasi fisik yaitu masuknya benda asing ke dalam makanan dan atau minuman (rambut, isi necis, plastik, kecoa, dll), kontaminasi biologi adalah suatu zat yang diproduksi oleh makhluk hidup (seperti manusia, tikus, kecoa, dan lainnya) yang masuk ke dalam makanan atau minuman (bakteri, jamur, virus, kuman dll). Kontaminasi kimia meliputi herbisida, pestisida, sianida dll., termasuk pemakaian Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang melebihi batas maksimal (pemanis, pengawet) dan atau Penyalahgunaan Bahan Berbahaya yg dilarang untuk pangan sebagai BTP (formalin, rhodamin B, boraks, asam borat, dan methanil yellow)

http://media3.picsearch.com/is?b1ocf8BO-p-H-hAwHf0UlhTeyyXb6LPP0QxpAmdHyAM&height=220
http://media5.picsearch.com/is?ZAndizXUfjuBdcreCB0VGmetj2zIY6sZDkt1XqPF8EM&height=341

Berdasarkan data e-Monev Hygiene Sanitasi Pangan (HSP) untuk Provinsi Bengkulu sampai dengan Juni  tahun 2021, Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) yang terdaftar 2589, dan dari yang terdaftar tersebut baru 1117 (43%) yang Memenuhi Syarat (MS) atau masih terdapat (1472) atau 57% TPP yang Tidak Memenuhi Syarat (TMS). Disisi lain pada tahun 2019 data KLB keracunan pangan terjadi di beberapa provinsi dengan variasi kejadian seperti provinsi Jabar 30 kasus, Prov Jatim 24 kasus, Prov Jateng 12 kasus, Provinsi Sulut 6 kasus, Provinsi Sumbar 380 kasus dan provinsi lain ada yang 3 – 5 kasus. Provinsi Bengkulu Tahun 2020 ada 4 kasus (Kabupaten Bengkulu Utara, Kota Bengkulu, Kabupaten Seluma dan Kabupaten Bengkulu Tengah). Pada satu sisi berbagai regulasi sebagai payung hukum meningkatkan kualitas baik tempat maupun pelaku yang berhubungan dengan Higiene Sanitasi Pangan, terutama pangan siap saji, disisi lain informasi yang diterima masyarakat tentang keracunan pangan yang mengarah Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan sangat terbatas. Sehingga diperlukan berbagai upaya TPP agar memenuh isyarat dan dapat meminimalkan KLB keracunan pangan. KLB keracunan pangan termasuk urutan ke-2 dari laporan KLB yang masuk ke PHEOC, Nomor 2 setelah KLB difteri. Hal ini menunjukkan bahwa KLB Keracunan Pangan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang harus diprioritaskan penanganannya. Kecenderungan kejadian KLB keracunan pangan sebagian besar masih bersumber dari pangan siap saji. Berdasarkan jenis pangan, umumnya yang menjadi penyebab KLB keracunan pangan berasal dari masakan rumah tangga (36%).

Dan merupakan tugas dari penanggungjawab program HSP seksi Kesling dan Kesjaor Provinsi Bengkulu untuk terus melakukan pembinaan, pengawasan, pemantauan dan evaluasi monitoring kegiatan HSP di 10 kabupaten/kota yang ada di wilayah kerjanya. Melakukan pertemuan terkait HSP , melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) terhadap TPP : rumahmakan/restoran, kantin sekolah dan OPD, jasaboga/catering, depot air minum, makanan jajanan, sentral makanan jajajan, gerai makanan jajajanan yang sifatnya siap saji. Hasil IKL kabupaten/kota dapat dilihat di https://tpm.kemenkes.com   

Dan dibawa ini dapat dilihat video beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh tim HSP Kesling dan Kesjaor di Tahun 2019.

https://www.4shared.com/account/home.jsp#dir=NblOXhol

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 − 3 =