LATAR BELAKANG

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi. Jumlah kasus yang dilaporkan cenderung meningkat dan daerah penyebarannya bertambah luas. Kerugian sosial yang terjadi antara lain karena menimbulkan kepanikan dalam keluarga, kematian anggota keluarga dan berkurangnya usia harapan penduduk. Dampak ekonomi langsung pada penderita DBD adalah biaya pengobatan, sedangkan dampak ekonomi tidak langsung adalah kehilangan waktu kerja, waktu sekolah dan biaya lain yang dikeluarkan selain untuk pengobatan seperti transportasi dan akomodasi selama perawatan penderita.

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Penyakit DBD dapat menyerang semua golongan umur dan sampai saat ini lebih banyak menyerang anak-anak. Penyebab penyakit ini adalah virus dengue yang sampai sekarang dikenal ada 4 type (tipe 1,2,3 dan 4) termasuk dalam grup B Arthropod Borne Virus (Arbovirus) keempat tipe virus ini telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Peneliti di Indonesia telah menunjukkan bahwa virus type 3 merupakan serotype virus dominant yang menyebabkan kasus berat, masa inkubasi penyakit demam berdarah ini dari 3-14 hari, biasanya 4-7 hari. Penularan DBD umumnya ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti meskipun dapat juga ditularkan melalui Aedes Albopictus yang hidup di kebun. Kedua jenis ini ada di hampir seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut, penyakit Demam Berdarah Dengue masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia terutama di wilayah tropis dan sub tropis tidak terkecuali Indonesia sebagai salah satu negara endemis DBD.

Berdasarkan evaluasi program Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) tahun 2015-2016 oelh Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu permasalahan penyakit DBD dari tahun ke tahun masih cukup tinggi. Pada Tahun 2015 ada 1003 kasus dan yang meninggal dunia 20 orang, pada tahun 2016 jumlah kasus 1.746 dengan jumlah kasus yang meninggal dunia 22 orang. Kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) tersebar di sleuruh wilayah kabupaten/kota se-Provinsi Bengkulu.

Kompleksitas dan jumlah kasus demam berdarah yang masih banyak dan menjawab isu-isu yang ada maka diperlukan kerjasama dari segala pihak untuk menurunkan angka kejadian demam berdarah, petugas medis pada fasilitas pelayanan kesehatan merupakan gerbang pertama untuk mengetahui dan menekan jumlah kasus demam berdarah yang ada. Oleh karena hal tersebut maka dianggap perlu untuk mengadakan pertemuan penguatan tatalaksana dan diagnosis DBD bagi petugas medis fasilitas kesehatan, yang diharapkan menjadi wadah untuk meningkatkan kapasitas bagi petugas medis mengenai tatalaksana dan diagnosis Demam Berdarah Dengue. Kegiatan bersumber dari APBD Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Tahun 2017.

TUJUAN

  1. Umum

   Untuk meningkatkan kapasitas petugas medis fasilitas kesehatan tentang tatalaksana dan diagnosis DBD

  1. Khusus

   – Menurunkan angka kematian akibat DBD menjadi kurang dari 1 %

   – Meningkatnya kapasitas petugas medis tentang tatalaksana dan diagnosis DBD

PESERTA

Peserta pada pertemuan ini berjumlah 24 orang yang terdiri dari :

Peserta Provinsi/Kota berjumlah 6 orang dengan rincian :

a. Peserta Kota

  • Puskesmas rawat inap : dokter                                                               : 1 orang
  • RSUD Kota : dokter ruang rawat inap anak/penyakit dalam          : 1 orang

b. Peserta Provinsi

  • RSUD M. Yunus : dokter ruang rawat inap anak/penyakit dalam : 1 orang
  • Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu                                                     : 3 orang

Peserta Kabupaten berjumlah 18 orang dengan rincian :

a. Kabupaten Bengkulu Tengah

  • Puskesmas rawat inap : 1 orang dokter
  • RSUD Benteng : 1 orang (dokter ruang rawat inap anak/penyakit dalam)

b. Kabupaten Seluma

  • Puskesmas rawat inap : 1 orang dokter
  • RSUD Tais : 1 orang (dokter ruang rawat inap anak/penyakit dalam)

c. Kabupaten Rejang Lebong

  • Puskesmas rawat inap : 1 orang dokter
  • RSUD Curup : 1 orang (dokter ruang rawat inap anak/penyakit dalam)

d. Kabupaten Lebong

  • Puskesmas rawat inap : 1 orang dokter
  • RSUD Lebong : 1 orang (dokter ruang rawat inap anak/penyakit dalam)

e. Kabupaten Bengkulu Selatan

  • Puskesmas rawat inap : 1 orang dokter
  • RSUD Hasanudin Damrah : 1 orang (dokter ruang rawat inap anak/penyakit dalam)

f. Kabupaten Bengkulu Utara

  • Puskesmas rawat inap : 1 orang dokter
  • RSUD Argamakmur : 1 orang (dokter ruang rawat inap anak/penyakit dalam)

g. Kabupaten Kepahiang

  • Puskesmas rawat inap : 1 orang dokter
  • RSUD Kepahiang : 1 orang (dokter ruang rawat inap anak/penyakit dalam)

h. Kabupaten Kaur

  • Puskesmas rawat inap : 1 orang dokter
  • RSUD Kaur : 1 orang (dokter ruang rawat inap anak/penyakit dalam)

i. Kabupaten Muko-muko

  • Puskesmas rawat inap : 1 orang dokter
  • RSUD Muko-muko : 1 orang (dokter ruang rawat inap/penyakit dalam)

NARASUMBER

Narasumber pada pertemuan ini adalah :

  1. Pejabat di Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu
  2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam
  3. Dokter Spesialis Anak
  4. BPJS Provinsi Bengkulu

TEMPAT DAN WAKTU

Pertemuan ini dilaksanakan di Madeline Hotel Bengkulu pada tanggal 29-31 Maret 2017