Kementerian Kesehatan terus berupaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Salah satunya dengan mendeteksi dini penyakit. Seperti di akhir bulan Maret ini, tepatnya 24 Maret diperingati sebagai hari TB Sedunia.
Tahun ini, Kemenkes melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PL) menghimbau kepada setiap masyarakat di daerah untuk aktif dalam program penanggulangan TB, karena target pemerintah untuk eliminasi TB pada tahun 2035.
“Kalau tinggal menunggu pasien datang berobat maka tidak akan selesai. Harus ada kesadaran untuk melaporkan, dan salah satu caranya dengan melalui pendekatan keluarga. Peran keluarga di sini sangat penting untuk melaporkan jika ada anggota keluarganya yang mengalami batuk berlangsung lama, “kata Dirjen P2PL Kemenkes Mohammad Subuh dalam temu media, Kamis 23 Maret 2017 di Kantor Kemenkes, Jakarta.
Saat ini kinerja penanggulangan TB di Indonesia pada tahun 2015 ditemukan insidensi sebanyak 1.020.000 kasus, artinya 395 per 100 ribu penduduk. Sebanyak 330.729 kasus positif TB yang bisa dideteksi dengan angka keberhasilan pengobatan mencapai 84%. “Angka ini masih jauh dari harapan kita yang menargetkan di atas 90%,” ujar Subuh.

Untuk lebih menemukan kasus TB yang belum terekspose, Kemenkes melakukan program baru yang diberi nama ketuk pintu “TOSS” (Temukan Obati Sampai Sembuh). “Program ketuk pintu ini baru berjalan sekitar 2 minggu dan sudah ada 120 ribu laporan yang masuk dan 600 orang ternyata positif TB. Jadi inilah keuntungan dengan adanya program ketuk pintu melalui pendekatan keluarga, “tuturnya.
Dikatakan Mohammad Subuh kalau jumlah penderita TB justru lebih banyak ditemukan di kota-kota besar di Indonesia. Hal tersebut tentunya dipengaruhi salah satunya faktor lingkungan yang tidak sehat. Berbeda dengan pedesaan yang udaranya lebih sehat dan bersih, “sebutnya.
Untuk mencontoh kota besar yang ramah lingkungan, bisa meniru dari apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Makasar, dengan menggalakkan adanya lorong sehat.
TB (tuberkulosis) merupakan penyakit yang menyebabakan permasalahan dan kerugian yang besar, bukan hanya dari aspek kesehatan tetapi juga dari aspek sosial ekonomi. Hari TB sedunia pada tanggal 24 Maret ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), merujuk pada saaat pertama kali Robert Koch menemukan bakteri TB. Peringatan ditujukan untuk meningkatkan kampanye dengan penyebarluasan informasi terkait TB serta mengajak semua pihak untuk terlibat aktif dalam penanggulangan tuberkulosis.
Tema hari TB sedunia (HTBS) tahun 2017 “Gerakan Masyarakat Menuju Indonesia Bebas Tuberkulosis”. Sub Tema : TOSS TB dimulai dari keluarga; TB sembuh, keluarga sehat; Keluarga peduli TB, Masyarakat Sehat; Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TB).
Data menurut survei prevalensi TB oleh Balitbang Kemenkes RI Tahun 2013-2014, angka kasus baru (insiden) TB di Indonesia adalah 399/100.000 penduduk. Jumlah seluruh kasus TB (prevalensi) sebanyak 647/100.000 penduduk (WHO, 2015). Berdasarkan laporan Program Pengendalian TB di Provinsi Bengkulu, pada tahun 2016 telah ditemukan dan dilaporkan kasus TB sebanyak ………… kasus. Padahal dari seluruh populasi penduduk Provinsi Bengkulu, diperkirakan insiden TB pada tahun 2016 sebesar ……/100.000 atau sekitar ……… kasus. Dengan demikian, masih ada sekitar …………… kasus TB yang tidak dilaporkan, sehingga hal tersebut bisa menjadi sumber penularan TB di masyarakat.
Untuk itu, di tingkat kabupaten/kota digiatkan kegiatan “ketuk pintu”, dimana kader mengunjungi rumah-rumah dengan bertujuan untuk menyebarluaskan informasi TB kepada masyarakat serta deteksi dini tuberkulosis. Dilanjutkan dengan merujuk terduga penyandang TB untuk diperiksa dan diobati di fasilitas kesehatan.
Penularan TB
TB disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberkulosis, bukan penyakit keturunan, kutukan atau karena guna-guna. TB menular langsung melalui udara saat batuk, bersin, ketawa atau menyanyi. Bakteri TB akan mati dalam beberapa jam bila di udara terbuka apalagi bila terkena sinar ultraviolet matahari. Bakteri TB dapat bertahan di tempat tertutup yang gelap dan lembab, kuman bisa beberapa jam hingga bulan. Sumber penularan utama adalah dahak penderita. 1 (satu) pasien TB aktif bila tidak diobati dapat menularkan ke 10-15 orang/tahun dengan kontak dekat. Kontak TB yaitu bicara (0-210 partikel), batuk (0-3500 partikel) dan bersin (4500-1juta partikel). Saat ini, muncul tantangan baru bagi pengendalian penyakit TB, misalnya ko-infeksi TB-HIV, TB-DM, TB kebal obat (MDR), TB pada anak dan tantangan lain dengan tingkat kompleksitas yang makin tinggi.
Gejala utama TB adalah batuk berdahak terus menerus lebih dari 2 minggu. Gejala tambahan adalah : Berat badan menurun, sesak nafas dan nyeri dada, nafsu makan menurun, demam meriang berkepanjangan, batuk bercampur darah, berkeringat di malam hari walaupun tidak berkegiatan. Sebagian besar kuman TB menyerang paru-paru, tetapi dapat juga mengenai bagian tubuh lainnya seperti tulang, kulit dll.

Diagnosa TB bisa dilakukan melalui pemeriksaan dahak untuk pemeriksaan bakteriologis. Saat ini tersedia alat Tes Cepat Molekuler (TCM) sehingga diagnosa TB diperoleh dalam waktu 2 jam dari pemeriksaan.
TB dapat diobati sampai sembuh bila minum obat sampai tuntas selama 6-8 bulan. Selama masa pengobatan, diperlukan pemeriksaan dahak pada awal pengobatan, sebulan sebelum masa pengobatan berakhir dan di akhir pengobatan.
Masalah akan lebih besar bila pengobatan tidak tuntas sehingga kuman TB kebal terhadap obat. TB kebal obat (resisten obat/Multi Drug Resistance-MDR) memerlukan pengobatan yang lebih lama (19-24 bulan) dan lebih mahal. TB kebal obat juga dapat menular. Biaya pengobatan TB kebal obat per orang bisa mencapai 200 juta rupiah. Saat ini bagi penderita yang berobat di fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta, dengan menggunakan obat yang disediakan melalui pengelola program penanggulangan TB, ditanggung biayanya oleh Pemerintah RI. Sehingga penting bagi masyarakat untuk mengkonsumsi obat dengan teratur hingga tuntas.
Untuk mencegah penularan, penderita harus menutup mulut saat batuk dan bersin, tidak meludah sembarangan. Tempat tinggal mempunyai ventilasi dan sirkulasi udara yang baik, menjemur alas tidur agar tidak lembab dan bayi diimunisasi BCG.
Acara peringatan Hari TB Sedunia 2017 di Provinsi Bengkulu dilaksanakan di Lapangan Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, tanggal 31 Maret 2017, meliputi senam jantung sehat dan senam aerobic yang dipandu oleh instruktur senam, pemberian buah gratis, pembagian hadiah doorprize serta tanda tangan komitmen dukungan “Ayo…!!! lakukan sesuatu untuk Bengkulu Bebas TB” di atas spanduk. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu bekerjasama dengan Aisyiah Community TB Care Provinsi Bengkulu sekaligus pelepasan balon “Bengkulu Bebas TB” ke udara oleh asisten III Pemerintah Provinsi Bengkulu bersama Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Bapak drg. Edriwan Mansyur, MM. Tema kegiatan ini adalah “Gerakan Masyarakat Menuju Bengkulu Bebas TB melalui aksi Temukan TB Obati Sampai Tuntas (TOSS) di Keluarga.

Masyarakat diajak untuk aktif menemukan kasus TB. Peranan keluarga sangat penting dalam membantu memantau penderita untuk minum obat sampai tuntas. Untuk itu, mari kita dukung dan sukseskan Gerakan Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TB). Salam TOSS….