KONSELING MENYUSUI BAGI PETUGAS PUSKESMAS DI PROVINSI BENGKULU

OLEH : RAHMI SUSWANTI, SKM, MM

Pemberian ASI eksklusif adalah langkah awal bayi untuk tumbuh sehat dan terciptanya sumber daya manusia yang tangguh karena bayi tidak saja akan lebih sehat dan cerdas, tetapi juga akan memiliki Emotional Quotion (EQ) dan Social Quotion (SQ) yang lebih baik.

Kurangnya tenaga terlatih dan gencarnya iklan susu formula menjadi faktor utama kegagalan menyusui di Indonesia. Sehingga banyak ibu yang awalnya menyusui dengan baik dengan tiba-tiba memutuskan untuk memberi susu formula atau makanan padat terlalu dini.

Di samping itu, dipengaruhi juga oleh faktor rendahnya pengetahuan ibu tentang manfaat ASI bagi bayi dan manfaat menyusui bagi ibu, kurangnya kepedulian dan dukungan suami, keluarga serta masyarakat untuk memberikan kesempatan pada ibu menyusui secara eksklusif.

Diketahui bahwa cakupan ASI eksklusif untuk Indonesia menurut data survei sosial ekonomi nasional (susenas) tahun 2006 sebesar 21,2%. Dan telah mengalami peningkatan pada tahun 2010 yaitu sebesar 30,2%.

Untuk itu dibutuhkan suatu upaya untuk meningkatkan pemberian ASI yaitu salah satunya dengan membentuk para tenaga terlatih dalam membantu ibu menyusui melalui peningkatan keterampilan manajemen menyusui dan keterampilan konseling. Konseling menyusui adalah salah satu kegiatan yang memiliki daya ungkit besar dalam rangka meningkatkan pemberian ASI.

Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu memfasilitasi kebutuhan tersebut dengan mengadakan Pertemuan Kapasitas SDM dalam Konseling Menyusui Bagi Petugas Puskesmas Kabupaten/Kota di Provinsi Bengkulu selama 4 (empat) hari dari tanggal 7 s.d 11 September 2015 bertempat di Hotel Latansa Bengkulu. Acara pertemuan ini dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu sekaligus memberikan sambutan kepada para peserta. Dalam sambutannya Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu menyampaikan bahwa petugas kesehatan seperti Saudara dapat membantu ibu-anak agar sukses menyusui. Pemberian bantuan ini sangat penting, tidak hanya sebelum persalinan dan selama kehamilan, melainkan juga sepanjang tahun pertama dan kedua kehidupan anak. Saudara dapat memberikan ibu saran yang bermanfaat agar ibu menyusui bayinya kapan pun, ketika bayi dalam keadaan sehat maupun sakit. Saudara dapat membantu meyakinkan ibu bahwa ASInya cukup, mengatasi masalah menyusui atau ibu yang bekerja tetap dapat menyusui bayinya.

 

Pelatihan ini bertujuan membekali keterampilan dasar dalam konseling menyusui, yang memungkinkan saudara memberi dorongan dan dukungan yang diperlukan ibu yang Saudara rawat untuk lebih berhasil menyusui, ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu.

Pertemuan ini diikuti sebanyak 24 orang peserta yang terdiri dari 20 orang bidan koordinator dari puskesmas dari kabupaten/kota, 2 orang dari Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu dan 2 orang dari Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Untuk puskesmas yang belum, maka akan dilakukan pertemuan yang sama berikutnya pada TOT Konselor Menyusui.

Narasumber pertemuan adalah fasilitator konseling menyusui yaitu Fasilitator dari Pusat (Kemenkes RI) Izra Haflinda, SKM, M. Kes Subdit Konsumsi Makanan Direktorat Bina Gizi, dokter umum dari RSU Ummi dr. Kinanti, Fasilitator dari Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu ibu Heny Widyastuti, SKM, Fasilitator dari Puskesmas Sukamerindu serta narasumber dari Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Bapak Drs. H. Amin Kurnia, SKM, MM dan Kepala Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Dinkes Provinsi Bengkulu ibu Yusniar, SKM, MM. Metode pertemuan berupa ceramah dan tanya jawab serta praktek konseling menyusui dengan mengundang langsung orang tua dengan bayi usia 0-6 bulan sebagai pasien.

Dari pertemuan ini diharapkan dapat memotivasi peserta latih, meningkatkan informasi dan keterampilan menyusui, meningkatkan kemampuan komunikasi dan menjadi tenaga profesional konselor menyusui sehingga nantinya petugas di puskesmas masing-masing dapat memotivasi para ibu, calon ibu, bapak dan mertua serta berbagai elemen masyarakat untuk dapat melakukan pendampingan kepada ibu agar dapat memberikan ASI eksklusif 6 bulan dan tetap melanjutkan menyusui bersama makanan pendamping makanan keluarga sampai setidaknya 2 tahun sehingga dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian bayi.

Konseling sendiri bermakna lebih dari sekedar memberi nasehat. Aspek konseling yang merupakan kegiatan utama dari seorang Konselor Laktasi terdiri dari 2 komponen :

  1. Mendengarkan dan menerima pendapat atau pandangan ibu tanpa menghakimi dan
  2. Membantu ibu untuk menentukan pilihan yang terbaik berdasarkan informasi relevan dan saran-saran yang telah diberikan oleh seorang konselor laktasi.

Karenanya dengan adanya praktek konseling yang dilakukan diharapkan memberi para tenaga kesehatan keterampilan dengan mendengarkan dan membangun percaya diri sehingga mereka dapat membantu para ibu secara lebih aktif.

Upaya Peningkatan pemberian ASI eksklusif yang selama ini telah dilaksanakan perlu dilanjutkan dan terus ditingkatkan. Ketersediaan konselor menyusui di sarana pelayanan kesehatan merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan cakupan inisiasi menyusui dini (IMD) yang selanjutnya meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19 + six =