Oleh Supardi, SH., M.Kes

Bengkulu (22/03/2017) Keberadaan Pos UKK Marwan menarik perhatian Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu. Bertepatan adanya kegiatan Rakontek Bidang Kesehatan Masyarakat Proovinsi Bengkulu yang dihadiri olehPejabat Direktorat Kesehatan Lingkungan dan Kesjaor Kementerian Kesehatan RI, maka kami mengajak pejabat tersebut untuk melihat langsung ke lokasi Pos UKK tersebut.

Pos UKK Marwan ini memang baru berdiri di bulan November Tahun 2016 beranggotakan 10 orang pekerja. Adapun pekerja ini merupakan karyawan usaha kerupuk Marwan. Lokasinya terletak di samping Masjid…. Tepatnya kelurahan Sawah Lebar dan merupakan wilayah binaan Puskesmas Sawah Lebar.

Bu dr. Rusmiyati, MQIH selaku kepala Subid. Kesehatan Kerja dan Olahraga  Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI sekira pukul 10.30 wib tiba di lokasi Pos UKK Marwan didampingi dua orang stafnya disambut oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Provinsi Bengkulu, Kepala Seksi Kesling dan Kesjaor Provinsi, Kepala Seksi Kesling Dinas kesehatan Kota Bengkulu, Kepala Puskesmas Sawah Lebar dan Pengelola Program Kesjaor Puskesmas beserta kader Pos UKK. Satu canda ria yang dilontarkan Bu Rusmiyati apakah Marwan bisa berbahasa Bengkulu yang dijawab dengantersipu ya bisa karena saya memang sudah 35 tahun tinggal di Bengkulu.

 

Rombongan dari Kemenkes RI disambut Kabid. Kesmas Provinsi dan KotaBengkulu serta berdiskusi di Pos UKK Marwan

 

Selanjutnya rombongan masuk ke rumah Pak Marwan yang sekaligus dijadikan tempat Pos UKK Marwan. Kemudian terjadilah perbincangan seputar kegiatan Pos UKK. Pak Marwan menceritakan bahwa Pos UKK yang didirikannya tidak lepas dari binaan Puskesmas Sawah Lebar yang sering berkunjung di Pabbrik Kerupuk Marwan yang mereka rintis sejak tahun 2009. Jumlah karyawan yang mereka milikiki berkisar 10 orang dengan pekerjaan yang juga menggunakan peralatan untuk membuat adonan, cetakan kerupuk, pemanasan dan penggorengan serta pembungkusan.

Dikisahkan beliau bahwa kerupuk yang diproduksinya menggunakan bahan pewarna makanan sebagaimana yang diperbolehkan atas saran badan POM ketika memeriksa bahan di Pabrik Kerupuk miliknya. Berkali-kali pabrik kami ini diperiksa dan belum pernah ditemukan bahan berbahaya. Dijelaskannya kerupuk yang tidak laku terjual diambilnya kembali dan dijadikan bahan untuk menghidupkan api sehingga pabrik kerupuk yang mereka kelola ini relatif tidak mencemari lingkungan karena sampah yang ada habis terbakar setiap harinya.

Masalah yang dihadapinya adalah proses pengeringan kerupuk hasil cetakannya memang sangat bergantung dengan panas matahari. Dibutuhkan waktu sekitar dua hari bila hari panas sedangkan bila hari hujan bisa sampai 4 hari baru kering dan bisa digoreng.

Saat ditanya apakah pekerja yang ada dijamin melalui BPJS? Pak Marwan menjawab hanya keluarganya saja yang terdaftar dalam BPJS, yaitu dirinya, istri dan dua orang anaknya. Sedangkan karyawannya tidak ada yang terdaftar dalam BPJS karena jarang ada karyawannya yang bertahan lama atau lebih dari setahun, menurutnya bekerja di sini kurang bebas sehingga sering terjadi gonta-ganti karyawan. Itulah sebabnya kami mendirikan Pos UKK.

 

Proses menggunakan mesin adonan dan kerupuk dibungkus

Apa yang diperoleh dari terbentuknya Pos UKK? Menurut Pak Marwan salah satu keuntungan yang diperolehnya adalah adanya kunjungan petugas kesehatan ke Pos UKK setiap bulannya, sehingga karyawan kami dapat memeriksakan kesehatannya  atau berkonsultasi secara gratis tanpa harus ke Puskesmas, selain itu pabrik kami juga sering diperiksa dan ini membantu kami untuk menyarankan kepada pekerja agar mempergunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan masker saat bekerja membungkus kerupuk serta kami lebih menjaga kebersihan dari tempat usaha kami ini.

Bu dr. Rusmiyati menjelaskan bahwa, Pos UKK merupakan wadah pelayanan kesehatan kerja yang berada di tempat kerja dan dikelola oleh pekerja itu sendiri (kader) dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja untuk meningkatkan produktivitas kerjanya. Pos UKK diperlukan untuk mengadakan pelayanan kesehatan kerja di bawah binaan puskesmas yang ditujukan untuk kelompok masyarakat pekerja seperti buruh, petani, nelayan, perajin dll. Fungsi Pos UKK adalah melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi dan motivasi tentang kesehatan kerja, melaksanakan kerjasama dengan sektor terkait sesuai jenis lapangan pekerjaannya, mengadakan pelayanan kesehatan kerja dasar terbatas.

Keberadaan Pos UKK perlu ditunjang adanya keberadaan kader. Adapun fungsi kader antara lain : pembina dan penanggung jawab pelayanan kesehatan kerja, pelaksana pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) dan pertolongan pertama pada penyakit (P3P), koordinator penyediaan fasilitas alat keselamatan kerja, serta koordinator kegiatan pencatatan dan pelaporan

Pos Upaya Kesehatan Kerja (UKK) merupakan upaya kesehatan kerja bagi pekerja informal yang bersumberdaya dari, oleh dan untuk masyarakat pekerja itu sendiri. Kegiatan yang dilakukan meliputi upaya promotif, preventif dan pengobatan sederhana yang bersifat pertolongan pertama pada kecelakaan dan pertolongan pertama pada penyakit. Penekanan terhadap upaya promosi dan preventif guna mengubah perilaku para pekerja untuk mengurangi atau menghilangkan risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja, serta upaya meningkatkan kesehatan pekerja.

Pembentukan Pos UKK perlu ditingkatkan, mengingat banyak Pos UKK yang telah berkiprah dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anggotanya. Disisi lain masih banyak kelompok pekerja informal yang belum tersentuh pelayanan kesehatan kerja.

Jangan sampai Pos UKK hanya dibentuk saat kelompok kerja membutuhkan pemecahan masalah kesehatan saja, seyogyanyalah Pos UKK dibentuk di lokasi kelompok pekerja dengan jumlah minimal 10 pekerja dan maksimal 50 pekerja, serta diutamakan dari jenis pekerjaan yang sama. Ada bebrapa pos UKK  antara lain : nelayan, petani padi/sawah, petani sawit/karet/kopi/perkebunan, pengrajin batik/tenun/kayu, pengrajin makanan/minuman, dan lain sebagainya.

Pos UKK diperlukan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang meliputi peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan pengobatan sederhana bagi masyarakat pekerja yang berisiko terpajan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja sehingga merekamampu menolong dirinya sendiri (Depkes RI, 2006).

 

Demikian pembinaan yang disampaikan Kepala Subid. Kesehatan Kerja dan Olahraga Direktorat Kesehatan Lingkungan dan Kesjaor Kemenkes RI di Kota Bengkulu tepatnya di Pos UKK Marwan Sawah Lebar Bengkulu.

Foto bersama Tim dari Kemenkes RI dengan kader,dan pembina provinsi, kota dan puskesmas