Oleh Eka Rindiawati, SKM., M.Si

Rabies atau sering disebut penyakit anjing gila merupakan penyakit zoonosa penting di Indonesia karena penyakit tersebut tersebar luas di 24 provinsi, termasuk Provinsi Bengkulu. Rabies merupakan suatu penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies (lyssa virus), ditularkan melalui gigitan, cakaran atau jilatan dari hewan yang mengidap rabies seperti anjing, kucing, monyet dan kelelawar. Rabies sudah dikenal sejak berabad-abad lalu dan sangat menakutkan bagi manusia karena angka kematiannya (case fatality rate) mencapai 100%. Penyakit ini menyebabkan penderita tersiksa oleh rasa haus namun sekaligus merasa takut terhadap air (hydrophobia). Rabies bersifat fatal baik pada hewan maupun manusia, hampir seluruh pasien yang menunjukkan gejala klinis rabies akan berakhir dengan kematian,

Provinsi Bengkulu belum dinyatakan sebagai daerah bebas rabies karena selalu ada kasus kematian akibat rabies setiap tahunnya baik pada hewan maupun manusia. Hingga saat ini belum ada pengobatan yang efektif untuk menyembuhkan rabies namun penyakit ini dapat dicegah melalui penanganan kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) sedini mungkin.

 

Situasi GHPR dan Rabies di Provinsi Bengkulu

Kasus GHPR di Provinsi termasuk tinggi, dengan kasus lyssa (kematian karena rabies) yang selalu terjadi pada lima tahun terakhir

 

                                                                                              

Penyebab Rabies

Rabies  merupakan penyakit zoonotik yang disebabkan oleh virus RNA, termasuk familia Rhabdoviridae, genus lyssa. Bentuk virus menyerupai peluru (silindris). virus memiliki membran selubung yang mengandung lemak. Pada bagian luar membran tersebut terdapat tonjolon berjumlah lebih dari 500 buah. Panjang virus 180 nm dengan diameter 75 nm.

Virus rabies mudah mati oleh sinar matahari dan sinar ultraviolet, pengaruh keadaan asam dan basa, zat pelarut lemak, misalnya ether dan kloroform, NA deoksikolat dan air sabun (Akoso, 2007). Oleh karena itu sangat penting melakukan pencucian luka dengan menggunakan sabun sesegera mungkin setelah gigitan atau jilatan hewan penular rabies untuk membunuh virus rabies yang berada di sekitar luka gigitan.

 

Cara Penularan dan Masa Inkubasi

Rabies ditularkan melalui gigitan, cakaran atau jilatan pada kulit terbuka/mukosa oleh hewan yang terinfeksi virus rabies. Berdasarkan data dari Seksi P2PM Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, sebagian besar kasus GHPR tahun 2016 disebabkan oleh Anjing, yaitu sekitar 73%, sisanya adalah gigitan kucing dan kera.

 

Masa inkubasi penyakit rabies sangat bervariasi, yaitu 2 minggu sampai 2 tahun, artinya jika seseorang digigit anjing rabies hari ini dan tidak melakukan upaya pencegahan, gejala klinis akan muncul 2 minggu kemudian atau bahkan dua tahun kemudian.  Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu

  1. Strain/jenis virus rabies
  2. jumlah virus yang masuk
  3. kedalaman luka gigitan
  4. lokasi gigitan, semakin dekat jarak luka gigitan ke otak, maka gejala klinis akan lebih cepat muncul, oleh karena itu luka gigitan di daerah bahu ke atas merupakan luka risiko tinggi

  5. banyaknya persarafan di wilayah luka (seperti di jari)
  6. imunitas penderita

Menurut  WHO, rata-rata masa inkubasi penyakit rabies ini adalah 30 – 90 hari.

 

Gejala Klinis rabies pada manusia

Untuk mendiagnosa rabies pada manusia cukup melihat gejala klinis dan riwayat gigitan hewan penular rabies (HPR) tanpa perlu pemeriksaan laboratorium, karena gejala klinis yang ditunjukkan pada pada penderita rabies sangat khas,

  1. Tahap Prodromal

Pada tahap awal gejala yang timbul adalah demam, lemas. lesu, tidak nafsu makan/anorexia, insomnia, sakit kepala hebat, sakit tenggorokan dan sering ditemukan nyeri

  1. Tahap sensoris

Pada tahap ini sering ditemukan rasa kesemutan atau rasa panas (parestesi) di lokasi gigitan, cemas dan reaksi berlebih terhadap rangsang sensorik

  1. Eksitasi

Pada tahap ini penderita mengalami berbagai macam gangguan neurologic, penderita tampak bingung, gelisah, mengalami halusinasi, tampak ketakutan disertai perubahan perilaku menjadi agresif, serta ada bermacam-macam fobia, yaitu hidrofobia (takut air), aerofobia (takut udara), fotofobia (takut cahaya). Hidrofobia merupakan gejala khas penyakit rabies karena tidak ditemukan pada penyakit enchepalitis lainnya.  Gejala lainnya yaitu kejang otot, hipersalivasi (ludah banyak), hiperlakrimasi (produksi air mata banyak), dan dilatasi pupil. Setelah beberapa hari pasien meninggal karena henti jantung dan pernafasan. Dari seluruh penderita rabies sebanyak 80% akan mengalami tahap eksitasi dan lamanya sakit pada tahap ini sekitar 5-7 hari.

  1. Tahap Paralisis

Tahap ini ditandai dengan paralisis otot secara bertahap dimulai dari bekas luka gigitan/cakaran.

 

Pencegahan rabies pada manusia

Hal pertama dan sangat penting dalam pencegahan penularan rabies pada manusia setelah terjadi gigitan/jilatan HPR pada bagian tubuh yang luka adalah cuci luka dengan menggunakan sabun di air mengalir selama 15 menit atau lebih,. Hal ini tentunya dapat dilakukan oleh siapapun sebelum mendapatkan pertolongan selanjutnya di layanan kesehatan. Pencucian luka harus dilakukan sesegera mungkin, yang terbaik adalah kurang dari 12 jam, dengan tujuan untuk mematikan virus yang masih berada di sekitar luka gigitan. Mengapa dengan sabun ?? hal ini terkait dengan selubung luar dari virus lyssa yang terdiri dari lipid (lemak) dan tentunya akan larut dengan sabun. Pencucian luka tidak perlu disikat atau digosok kuat karena justru akan menimbulkan luka yang lebih besar atau luka yang baru sehingga virus semakin banyak yang masuk ke tubuh. Pemberian anti septic, VAR maupun SAR adalah penatalaksanaan selanjutnya untuk mencegah penularan Rabies pada manusia. Pemberian VAR dan SAR perlu mempertimbangkan beberapa hal seperti kondisi hewan yang menggigit, hasil observasi hewan, hasil pemeriksaan laboratorium specimen otak hewan serta kondisi luka yang ditimbulkan.

 

Vaksinasi untuk mencegah terjadinya rabies juga sangat penting diberikan bagi mereka yang beresiko terpapar virus rabies seperti tenaga medis yang merawat pasien rabies, dokter hewan, vaksinator hewan, petugas di rumah pemotongan hewan, dan petugas laboratorium hewan.

Upaya mencapai Eliminasi Rabies

Indonesia memiliki tantangan besar yaitu mewujudkan Indonesia bebas rabies tahun 2020, hal tersebut sesuai dengan kesepakatan pertemuan Negara-negara Asean yang akan berupaya mewujudkan Asean bebas rabies tahun 2020. Oleh karenanya, upaya dan komitmen pemerintah pusat, provinsi hingga daerah harus semakin dikuatkan. Pengendalian rabies harus dilakukan secara terintegrasi, yang kita kenall dengan konsep “one health”. Penguatan sektor hulu, yaitu peternakan sangat penting, karena rabies pada manusia bisa dicegah atau dikendalikan hanya jika rabies pada hewan piara terutama anjing dan kucing dapat diberantas. Peran masyarakat pun sangat menentukan keberhasilan pemerintah dalam menanggulangi rabies di Provinsi Bengkulu. Kesadaran masyarakat dalam program vaksinasi hewan piara sangatlah penting, dan juga pemahaman terhadap penanganan luka dan penanganan lanjutan yang harus dilakukan jika mengalami gigitan hewan penular rabies juga memiliki peranan penting.

Penatalaksanaan kasus GHPR yang tepat merupakan upaya pencegahan terjadinya kematian karena rabies pada manusia. Oleh karenanya, Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu melakukan sosialisasi tentang diagnosa dini, penatalaksanaan kasus GHPR dan Rabies ke petugas kesehatan di kabupaten/kota dan juga rumah sakit

Di beberapa kabupaten, seperti Mukomuko dan Bengkulu Selatan, yang kasus GHPR nya selalu tinggi, Dinas Kesehatan pernah melakukan sosialisasi tentang rabies untuk seluruh puskesmas tahun 2012. Dinas Kesehatan Provinsi juga melakukan koordinasi dengan lintas program dan lintas sector terkait (Puskesmas, Rumah Sakit, dan KKP), peternakan dan Pemerintah Daerah) untuk pengendalian rabies melalui kegiatan pertemuan lintas program dan lintas sector P2 Zoonosis tingkat Provinsi Bengkulu. kegiatan ini sebagai upaya untuk menguatkan koordinasi dan kemampuan petugas  di sector kesehatan (Puskesmas, Rumah Sakit, dan KKP), peternakan dan Pemerintah Daerah. Pada tahun 2016, Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu juga mensosialisasikan rabies ke tenaga kesehatan, kurang lebih 78 orang di tiga kabupaten, yaitu kabupaten Lebong, Kabupaten Bengkulu Tengah dan Kabupaten Bengkulu Utara.

Rencananya pada tahun 2017 ini, Dinas Kesehatan kembali akan melaksanakan peningkatan kapasitas SDM dalam diagnosa dini dan tatalaksana kasus zoonosis  baik yang dilaksanakan tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten, terutama untuk kabupaten yang pernah melaporkan kasus lyssa. Harapannya, tahun ini tidak terjadi lagi kasus kematian karena rabies pada manusia.

Dokumentasi kegiatan peningkatan kapasitas SDM ini sudah dipresentasikan dalam bentuk poster presentasi pada Workshop Pengendalian Zoonosis, yang diselenggarakan oleh Subdit Zoonosis Ditjen P2PTVZ Kemenkes RI pada tanggal 08 – 11 Maret 2017 lalu, dan alhamdullilah Poster Presentasi Provinsi Bengkulu mendapatkan Juara Harapan II tingkat nasional. Tentunya penghargaan ini menjadi penyemangat kita dalam meningkatkan upaya penanggulangan rabies di Provinsi Bengkulu, sehingga tidak ada masyarakat kita yang menjadi korban rabies lagi.

  1. Tim Koordinasi Pemberantasan Rabies (TIKOR) belum aktif dalam mengupayakan penanggulangan rabies

  2. Penanganan kasus gigitan masih bertumpu pada pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) yang masih diharapkan dari dana APBD yang terbatas. Bahkan tidak ada dana kegiatan untuk sosialisasi rabies bagi petugas puskesmas tentang tatalaksana kasus rabies sangat diperlukan mengingat kasus GHPR yang masih tinggi, apalagi petugas di puskesmas masih banyak yang belum terpapar dengan pengetahuan tentang tatalaksana kasus rabies, termasuk cara pengobatan Pasteur yang saat ini digunakan.

  3. Penyediaan VAR oleh daerah sangat terbatas dan lebih banyak mengharapkan penyediaan VAR di Provinsi. Stok VAR di setiap UPK juga tidak selalu ada.

  4. Masyarakat banyak yang belum mengetahui bagaimana penanganan pertama ketika digigit oleh hewan penular rabies, yaitu dengan cuci luka. Selain itu, masyarakat sering kali langsung membunuh hewan yang menggigit tanpa diobservasi terlebih dahulu. Tujuan mengobservasi hewan penggigit adalah untuk menentukan apakah VAR diberikan secara lengkap atau bisa dihentikan, ketika hewan penggigit sudah dibunuh, mau tidak mau VAR harus diberikan lengkap sebanyak 4 (empat) suntikan. Sayangnya, masyarakat belum banyak terpapar mengenai penanganan kasus ini dan untuk melakukan sosialisasi ini ke masyarakat seringkali terkendala dana

  5. Media KIE yang terdapat di Provinsi Bengkulu sebagai sarana penyuluhan sangat

 

  1. Solusi ke depan
  1. Adanya koordinasi dengan lintas sektor terkait (Dinas Peternakan) dalam hal menanggulangi hewan – hewan penular rabies

  2. Perlunya dukungan dana dalam rangka mensosialisasikan program P2 rabies ke tenaga kesehatan maupun masyarakat umum secara lebih intensif. Kegiatan penyuluhan oleh instansi kesehatan baik tingkat puskesmas maupun kabupaten/kota hendaknya dilakukan pada berbagai kesempatan, dengan menggunakan berbagai media seperti leaflet, spanduk, baliho, media cetak/elektronik, maupun penyuluhan langsung pada berbagai pertemuan baik formal maupun informal.

  3. Stok VAR di Provinsi harus lebih terkontrol dan berkesinambungan

  4. Perlu pelatihan penatalaksanaan p2 rabies untuk petugas Kabupaten/ Puskesmas.

  5. Meningkatkan kualitas pencatatan dan pelaporan kasus GHPR sesuai format laporan yang ada di buku Pedoman Pelaksanaan Program Penanggulangan Rabies. Pelaporan kasus GHPR/rabies harus secara rutin disampaikan dari puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

  6. Seluruh laporan yang diterima dari puskesmas dicatat dan dianalisis serta dilakukan pemetaan wilayah endemis rabies per kecamatan/kelurahan

  7. Hasil analisis laporan dari Dinas Kesehatan Kabupate/Kota disampaikan kepada Dinas Kesehatan Provinsi, yang nantinya diteruskan ke Kementerian Kesehatan. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota maupun Provinsi juga menyampaikan data situasi kasus gigitan secara rutin ke Dinas Peternakan.